Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Bentuk kelima

Praduga, saat mata ada tiga juta ketakutan, dalam dekapan kaki delapan angkara, tertusuk dua duri beracun dengki, oleh sayap hitam di tengah malam Sebelumnya tiga juta mata hidupi nyanyian punai pagi kaki delapan singkirkan denging penghisap darah dua gigi beracun menelan benih-benih kelaparan dan sayap hitam sengaja tebarkan pepohonan. Lantas Tanpa tahu semua rindu mengecap sisa sia-sia kenangan yang tak akan pernah merdu semua hanya menyisakan gambar terhampar. Hambar.

Penari hujan

Malam ini terlalu lama punggung ini tegak Menyangga separuh kepala untuk tetap mendongak Hujan selalu berikan nyaman Entah siapa yang memulainya Sementara kepala anak-anak Hangat bersembunyi di antara ketiak ibunya Mereka datang dari selatan Menarikan lagu malam disaat hujan Berkibar-kibar di antara rintik gemerisik Lantunkan pengantar tidur paling panjang Sebelum mata lelahmu terpejam

Jangan takut akan gelap

Tanpa tahu siapa diriku tanpa tahu siapa dirimu kelak di saat waktu berlalu tapi pelan-pelan tangan ini menggenggam entah itu mereka katakan ilusi tapi lelah ini kelak kan berikan cerah Pada waktu yang kan hinggap kadang ia terasa sangat cepat kadang ia melambat dan di depan masih panjang mungkin karena hanya satu yang pasti gelapnya mata di saat mati Dan memang tak ada yang pasti selain hati yang terobati selain hati yang dapat dibagi pada bidadari penjaga mimpi

Domba-domba nakal

Manusia pemakan rumput meranggas, kering, bungkil, kerdil. Daud dan Jalut atau David bertemu Golliath. Huma kardus terendus bau hangus. Obat nyamuk membakar hunian pinggiran. Tanpa ada tangan nyalakan kehangatan. Katakan serigala berdansa. Siang, malam, senja diantaranya. Menarik hati sang gembala, berburu kenakalan dosa-dosa manusia, terbitkan lapar Homo homini lupus Hangus. Bersama tusuk bambu. Disantap lezat. Padat. Di belakang restoran tergantung paha kaki dan iga-iga domba sekarat

Derajat matahari

Jejak panjang kepul asap pesawat membelah udara jam 10 katanya, dari Jogja ke pojok Kota Pontianak Panjang bayang-bayang di saat matahari berpendar Membujur, di atas tugu ekuator. antara Januari ke bulan Juni lantas panas lembab kaburkan sembab mengalir sungai mungil, semenjak jembatan layang hilang pendek sekali kau kata, jalur landing sebelum ia terbanting

Kabar hujan di tengah malam

Belum kering gerimis tengah malam hangat tom yam atau bumbu kari menyelimuti gorengan tipis, seperti gerimis di tengah malam kapan lalu singkat kata terbaca buat apa lelaki di dunia, sekedar pelengkap wanita kupercaya sebaliknya belum kering gerimis tengah malam tipis, seperti tangis yang mengiris sampai hilang tersesap manis

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...

Tanpa nama

Ikatan ini tak bernama untuk segelas kopi dingin dalam perjalanan delapan jam Kita bersahabat dengan kaca juga kelebat semuanya bergerak ke belakang seolah tubuh ini tahu kemana tujuan padahal ia hanya diam

Fase

Kita hanyalah fase berbeda. di saat 5 kali matahari berputar, dan kembali pada titik ia berasal Cukup lama memang. tapi kedewasaan tak diukur dengan panjangnya umur. bisa jadi sekarang aku adalah dewasamu. bisa jadi besok kau adalah pengingatku melihat kembali diri ini di masa lalu. mengurangi sedikit keingintahuan pada penyesalan sampai kau berhenti menangis. sampai akhirnya kau tumpahkan tangis. melepaskan beban dikala harapan terasa membebani. Membagi ruang hati pada fase hidup yang terlampau dewasa. pada fase hidup yang terlalu meminta. untuk kita mengerti dan paham segalanya.

