Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kata-kata indah

Sekelebat gelap untuk salam sampai jumpa di tengah sesat sesaat

Mereka pernah berkata "Jangan sampai kau tersesat" Dan tak ada penjelasan singkat yang padat Berbusa seribu detik dikali sejuta kesempatan Tanpa ada pengalaman Ada apa di balik sesat. Sesat. Sesaat. Bangsat Terakhir jebakan tersemat di setiap akhir kalimat "Demi tuhan, selamatkan mereka yang tersesat" Tanpa jeda tongkat kayu palang dicungkat Oleh mereka pembawa jubah selamat Sesat. Gelap. Keparat. Bermandikan keringat Panas tubuh berselimutkan obat Sampai juga batas sungai susu akhirat terteguk di antara manisnya debu-debu kiamat menggelegak amarah para juru selamat Jahannam!!! Mampus kau terbakar neraka keramat

Bentuk kelima

Praduga, saat mata ada tiga juta ketakutan, dalam dekapan kaki delapan angkara, tertusuk dua duri beracun dengki, oleh sayap hitam di tengah malam Sebelumnya tiga juta mata hidupi nyanyian punai pagi kaki delapan singkirkan denging penghisap darah dua gigi beracun menelan benih-benih kelaparan dan sayap hitam sengaja tebarkan pepohonan. Lantas Tanpa tahu semua rindu mengecap sisa sia-sia kenangan yang tak akan pernah merdu semua hanya menyisakan gambar terhampar. Hambar.

Jangan takut akan gelap

Tanpa tahu siapa diriku tanpa tahu siapa dirimu kelak di saat waktu berlalu tapi pelan-pelan tangan ini menggenggam entah itu mereka katakan ilusi tapi lelah ini kelak kan berikan cerah Pada waktu yang kan hinggap kadang ia terasa sangat cepat kadang ia melambat dan di depan masih panjang mungkin karena hanya satu yang pasti gelapnya mata di saat mati Dan memang tak ada yang pasti selain hati yang terobati selain hati yang dapat dibagi pada bidadari penjaga mimpi

Domba-domba nakal

Manusia pemakan rumput meranggas, kering, bungkil, kerdil. Daud dan Jalut atau David bertemu Golliath. Huma kardus terendus bau hangus. Obat nyamuk membakar hunian pinggiran. Tanpa ada tangan nyalakan kehangatan. Katakan serigala berdansa. Siang, malam, senja diantaranya. Menarik hati sang gembala, berburu kenakalan dosa-dosa manusia, terbitkan lapar Homo homini lupus Hangus. Bersama tusuk bambu. Disantap lezat. Padat. Di belakang restoran tergantung paha kaki dan iga-iga domba sekarat

Derajat matahari

Jejak panjang kepul asap pesawat membelah udara jam 10 katanya, dari Jogja ke pojok Kota Pontianak Panjang bayang-bayang di saat matahari berpendar Membujur, di atas tugu ekuator. antara Januari ke bulan Juni lantas panas lembab kaburkan sembab mengalir sungai mungil, semenjak jembatan layang hilang pendek sekali kau kata, jalur landing sebelum ia terbanting

Reminder

Kita selalu tahu setelah apa yang terjadi di masa lalu sekedar tahu, dan malu. lantas ia terpendam tuk hilangkan ragu memilih, memilah, dan terpisah. supaya tak ada lagi susah jalan ini adalah pilihan, maka perjuangkan pengorbanan. seberapa dalam kepuasan ini terkecap sedalam itu kelegaan pada akhirnya kita rasakan. karena setiap keinginan harus ada yang dikorbankan. tuk melihat keberuntungan, setelah berjuang bertemu kesempatan tak semua hal bisa kita dapatkan. karena kita bukan tuhan karena akhirnya kita berjuang, dan meletakkan hasilnya karena itu doa ini kupanjatkan

Kabar hujan di tengah malam

Belum kering gerimis tengah malam hangat tom yam atau bumbu kari menyelimuti gorengan tipis, seperti gerimis di tengah malam kapan lalu singkat kata terbaca buat apa lelaki di dunia, sekedar pelengkap wanita kupercaya sebaliknya belum kering gerimis tengah malam tipis, seperti tangis yang mengiris sampai hilang tersesap manis

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...

