Skip to main content

Posts

Showing posts with the label renungan

Katanya pindah tongkrongan?

Awalnya adalah sebuah status facebook. Tentang bagaimana seorang bocah mengomentari sikap sebuah partai dalam sudut pandang pencitraan kenaikan tarif BBM. Bagaimana ia melihat bahwa jika memang benar bukan pencitraan, tak hanya berbicara yang dilakukan. Masih bisa bergerak dengan meminta menteri perwakilan partainya melakukan sesuatu. Alih-alih hanya jualan sapi. Dilanjutkan dengan jualan daging lain. Masih di facebook. Satu fanpage dengan gambar profil gadis abg memamerkan buah dada yang tak seberapa. Beberapa pin bb dan status vulgar bertebaran. Tanpa kode. Hanya samaran nama, dan barang-barang lama sebagai pancingan. Ada lagi anak gadis tanggung umurnya. Yang satu menggunakan bahasa indonesia termodifikasi. Mengalihkan emosi dengan bahasa vokal dalam bentuk tulisan. Bermanja-manja. Sayang, mukanya tak menarik perhatian. Tak heran ditinggal. Juga emak-emak kesepian. Atau memang aslinya biasa mampir di pasar kembang? Entahlah. Yang jelas semua tak berubah. Ha...

Berterima kasihlah kepada musik lama!!!

Musik tak kenal usia. Yup, beruntunglah sekarang dengan mudahnya musik-musik dari berbagai zaman dan genre  bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Praktis, tidak harus keluar uang banyak (untuk peralatan dan kemasan) dan kapanpun kita butuh, tinggal setel. Hatipun tak perlu gelisah karena salah putar lagu. Nggak tahu musik yang kita dengarkan, tinggal dicek via internet. Dari sekian banyak kemudahan itu, ada sebuah pendapat yang sering muncul di antara penikmat musik. Mereka yang mencoba terlihat berbeda, terbawa mereka yang terlihat berbeda, dan mereka yang mencoba terlihat sama. Mainstream dan antimainstream. Di satu sisi memilih untuk berpihak karena merasa paling bijak. Di sisi lain, dasarnya memang nggak tahu jenis musik lain, atau tahu, tapi malas repot terperangkap dalam perdebatan panjang. Dan ada juga yang bisa lebih objektif, mendengarkan tanpa harus berpihak. Tapi diantara itu semua, setidaknya banyak yang sepakat, jikalau musisi jaman dulu lumayan menyenangkan untuk d...

Soal kacamata yang dipakai

Seperti mereguk air laut. Ya, itu yang saya rasakan. Semakin menjelang pintu kelulusan (semoga secepatnya amiiin) semakin banyak saya melihat dunia nyata. Meskipun memang belum lulus pun sedikit banyak kaki ini sempat menginjakkan separuh langkah di dunia itu. Dunia kerja. Tapi entah mengapa, rasanya berbeda dengan beberapa teman lainnya. Mungkin memang benar ini hanya perspektif. Semoga. Tentang bagaimana sudut pandang ini berada di tengah. Masih bisa melihat ke sebagian semangat masa lalu di belakang, juga melihat ke depan. Mencoba tetap realistis, sembari menyisakan jiwa idealis, tanpa menjadi pragmatis. Tak menjadi mereka yang sekedar mencari pencapaian, tak juga sekedar bergelung dengan teori praktis tanpa ada bukti.

Jejak Jakarta

 Dalam hati, ada kesal ketika kata Jakarta terungkap. Seolah semua ada di sana, segalanya. Sementara itu lainnya hanyalah seperti kumbang yang berterbangan, bersiap-siap mati di sekitar. Tersengat panasnya cahaya. Jika memang ada yang bertahan, silau lampu seringkali membutakan mata. Melupakan tujuan dan kenangan di belakang.  Arogan. Sederhana tampaknya. Sebuah kesan kota seribu macam manusia. Sayang jika ada mereka yang benar-benar berjalan dalam pilihan, akhirnya tak bisa memunculkan harapan dalam kenyataan hanya karena tidak merata kue-kue harta, atau tahta, juga citra. Apapun lah. Yang jelas, sampai sekarang aku masih tak ingin, meski disana banyak ruang dan juga kesempatan untuk aku berkembang.

