Skip to main content

Posts

Showing posts with the label munafik

Domba-domba nakal

Manusia pemakan rumput meranggas, kering, bungkil, kerdil. Daud dan Jalut atau David bertemu Golliath. Huma kardus terendus bau hangus. Obat nyamuk membakar hunian pinggiran. Tanpa ada tangan nyalakan kehangatan. Katakan serigala berdansa. Siang, malam, senja diantaranya. Menarik hati sang gembala, berburu kenakalan dosa-dosa manusia, terbitkan lapar Homo homini lupus Hangus. Bersama tusuk bambu. Disantap lezat. Padat. Di belakang restoran tergantung paha kaki dan iga-iga domba sekarat

DOA (Dead Or Alive)

Ada gelisah juga perasaan resah Dikala bimbang belenggu hatiku yang makin hitam Tanpa jawaban atas sebuah pertanyaan Dan kini kuragu karena kutaktahu akan arti malu Pernah kulihat mentari di sebuah pagi Berikan harap juga sebuah janji suci Tuk menopang semua angan juga mimpi Dan kini ia hilang di saat engkau pergi Tak hanya sekali kuterjerat putus asa Kehilangan teman juga seseorang yang kupercaya Kemana mereka di saat ku nyaris mati Mengapa tak ada ketika kumencoba bunuh diri Mencoba tuk berdiri menggapai sesuatu yang pasti Meski kutahu nyeri dada terasa semakin pilu Tak ingin lagi kutenggelam dalam pekat malam Meski tak tahu kemana takdir ku akhirnya menuju Pernah ku pergi menghilang dalam sepi Sekarat sejenak bermandikan pisau karat Seribu malaikat berkata tak berharga ku mati Berikan sebuah jalan tuk melangkah bertobat Sekali lagi kubertanya pada seribu pendeta Kemana kupergi ketika akhirnya ku mati Bukan neraka atau surga yang kupinta Sekedar jawaban untuk apa kuberdoa. Mungkin ke...

Manusia Cermin

Entah kau ingat atau tidak, dahulu kau pernah mengatakan tentang sebuah hukum kehidupan "Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa" Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang. Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin. Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit. Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang. Ke mukamu. "Pyarrr..." Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku. Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki i...

Oportunis

tak semua harapan untuk hidup sama dengan irama kematian petang semua kemunafikan menjelma dengan kepingan topeng yang kau simpan untuk setiap ruang dan malam sedetik bersama, tak lama hilang entah sisi apa kelak dalam drama ini bertahan dengan ucapan jilatan kepalsuan muak aku dengan sifat anjingmu mengapa tak kau jarah saja semua membiarkan sang hina merengkuh lembaran selimut keabadian terakhirnya setelah sekian lama puncak hidup kubiarkan untuk kau dan aku sementara darah dan asa ini pelan-pelan kau hilangkan hilangkan harapanku untuk tinggal