Sejejak kopi

Kopi yang enak itu gimana? Mungkin kau perlu mencintai filosofi kopi Atau cinta dalam gelas Ketika kesempurnaan bertemu kesederhanaan Ketika Manusia mencintai batas kemampuan Sembari mengaca pada jalinan gula dan kopi Sembari membaca pesan di sore hari

Fase

Kita hanyalah fase berbeda. di saat 5 kali matahari berputar, dan kembali pada titik ia berasal Cukup lama memang. tapi kedewasaan tak diukur dengan panjangnya umur. bisa jadi sekarang aku adalah dewasamu. bisa jadi besok kau adalah pengingatku melihat kembali diri ini di masa lalu. mengurangi sedikit keingintahuan pada penyesalan sampai kau berhenti menangis. sampai akhirnya kau tumpahkan tangis. melepaskan beban dikala harapan terasa membebani. Membagi ruang hati pada fase hidup yang terlampau dewasa. pada fase hidup yang terlalu meminta. untuk kita mengerti dan paham segalanya.

Perputaran

Selama ini aku hanya bisa berputar. Mengembalikan apa yang pernah terlewati ke titik dimana ia berasal, dan kemudian memulai sebuah lingkaran yang baru. Namanya juga berputar, ia hanya akan terus berjalan dengan lintasan yang sama, sembari terus menatap pada satu titik penumpu. Terus seperti itu. Dan lingkaran ini akhirnya berhenti ketika titik itu hilang. Berbeda dengan orang lain yang cenderung memilih jalur lurus di dalam hidupnya. Mereka bisa memilih untuk statis, mendaki, atau terus turun. Setidaknya mereka bisa melihat jauh ke depan. Menyaksikan setidaknya titik di ujung sana masih bisa tertangkap oleh mata. Sementara aku, cenderung melihat ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kukelabui. Mengelabui diri sendiri bahwa memang itu yang kucari. Dan pada akhirnya, ada satu garis yang memaksa masuk ke dalam lingkaran. Awalnya hanya satu. Kemudian garis itu bertambah. Kemudian lingkaran milikku terbagi. Dengan titik-titik berbeda. Terkadang keluarga. Ada Kalanya agama. Juga cita-cit...

Pepohonan sunyi

Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan. Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam. Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar. Di sudut pintu rumah aku terdiam. Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu. Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya. Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir. Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang. Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu. Tapi aku terlalu malu tuk akui itu. Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang. Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.

Kambing Busuk

Satu lebaran datang. Katanya titipan tuhan. Disampaikan Ibrahim ke Ismail dan perutku kenyang Makan kambing segudang. Tak habis dibagikan. Lupa disebelah rumah ada pemungut sampah. Bau busuk semerbak hilang. Ada bangkai terperosok di dalam tong. Bingung. Seharian ia mengemis makan. Tak seorang ulurkan tangan. Takut jadi korban peminta gadungan. Pintu tertutup, mulut mengerut. Dan kantong daging busuk semerbak hilang. Perutnya keroncongan. Sementara seharian, sudah 11 kali aku ke belakang. Buang hajat berulang-ulang. Cair, basahi celana tanpa tahu Kapan hujan reda dan salin tiba.

Kipas kertas hujan angin

Indah memang. Tinta hitam aksara cinta. entah apapun artinya. Terlipat dengan rapi menggariskan pertanyaan. Kalau saja kutahu bahasa itu Sementara ribuan impian berjejalan di dalam urat pengantar pesan. Kain panjang pembungkus tubuh kita mungkin berbeda Terik siang. di saat belenggu panas datang, usir mereka begitu saja. Terlalu sesak katamu. Di dalam satu ruang mungil tertutupi dada juga derita yang tak pernah sampai di telinga. Satu-satu terurai panjang. Mengulur bak benang merah antara satu hati, ke hati lainnya. Panjang rasanya jika kuteruskan. Bak layang-layang, membumbung tinggi. dan hujanpun datang. Sayang, kipas kertas tak bisa mengusir kegelisahan. Dan kita bertanya. Tak mengapa. Turunkan saja sejenak. Kelak tali ini kan membawa cerita lainnya. Dengan hujan angin yang berbeda, dan kuharap, tetap dengan layang-layang yang sama.