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Tanpa nama

Ikatan ini tak bernama untuk segelas kopi dingin dalam perjalanan delapan jam Kita bersahabat dengan kaca juga kelebat semuanya bergerak ke belakang seolah tubuh ini tahu kemana tujuan padahal ia hanya diam

Fase

Kita hanyalah fase berbeda. di saat 5 kali matahari berputar, dan kembali pada titik ia berasal Cukup lama memang. tapi kedewasaan tak diukur dengan panjangnya umur. bisa jadi sekarang aku adalah dewasamu. bisa jadi besok kau adalah pengingatku melihat kembali diri ini di masa lalu. mengurangi sedikit keingintahuan pada penyesalan sampai kau berhenti menangis. sampai akhirnya kau tumpahkan tangis. melepaskan beban dikala harapan terasa membebani. Membagi ruang hati pada fase hidup yang terlampau dewasa. pada fase hidup yang terlalu meminta. untuk kita mengerti dan paham segalanya.

Kembali ke tempat tidur

"Anggap saja semua yang ada di dunia itu milik bersama. Rumah kita. Selama ada langit untuk diintip dan juga lantai tuk bersantai, mengapa harus ada ketakutan bahwa esok tak memberikan kehidupan?!"

Belajar melupakan, atau belajar mengulang?

Di satu kedai kopi semua itu tumpah. Yah, akhirnya teman saya membuka semua permasalahannya. Perasaan kesepian dan kehilangan. Ia tak tahu lagi mau bicara pada siapa, sampai-sampai orang yang biasanya ia hindari justru orang pertama yang ia hubungi. "Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri" Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah. Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegois...

Kosong

Tak ada lawan, tak ada yang diserang tak ada kawan, tak ada yang menopang tak ada tujuan, sesat perhentian tak ada rumah, keringat tercurah tak ada dosa, surga ternoda tak ada pahala, neraka menganga tak ada waktu, abadi mengilusi tak ada luang, lelap terbayang semua tak ada, semua hampa

Bahkan Shakespeare pun bisa komersil dan idealis

"Shakespeare itu komersil" Kalimat tersebut keluar begitu saja dari dosen Shakespeare saya, Pak Bakdi Soemanto. Saya yakin, nama beliau cukup terkenal di dunia akademis, khususnya anak-anak sastra. Sebuah jaminan akan analisis sastra yang bukan main-main. Dan ketika kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya kaget. How can? Selama ini nama seorang Shakespeare terkenal karena karya fenomenalnya. Othello, Macbeth, dan Romeo Juliet. Semuanya masih tetap dipelajari dan mempengaruhi karya-karya sastra generasi setelahnya. Artinya, nama seorang Shakespeare memiliki kekuatan aspek yang sangat penting. Kritik sosial, keindahan bahasa, dan juga kekayaan imajinasi. Untuk membuat sebuah naskah drama, Shakespeare seringkali berpergian ke negara-negara yang berbeda hanya untuk mewujudkan sebuah naskah drama. Jadinya nggak heran kalau latar belakang negara dari naskah-naskahnya juga berbeda. Selain itu, ia juga mau belajar dan tidak melupakan kekuatan dari karya-karya sastra sebelumny...

Relawan dadakan

Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata. Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan. Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang s...

Mari berdoa?

Tsunami, Gunung Berapi meletus, Gempa. Bangsa Indonesia pernah merasakan semuanya. Untuk Jogja sendiri, Gempa dan letusan Merapi adalah fenomena alam yang biasa terjadi. terakhir 2006. Dan seketika semua seolah menjadi sadar. Semua berdoa. Semua bersatu. Terbukti, sebenarnya kita masih punya hati. Semua setidaknya masih mau mengingat tuhan ketika ketakutan seperti ini disebarkan. Meskipun kita tidak tahu apakah mereka yang menyatakan simpati, benar-benar dari lubuk hati yang terdalam. Cuma tuhan yang tahu Kita juga tidak tahu, dimanakah kelak nasib Mbah Maridjan dan juga 15 wartawan yang tewas setelah mereka datang ke dunia sana. Mereka berkerja dan kemudian Tuhan menurunkan cobaannya. Benarkah itu cobaan Tuhan? Bukan berarti saya tidak mengakui tuha, tetapi, seolah ketika semua mengatasnamakan tuhan, persoalan dibiarkan seolah selesai. Cukuplah berdoa, dan menyatakan simpati, kemudian tidak ada langkah pasti. Itulah kekurangan bangsa ini. Apa-apa larinya ke Tuhan, permasalahan inti di...

