Skip to main content

Posts

Showing posts with the label hari-hari

Durung wayahe

Yaaa...mari fokus dulu ke acara yang udah jadi tanggung jawab *dadah-dadah ke Myanmar

[logo] Marketing's Angel

Sooo, yesterday I had a request to makes a paper layout...and accidently made it.

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...

Akhirnya, MLP

Yeah, akhirnya kesampaian juga nonton Musikal Laskar Pelangi. Diam-diam, ekspektasi saya yang cukup tinggi pada adaptasi Novel Andrea Hirata ini akhirnya terlunasi. Sebelumnya, saya ga mau memasang harapan tinggi-tinggi dari Drama Musikal ini. Sekian tahun mengikuti tulisan Andrea Hirata, sejujurnya saya bosan. Ia tidak banyak beranjak untuk menulis selain dari kehidupan pribadinya. Memang apa yang ia tuliskan menghadirkan nuansa baru pada novel-novel di rak toko buku. Kehidupan, bahasa, dan juga celetukan kehidupan akar rumput di Belitong sana. Apalagi jika kemudian, Laskar Pelangi seolah menjadi one hit maker. Satu terbitan bagus dari tulisan Andrea Hirata, setelah itu sudah. Jujur aja sih, habis Laskar Pelangi, novel lainnya belum sebaik nasibnya dengan sang pendahulu. Pendapat itu juga mungkin dikarenakan saya sering membaca karya novelis yang senang berganti tema, tapi tetap terasa nuansa penjiwaannya. Simpel, sederhana, tapi mengena. Kalau detilnya karya siapa, itu Dee . Di bel...

Jajanan Pasar

Setiap berjalan ke pasar, jajanan pasar selalu sukses membuat saya berhenti sejenak dan kemudian gatal buat merogoh kantong demi beberapa potong kue basah atau cemilan. Jenisnya yang beragam, harga yang terjangkau dan juga obrolan kecil bersama pedagang membuat saya betah dan tak pernah kapok untuk selalu melakukannya.  Di Jogja sendiri, ada dua Pasar yang sering saya rekomendasikan untuk jajanan pasarnya. Pasar pertama adalah Pasar Demangan. Seorang senior memperkenalkannya ketika suatu hari saya meminta tolong buat mencarikan konsumsi buat sebuah acara. Posisinya tidak terlalu jauh dari Kampus UNY maupun UGM, tepat di pinggir jalan Gejayan. Letaknya yang tak jauh dari jalan ini juga yang kemudian sering menimbulkan kemacetan. Los yang menjual jajanan ini terletak di tengah-tengah pasar. Jika orang nggak ngerti, akan sedikit sulit menemukannya.  Pasar lain yang saya rekomendasikan untuk mencari jajanan pasar adalah Pasar Kranggan. Berbeda dengan Pasar De...

Bahagia

Sering kita lupa arti bahagia ketika sebenarnya anak-anak sangat mengenalnya tanpa beban, tanpa kata dewasa, dan juga terpaksa

Sang Ratu: Person of the year 2011

Dalam hati, sulit sebenarnya untuk menggambarkan seseorang yang bisa dikatakan benar-benar mempengaruhi kisah saya di tahun 2011. Sempat mencoba menuliskan sebuah nama, namun justru itu membuka luka lama. Kami berdua sama-sama terluka. Dan saya sendiri sadar, kami berdua masih mencoba untuk percaya, bahwa tali yang terlanjur saling mengikat, pelan-pelan diurai dan kemudian dirangkai menjadi sebuah rajutan dengan bentuk yang berbeda. Di saat yang sama, saya sangat mencintai, sekaligus benci. Justru karena saya sayang kepadanya. Lantas, saya mencoba untuk melihat kembali. Seseorang yang pantas untuk saya cantumkan namanya di dalam tulisan ini. Seseorang yang mungkin diam-diam tak tahu bahwa terkadang ia mampu menopang isi kepala, sekaligus beban yang tersimpan di dalam dada. Tetap mengingatkan ketika tubuh ini nyaris terbang, menjadi air di saat amarah membakar merah, atau kemudian mengajak berbincang di kala hati ini bimbang. Saya tak tahu, apa yang ada di kepalanya, dan apa yang ia bay...