Sebuah keping kerang di tengah ganggang

Sainganmu hanyalah badai. Berteriak tanpa henti dan tak tahu dimana dirimu. Terkadang tenggelam dalam asin laut, lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri melihat, sampai dimana akhirnya desir ombak membawamu menari mengusik berlapis-lapis kertas yang kau gunakan tuk bersembunyi bahkan enggan topeng itu terlepas sejenak. Dan di saat semuanya usai, aku lega sudah ada tawa di sana. Mungkin tak ada yang tahu. Mungkin kau yang tak mau tahu Diam-diam bisu malam seolah menjadi teman menunggu, sampai kapan pasang akan bertahan, lalu kembali lagi pada sesuatu yang tak pasti. Menanti kapan seorang bajingan lepaskan beban di dalam ketakutan. Untuk itu setiap malam bintang mengajakmu begadang Menuntun pada cerita manusia setengah ikan berambut panjang. Memaksanya berhenti bernyanyi pada setengah hati yang hilang dibawa pergi. Buatmu, cerita ini usai. Ada yang menggantung sepertinya di antara hiasan dinding kamar Lalu semua bosan. Sama saja seperti ribuan keping kenangan di balik kantong berhiaskan boto...

Sebuah obrolan panjang di antara batas akhir yang tak pernah sama

Antara tersadar atau tidak, seringkali obrolan kita berputar pada hal-hal yang tak masuk akal. Bukan tak masuk akal sebenarnya, lebih kepada sesuatu yang mungkin dianggap mistik ataupun nggak logik. Dan akhirnya, obrolan panjang itu membuat orang mengira bahwa kita hanya tertarik pada sesuatu yang tak nyata. Terlebih dengan keanehan dan juga kesenangan yang kita cari melalui media berbeda-beda. Terkadang ada waktu dimana terangnya malam membuatku menari-nari tanpa henti. Di lain hari, cukup segelas kopi tuk menyamarkan kantong mata ketika ia semakin gelap dan berat untuk terungkap. Sedetik lainnya, bisa saja kita sudah terbang dan menghilang di antara sayap-sayap malaikat. Memilih untuk merendahkan diri ke hadapan tuhan, meski setelahnya sebotol bir larut ke dalam urat-urat nadi menanti pagi. Sampai besok, belum ada bayangan kemana kelak kita kan bertemu. Di saat kau mengucapkan salam perpisahan sebelum waktunya. Lalu langkah itu tertunda. Sekedar menunggu waktu yang tak tepat untuk ke...

Manusia Cermin

Entah kau ingat atau tidak, dahulu kau pernah mengatakan tentang sebuah hukum kehidupan "Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa" Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang. Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin. Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit. Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang. Ke mukamu. "Pyarrr..." Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku. Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki i...

Mungkin butuh seribu pesan pendek penuh kesedihan untuk membuatmu sadar

Semalaman tubuh itu bungkam. Tak ada yang mampu membuatnya bangkit dan berpindah ke sebuah titik yang mungkin lebih nyaman. Sementara pagi pelan-pelan merambat. Menyisipkan satu garis tipis cahaya ke dalam retina bola mata. Perih, tapi tak ada yang bisa membuatnya sadar jika kemudian tubuhnya hilang. Tenggelam dalam bayang-bayang bangunan kosong nan sombong. "Aku rasa, cukuplah hidupku dalam siklus yang tak bertepi ini" Ia bercerita panjang tadi malam. Membagikan satu-satu kisah reinkarnasi yang ia hadapi setiap akan mati. Semuanya tetap terekam dan tak ada yang bisa bilang kalau itu hanyalah bualan. Terlalu datar dan terkesan membosankan mendengar seseorang berbicara mengenai kehidupan yang sebenarnya tak bisa kita lihat dan rasakan.  Yah, ia sendiri tak tahu mengapa ia hidup kembali dalam sosok tanpa hati. Merasakan kehidupan yang terulang tanpa tahu apa saja yang hilang. Kehilangan teman dan juga orang-orang yang tak ia temukan di dalam sembilan ratus siklus kemudian. Sem...

Tuk dunia

Hey dunia di ujung baka tak usah kau usik malam berkepanjangan di hati orang-orang penuh harapan tempatmu tersaji surga neraka percayalah, hanya ingatkan bajingan penuh dosa entah lelah baju basah keringat cinta atau muntah penuh amarah setelah mabuk dalam mimpi buruk.