Mengulang

Semester ini saya mengulang 2 mata kuliah. Yang satu matkul semester 1 dan satunya matkul semester 3. Cukup untuk membuat beberapa kepala menggeleng. Saya nggak bilang saya pintar. IPK saya juga standar-standar aja. Cuma, kenapa justru mata kuliah yang termasuk mudah harus saya ulang, sementara mata kuliah lainnya tidak. Mata kuliah lain yang justru banyak diulang oleh teman seangkatan saya. Mengulang itu nggak gampang. Perasaan itu jelas-jelas kerasa. Kebayang nggak ketemu teman sekelas dengan semangat yang sama. Dan saya sedikit banyak menyesalinya. Tahu gitu mending duduk di perpus dan menggali skripsi-skripsi dari tahun sebelumnya. Adik angkatan saya memiliki isi kepala berbeda. Bayangkan jika kemudian kecepatan mereka menanggapi sebuah masalah dibandingkan dengan kakak angkatannya yang pernah menghadapi masalah yang sama. Berbeda jauh. Perasaan inilah yang akhirnya membuat saya makin malas bertemu mereka. Mengulang kuliah rasanya kosong, nggak dapat apa-apa. Yah, bukan waktunya bu...

Software Lebaran

Sudah seminggu lebaran lewat. Arus balik juga sudah mulai tidak sepadat arus mudik. Rumah-rumah di desa menjadi sepi, dan kota semakin padat dengan barang-barang serta orang-orang yang hendak mencari harapan. Apa yang tersisa kemudian? nggak ada. Bahkan kenangan tentang lebaran itu sendiri sepertinya sudah terlalu rutin sehingga tidak ada hal baru yang akan disimpan dalam kenangan.Setiap tahun, semuanya tetap saja sama. Lama-lama, lebaran seakan hyanya sekedar menjadi software. Seakan memogram orang-orang untuk berjalan laiknya zombie tanpa ada bantahan. Tiap lebaran semua mudik, kita ikutan mudik. Semua beli baju, kita ikutan. Semua ngasih angpao, kita ikutan. Lalu bagaimana yang nggak bisa? Siap-siap aja diliatin sama anggota keluarga yang lain dan memendam sedikit rasa sakit hati karena diabaikan. Mana esensi kemenangan setelah menahan nafsu setelah sebulan? Bullshit. Hanya sekedar puasa sebulan aja, terus kita seolah bebas melepaskan apa yang tertahan sekenanya. Lebaran nggak lagi ...

Generasi Transisi

Sudah 3 kali setiap tahunnya aku melihat muka-muka baru berkeliaran di kampus. Selalu ada wajah-wajah polos penuh harapan serta ekspresi kebebasan setelah akhirnya mereka lepas dari bangku sekolah. Bebas tanpa seragam. Bebas tanpa setumpuk buku pelajaran. Dan bebas untuk menafsirkan apa itu arti kehidupan. Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan sekolah. Tak tahu, apa yang saat ini menjadi fokus dan juga tren untuk diikuti dan diimani. Tapi aku yakin, setidaknya selalu ada hal yang tidak akan berubah dari masa sekolah. Banyak yang bilang kalau masa paling indah itu masa-masa di sekolah. Khususnya di bangku sekolah menengah. Saat dimana logika dan juga pengalaman menentukan apa yang akan dilakukan di masa depan. Belajar mengerti apa itu rasa sayang, perhatian juga keputus asaan. Mengerti arti sesungguhnya persahabatan tanpa interpretasi kebutuhan akan uang. Serta tetap belajar untuk selalu kurang ajar. Mengata-ngatai guru yang menyebalkan. Mengintip ...