Pepohonan sunyi

Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan. Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam. Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar. Di sudut pintu rumah aku terdiam. Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu. Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya. Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir. Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang. Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu. Tapi aku terlalu malu tuk akui itu. Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang. Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun. Sejak kapan, aku pun tak tahu wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga. Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil. berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil. manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga. layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan demi sebuah struk gaji pokok bulanan untuk itulah, kisa...

Hilang...

Tersangkut dan tercerabut maut

Mungkin butuh seribu pesan pendek penuh kesedihan untuk membuatmu sadar

Semalaman tubuh itu bungkam. Tak ada yang mampu membuatnya bangkit dan berpindah ke sebuah titik yang mungkin lebih nyaman. Sementara pagi pelan-pelan merambat. Menyisipkan satu garis tipis cahaya ke dalam retina bola mata. Perih, tapi tak ada yang bisa membuatnya sadar jika kemudian tubuhnya hilang. Tenggelam dalam bayang-bayang bangunan kosong nan sombong. "Aku rasa, cukuplah hidupku dalam siklus yang tak bertepi ini" Ia bercerita panjang tadi malam. Membagikan satu-satu kisah reinkarnasi yang ia hadapi setiap akan mati. Semuanya tetap terekam dan tak ada yang bisa bilang kalau itu hanyalah bualan. Terlalu datar dan terkesan membosankan mendengar seseorang berbicara mengenai kehidupan yang sebenarnya tak bisa kita lihat dan rasakan.  Yah, ia sendiri tak tahu mengapa ia hidup kembali dalam sosok tanpa hati. Merasakan kehidupan yang terulang tanpa tahu apa saja yang hilang. Kehilangan teman dan juga orang-orang yang tak ia temukan di dalam sembilan ratus siklus kemudian. Sem...

Tuk dunia

Hey dunia di ujung baka tak usah kau usik malam berkepanjangan di hati orang-orang penuh harapan tempatmu tersaji surga neraka percayalah, hanya ingatkan bajingan penuh dosa entah lelah baju basah keringat cinta atau muntah penuh amarah setelah mabuk dalam mimpi buruk.

Relawan dadakan

Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata. Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan. Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang s...

Semata Wayang

Wayang itu membosankan. Bahasanya aneh, juga instrumen yang digunakan ketinggalan jaman. Pendapat seperti itu sering saya dengar. Terutama jika sang pengemuka pendapat bukan asli Jawa. Makin setujulah saya dengan pendapat tersebut. Udah mainnya malam, harus begadang, musiknya juga bikin ngantuk. Lengkaplah wayang sebagai dongengan sakti pengantar tidur. Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil. Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto. Saya diajar beliau selama 3 semester. Semuanya berfokus pada kebudayaan dan juga pertunjukan. Diajarkan bagaimana melihat dan meng...

Mengusir Hujan

Pawang bingung mantranya kabur kalah sakti oleh doa petani menangis dompetnya krisis karena alam sok ekstrimis

Mengulang

Semester ini saya mengulang 2 mata kuliah. Yang satu matkul semester 1 dan satunya matkul semester 3. Cukup untuk membuat beberapa kepala menggeleng. Saya nggak bilang saya pintar. IPK saya juga standar-standar aja. Cuma, kenapa justru mata kuliah yang termasuk mudah harus saya ulang, sementara mata kuliah lainnya tidak. Mata kuliah lain yang justru banyak diulang oleh teman seangkatan saya. Mengulang itu nggak gampang. Perasaan itu jelas-jelas kerasa. Kebayang nggak ketemu teman sekelas dengan semangat yang sama. Dan saya sedikit banyak menyesalinya. Tahu gitu mending duduk di perpus dan menggali skripsi-skripsi dari tahun sebelumnya. Adik angkatan saya memiliki isi kepala berbeda. Bayangkan jika kemudian kecepatan mereka menanggapi sebuah masalah dibandingkan dengan kakak angkatannya yang pernah menghadapi masalah yang sama. Berbeda jauh. Perasaan inilah yang akhirnya membuat saya makin malas bertemu mereka. Mengulang kuliah rasanya kosong, nggak dapat apa-apa. Yah, bukan waktunya bu...