DOA (Dead Or Alive)

Ada gelisah juga perasaan resah Dikala bimbang belenggu hatiku yang makin hitam Tanpa jawaban atas sebuah pertanyaan Dan kini kuragu karena kutaktahu akan arti malu Pernah kulihat mentari di sebuah pagi Berikan harap juga sebuah janji suci Tuk menopang semua angan juga mimpi Dan kini ia hilang di saat engkau pergi Tak hanya sekali kuterjerat putus asa Kehilangan teman juga seseorang yang kupercaya Kemana mereka di saat ku nyaris mati Mengapa tak ada ketika kumencoba bunuh diri Mencoba tuk berdiri menggapai sesuatu yang pasti Meski kutahu nyeri dada terasa semakin pilu Tak ingin lagi kutenggelam dalam pekat malam Meski tak tahu kemana takdir ku akhirnya menuju Pernah ku pergi menghilang dalam sepi Sekarat sejenak bermandikan pisau karat Seribu malaikat berkata tak berharga ku mati Berikan sebuah jalan tuk melangkah bertobat Sekali lagi kubertanya pada seribu pendeta Kemana kupergi ketika akhirnya ku mati Bukan neraka atau surga yang kupinta Sekedar jawaban untuk apa kuberdoa. Mungkin ke...

Tengah malam

Selamat malam Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja. Aku takut kau kembali bergelung dalam malam. Menanti obrolan panjang sebelum akhirnya terlelap dengan hangat. Di setiap perhentian petang, seringkali kuberhenti sejenak. Menyesap istirahat, kepulkan penat. Hanya asing yang ada. Entahlah, tak ada wajah akrab. Sekedar bertanya, siapakah asing itu. Mungkin memang nyaman berterus terang pada seorang yang tak dikenal. Sampai hari ini, pelan-pelan langkah ini terus kuayunkan. Tapi tak bisa lepas dari semua beban. Beberapa perbekalan tertinggal dalam kotak hitam pojok ruangan. Aku titipkan tanpa pesan. Selamat malam. Sampai di sini kabarku hari ini. Andai waktu ijinkanku pulang, tapi langkahku terlalu panjang. Selamat malam.Sudah hampir 12 siang...

Peluk

Untukmu tak ada benci yang mampu hapuskan rindu. Setia melangkah dalam hitamnya kehidupan dan juga gelapnya mata hati ini. Dan mungkin, memang inilah yang terbaik. Bangunkanku dari tidur panjang, akan kisah indah tanpa derita. Maaf jika terang terlalu lama datang. Sesal selalu tersisa. Tapi, semua ini akan terasa sia-sia jika akhirnya berhenti begitu saja. Sudahlah, aku senang melihat kau tersenyum disana. Setelah tetes hitam, perlahan kutinggalkan dilubuk hatimu di penghujung petang. Kuharap, peluk itu masih bisa kurasakan. Hangat dan membawaku tertidur dengan tenang. Semua akan berputar bersama waktu, dan di saat itu, semoga kita bisa bertemu. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Dengan siapapun kelak, semoga bahagia yang terus kau rasa. Terima kasih...

Kipas kertas hujan angin

Indah memang. Tinta hitam aksara cinta. entah apapun artinya. Terlipat dengan rapi menggariskan pertanyaan. Kalau saja kutahu bahasa itu Sementara ribuan impian berjejalan di dalam urat pengantar pesan. Kain panjang pembungkus tubuh kita mungkin berbeda Terik siang. di saat belenggu panas datang, usir mereka begitu saja. Terlalu sesak katamu. Di dalam satu ruang mungil tertutupi dada juga derita yang tak pernah sampai di telinga. Satu-satu terurai panjang. Mengulur bak benang merah antara satu hati, ke hati lainnya. Panjang rasanya jika kuteruskan. Bak layang-layang, membumbung tinggi. dan hujanpun datang. Sayang, kipas kertas tak bisa mengusir kegelisahan. Dan kita bertanya. Tak mengapa. Turunkan saja sejenak. Kelak tali ini kan membawa cerita lainnya. Dengan hujan angin yang berbeda, dan kuharap, tetap dengan layang-layang yang sama.

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun. Sejak kapan, aku pun tak tahu wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga. Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil. berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil. manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga. layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan demi sebuah struk gaji pokok bulanan untuk itulah, kisa...