Me-Replay Orang tua

Posisi antara orang tua dan anak di dalam keseharian kita, aku rasa membuat kita lupa untuk saling memandang sebagai sesama manusia sejajar. Maaf, bukan bermaksud untuk tidak sopan atau gimana, tapi, kebayang nggak sih kalau keseharian ortu bisa saja berbeda antara di rumah dan di lingkungan. Peran yang dimainkan sebagai orang tua membuat diri merasa sulit untuk come-out tampil sebagai diri sendiri karena tekanan normatif lingkungan dll. Orang tua merasa nyaman dan memperlakukan kita sebagai si unyil tadi sore karena memang kita tampil sebagai UNYIL. Sok baik dan seolah nggak ada apa-apa. Pelan-pelan, satu tembok berhasil dibuat. Tembok kebisuan penuh kepura-puraan. Mungkin masing-masing saling bisa memahami satu sama lain tanpa harus ada bicara. Tetapi bayangkan kalau tembok ini nggak ada. Kelegaan dan perasaan kebebasan penuh tanggung jawab setidaknya akan lebih mudah untuk keluar ketimbang harus munafik sama diri sendiri kemudian melanggar segala macam aturan saat tidak kelihatan....

Proyek

Sejujurnya, aku pengen ketawa melihat teman-teman yang seolah berjuang untuk ideologinya, tetapi ternyata justru tak mengerti esensinya. Tapi tidak untuk teman-teman yang berjuang dan bisa menjelaskan dengan argumentasi penuh dasar kuat. aku salut sama mereka. Sayang, jumlahnya tak seberapa. Dan jarang sekali akhirnya orang-orang seperti itu akhrnya bisa maju dan merubah perjalanan bangsa ini. Seperti bapakku Bapak sebenarnya tak pernah berniat bersentuhan dengan politik. Beliau hanyalah seorang yang mencoba menjadi abdi rakyat yang baik. Meniti karir bertahun-tahun sampai akhirnya naik pangkat. Sebuah kedudukan yang cukup prestisius di tempatnya berkerja. Bertemu muka dengan orang penting dan berpengaruh adalah hal yang biasa. Proyek demi proyek berjalan dengan lancar. Cukup untuk membuat anak buahnya tersenyum ketika mereka bisa membuat negri ini menuju ke arah yang lebih baik. Semua baik-baik saja, sampai satu ketika, sebuah proyek pengadaan infrastruktur pengembang...

Nyanyian bisik

setiap hari akan ada jengukan rutin di dalam pintu rumah mengetuk, masuk, dan duduk sebelum surat-surat beraroma hutan perlahan mengendap di hati penghuninya sudah 113 tahun ia tak pulang ia, satu jiwa pengelana yang suka memetik senar-senar dawai gitar di pinggir pagar setiap hari akan ada panas menempel aroma gurun kaki-kaki beralaskan rapuh karet pembungkus kulit mengukur seberapa jauh kaki bukit serta menara api suar, kapal-kapal merapat lalu berlabuh sayup-sayup nyanyian pemetik keringat garam terbawa angin pantai, purnama sebentar lagi padam di dalam lingkaran asap terakhir yang dihembuskan satu kursi di pojok jalan setiap hari kereta kuda tinggalkan 3 istal berbalik mundur tuk dapat terbang sebentar kemana ia hilang, semak keramik tak bisa menjawab mulut-mulut kecil itu terlalu erat menggigit kuas kemudian hujan berwarna hitam mengalir tak ada alur wajah bisa menahan luruh ke dalam serat-serat kain pengunci hati setiap hari...

Selembar kalbu

Bukan mentari yang besarkan isi kepalamu tapi serbuk buku penuh nilai manusia tak pasti bukan juga tanah merah terakhir peraduan tidurmu tapi sejarah abadi saat mimpi ini menjadi pasti kau mungkin bualan yang berikan malam kehidupan tapi kau tak jua jalang sampai akhirnya terlupakan kau mungkin tak lebih gongongan anjing pengusir maling tapi kau bangunkan tidur satu manusia yang pernah sinting dan besok pagi saat dunia ilusi dihabisi seribu anak lahir dari tumpahan isi saku hatimu dan besok saat fajar berhenti di dalam putih matamu seribu doa terpanjat menemani langkah terakhirmu