Menjelang pensiun

Aku nggak bermaksud buat jadi agen iklan rokok pas memilih judul ini. Sekedar terinspirasi tulisan Nadia Balada Hari Tua. Pada akhirnya, aku juga akan menjadi seperti mereka. Menjadi Mahasiswa yang akan pensiun dan mulai berteman dengan yang namanya kenyataan. Lulus kuliah, berkerja, menikah, punya anak, dan pensiun. Sangat sederhana sekali. Dan aku nggak mau hidupku cuma jadi seperti itu. Sumpah, kaya gitu bosenin banget. Aku hanya berfikir, masihkah mimpi di saat kami bermain-main sambil kuliah ini akan menjadi kenyataan. Dunia mahasiswa memang membuat semua orang sedikit lupa dengan kenyataan. Bertemu teman dengan satu pandangan, saling memotivasi dan menyelipkan canda tawa di dalamnya. Semuanya terasa menyenangkan dan terlalu berat dilupakan. Sekedar bisa menjadi pegangan saat tekanan mulai dirasakan. Mungkin di akhir tahun kami akan berkata, berat rasanya meninggalakan semua yang ada. Ya, itu nggak mudah. Tapi, tidur panjang ini harus diakhiri. Nggak mungkin kan terus bermimpi. W...

Connecting people, not collecting

Paradigma ini entah samapai kapan akan terus bertahan. Menambah daftar teman, ngupdate, dan akhirnya menjadi ajang narsis-narsisan. Kalau ada yang peduli, ato perhatian, maka komen terus berdatangan. Sementara itu, di sudut sana bersembunyi manusia-manusia yang akan mencari celah dan mengambil keuntungan. Nyomot data sekaligus pengawas pribadi rahasia Wake up guys! It's not only an application on your monitor guys!!! these are whole parts on your life. And you keep ignore what happened with it. Ya, banyak orang dengan santainya mengumbar seluruh bagian kehidupan mereka di jejaring sosial. Tanpa batas, tanpa aturan. Mengoceh nggak karuan dan akhirnya marah ketika ada reaksi yang bertentangan. Padahal, masalah itu mencuat di detik saat akhirnya satu tombol ditekan. Di sisi lain, permintaan untuk menjadi teman seakan menjadi satu aturan tak tertulis untuk dilaksanakan. Ketika akhirnya penolakan datang, ada satu emosi tak enak hati tak bisa dikekang. Umpatan muncul dan hubungan baik ha...

Kepribadian

Aku cuma bisa bilang, aku sendiri nggak tahu diriku. Mengejutkan memang. Tapi itu kenyatannya. Ketika orang bilang, bagaimana mungkin aku bisa mengubah kepribadian hanya dalam selang waktu yang tidak lama. Membuat semua berfikir, ketika perubahan itu terjadi ada yang salah dengan diriku. Jadi, kepribadian mana yang aslinya itu diriku sendiri? Kebanyakan bilang, itu topeng. Memakai topeng sesuai tempat dan juga keadaan. Munafik? Untuk sebagian orang, mereka akan bilang ya. Buat aku, nggak. Ada satu kunci yang tetap akan kupegang sampai terkadang membuat orang lain berpindah jalan. Berpisah, atau justru bergabung dengan langkah yang kupilih. Semua orang akan menghargai kejujuran. Semua orang akan melihat, seberapa fleksibelkah kejujuran itu sendiri. Meski pahit, meski akhirnya membuat kita hanya bisa berfikir sempit. Itu saja. Itu yang aku usahakan tetap ada di dalam diri. Jujur pada diri sendiri. Meskipun aku akhirnya seringkali berubah kepribadian, tapi aku hanya bisa berharap, kejujur...

Ini bukan cuma soal selesai

Menyalahkan orang lain secara terbuka di depan umum, jejaring sosial, juga media. Aku nggak suka itu. Masalah jadi tambah panjang, orang nggak berkepentingan ikut masuk, dan akhirnya, hubungan jadi buruk. Finally, is it the best way to fix you problem? Nope. Tapi, mau gimana lagi. Sulit rasanya sekarang untuk membuat orang lain mengerti. Semua seolah menuntut dimengerti, tapi nggak ada yang mau mengerti. Yah, banyak yang memilih buat menyelesaikan sebuah permasalahan dalam bayangan kepalanya sendiri. Mencoba memenuhi tuntutan-tuntutan banyak orang. Berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetep aja, nggak ada yang merasa puas. Bukan soal perbedaan standard yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri dalam memaksimalkan apa yang ada. Pernah denger istilah, rantai terkuat, adalah rantai yang terlemah. Maksudnya, kita sering ngelihat di sekitar, banyak orang-orang yang merasa dirinya lemah. Tapi, apakah mereka akhirnya menyalahkan ketidakmampuan mereka? Ng...