Sebuah keping kerang di tengah ganggang

Sainganmu hanyalah badai. Berteriak tanpa henti dan tak tahu dimana dirimu. Terkadang tenggelam dalam asin laut, lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri melihat, sampai dimana akhirnya desir ombak membawamu menari mengusik berlapis-lapis kertas yang kau gunakan tuk bersembunyi bahkan enggan topeng itu terlepas sejenak. Dan di saat semuanya usai, aku lega sudah ada tawa di sana. Mungkin tak ada yang tahu. Mungkin kau yang tak mau tahu Diam-diam bisu malam seolah menjadi teman menunggu, sampai kapan pasang akan bertahan, lalu kembali lagi pada sesuatu yang tak pasti. Menanti kapan seorang bajingan lepaskan beban di dalam ketakutan. Untuk itu setiap malam bintang mengajakmu begadang Menuntun pada cerita manusia setengah ikan berambut panjang. Memaksanya berhenti bernyanyi pada setengah hati yang hilang dibawa pergi. Buatmu, cerita ini usai. Ada yang menggantung sepertinya di antara hiasan dinding kamar Lalu semua bosan. Sama saja seperti ribuan keping kenangan di balik kantong berhiaskan boto...

Manusia Cermin

Entah kau ingat atau tidak, dahulu kau pernah mengatakan tentang sebuah hukum kehidupan "Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa" Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang. Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin. Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit. Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang. Ke mukamu. "Pyarrr..." Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku. Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki i...

Bola mata kaca

ahahai, bangkai menggelepar setelah dihajar kereta bertenaga kuda terbang perlahan lupakan lapar tak ada makan berguling-guling seakan tarian angsa danau keluar dari lembar-lembar proposal Hutan kau tebang, emas kau pendam Cukuplah satu surat terakhir sebelum akhirnya tersingkir berkelana tanpa ada keringat tersisa, senin kamis berpuasa sudah habis tanah dan rumah sampai pulang pun sekedar impian menguap di udara kemarau penuh asap tembakau dan puing-puing kehancuran yang mengundang risau itulah makna tanah dan rumah tak mudah memang menyimpan bendung tangisan terlebih dalam lubuk terdalam makhluk titisan laut tak cukup, hutan kau raup sementara dalam belukar duri kaca imajinasi tak lagi miliki arti, bukankah sudah ada televisi untuk doa. untuk membaca. untuk sebarkan cerita habislah sudah dongeng-dongeng cengeng menguras kantong mata nanar tanpa sinar Sampai lupa untuk apa itu menangis. Sampai lupa untuk apa itu mengemis.

ning...nung...

12 nada tak cukup menafsirkan arti suara dalam alunan berbeda seperempat abad tersembunyi pesan-pesan tak tertafsirkan di ratusan tahun kemudian, hilang bolehlah semua bahasa kering mengingat ratusan lirik yang pernah terucap olehmu namun, siapa yang bisa menangkap kepedihan dan luka yang tersimpan dalam lantunan tanpa nada, hanya bersuara

Matahari Pagi

Tak kudengar lidahmu berkisah lagi dari bola mata tanpa sinar mencoba menulis meski hati menangis jikalau perpisahan bukanlah sebuah kesedihan tapi awal dari seratus kisah perjuangan Ketika raga mulai enggan berbagi jiwa selayaknya buku tua di pinggir kota berputar-putar tanpa sadar membentuk lingkar kau tetap tak bisa beranjak dari kursi lunak lelap, pekat mengendap Dan sekali lagi kau menanti titik-titik kecil mengukir waktu ke dalam barisan pesan kematian tersembunyi oleh kekuatan hati agar benih-benih itu tetap bermimpi kau semai, bingkai dan akhirnya bunga-bunga itu terangkai rapat berbaris dalam isak tangis sejenak tuan, ijinkan salam ini tersampaikan sebagai doa dan harapan yang masih tersimpan Untuk sebuah matahari pagi dan untuk ribuan mata tanpa harga diri mereka tetap membalik ribuan persoalan pelik kemudian, tidur panjang tanpa keresahan agar matahari tak sungkan datang