Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kontemplasi

Sesekali sendiri

Saya termasuk salah satu orang yang nyaman dengan kesendirian. Tanpa terikat waktu dan ruang. Beberapa mengatakan bahwa saya seorang yang egois. Herannya, saya tidak bisa hidup tanpa melihat manusia. Mendengar keramaian, tapi bukan di dalamnya. Menikmati mendengarkan, tapi lebih senang untuk diam. Menikmati kesendirian, tapi senang jika bisa bertemu dengan orang yang bisa diajak berbincang. Selama ini saya termasuk menjadi orang yang dianggap tepat untuk emergency call. Belakangan, emergency call saya berkurang. Belakangan juga, saya memilih untuk diam di satu titik, dan menutup celah orang lain masuk. Saya bosan. Tapi saya juga malas bertemu dengan orang-orang baru yang ternyata justru membuat saya kembali ke ruang lama. Masalah?

Rapi

Ada ruang berjarak antara apa yang dianggap formal dan informal di negri ini. Mengenai status, hak, dan juga pandangan umum. Sektor formal dianggap lebih. Terpandang, terdidik, tertata dan mudah untuk diatur. Anggapan ini sepertinya memang sengaja ditanam. Sistem pendidikan yang seharusnya membuat setiap orang mampu mengembangkan diri berdasarkan kemampuan yang dimiliki justru membentuk manusia-manusia berpandangan seragam. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang diambil oleh seseorang, alih-alih semakin membebaskan, penyeragaman pandangan ini justru semakin kuat. Karena memang, tujuan pendidikan bukan untuk mendidik manusia mengenal dirinya sendiri. Tujuan pendidikan tak lebih dari membangun manusia siap kerja. Manusia-manusia ini kelak akan dipaksa untuk mengulang lagi sistem yang sudah diajarkan . Dengan sistem yang memang sengaja dibangun ini, tak heran jika mereka yang keluar dari sistem dianggap sebagai orang-orang yang gagal. Apabila memang ada ruang informal yang disisakan, ia ...

Sama

Minggu ini kembali saya diperlihatkan, bagaimana tekad disertai dengan kenekadan (dengan bekal pengalaman) berbicara banyak di lapangan. Tentang bagaimana keyakinan mampu membuat seseorang bersabar dalam menjalani apa yang sudah menjadi keyakinan. Di sisi lain, ada juga orang-orang, bahkan yang terdekat sekalipun, merasa bosan. Bukan karena tidak ada yang dikerjakan, tapi lebih karena banyaknya keinginan. Untuk yang pertama, saya katakan, mereka sudah memilih. Dan mereka akan bertemu dengan orang-orang yang sudah memilih juga. Tanpa perlu banyak tanya. Tanpa perlu banyak wacana. Yang penting, caranya tidak berlawanan dengan apa yang mereka yakini. Tak heran jika orang-orang seperti mereka terkenal vokal. Karena, secara struktur sosial sendiri, pilihan hidup mereka bukanlah cara orang kebanyakan. Tersembunyi dalam keseragaman, dan menonjol terang-terangan ketika apa yang mereka simpan di belakang, keluar di permukaan. Bagaimana mereka memilih kebenaran ketimbang kedudukan dan kebosana...

Mencari begawan

Saat ini yang kita miliki mungkin hanya kemewahan. Untuk sekedar hidup, dan menyisakan kepenatan tanpa sempat memilah dan mencerna pikiran. Tanpa merasakan kehangatan matahari. Tanpa kelegaan menghirup udara yang baru saja mensucikan malam. Dengan embun. Dengan debu letusan puncak bukit yang keruh. Itulah kemewahan yang seringkali diagungkan. Bagaimana bisa sinar surya meraba pori-pori hati, jika tubuh lebih nyaman menutup diri. Dengan tabir surya, kaca berlapis penangkal sinar ultra, atau pengubah udara. Membuat flu manusia desa, dan membekukan setiap tulang di tubuh mereka. Sementara kemewahan hakiki, murni, tanpa pemanis buatan penuh dengan iklan menyesatkan, kita lupakan. Beruntung jika setelah orang-orang tak beralas kaki, akhirnya percaya, yang mereka miliki bukan kemewahan, dan mereka tinggalkan, bisa dijual dengan kelipatan sekian. Untuk air jernih dari hulu nafas pegunungan. Untuk atap-atap tinggi yang menutupi birunya bukit di kejauhan. Untuk tanah keras tanpa serangga penguk...

Malam keramat

Deadlock. Apa yang bisa diharapkan oleh chaos? Tanpa pondasi? banyak pilihan. namun apa yang terjadi di belakang, memberikan beban. ketika hanya butuh kepala, sementara semua merasa perlu berkata. Demi emosi dari hati. Demi gengsi penguasa diri

kelas

Mudah untuk membagi praduga. Pada alam dan tuhannya. Pada mereka dengan kekayaannya saat menghadapi bencana. Pada ketidakhadiran kebersamaan dalam menghadapi ujian. Dan bodoh, jika praduga yang menjadi cerita.

Cukup

Tak mudah menjadi puas. Merasa cukup, dan tidak mengkhawatirkan hal-hal lain di depan. Awalnya kita mengira bahagia berwujud ketenangan. Tenang dari rasa takut kehilangan. Dan paksaan untuk memilih. Karena kita hanya punya tiga. Waktu, tenaga, harta.