Skip to main content

Posts

Showing posts with the label teman

Reminder

Kita selalu tahu setelah apa yang terjadi di masa lalu sekedar tahu, dan malu. lantas ia terpendam tuk hilangkan ragu memilih, memilah, dan terpisah. supaya tak ada lagi susah jalan ini adalah pilihan, maka perjuangkan pengorbanan. seberapa dalam kepuasan ini terkecap sedalam itu kelegaan pada akhirnya kita rasakan. karena setiap keinginan harus ada yang dikorbankan. tuk melihat keberuntungan, setelah berjuang bertemu kesempatan tak semua hal bisa kita dapatkan. karena kita bukan tuhan karena akhirnya kita berjuang, dan meletakkan hasilnya karena itu doa ini kupanjatkan

Akhirnya, MLP

Yeah, akhirnya kesampaian juga nonton Musikal Laskar Pelangi. Diam-diam, ekspektasi saya yang cukup tinggi pada adaptasi Novel Andrea Hirata ini akhirnya terlunasi. Sebelumnya, saya ga mau memasang harapan tinggi-tinggi dari Drama Musikal ini. Sekian tahun mengikuti tulisan Andrea Hirata, sejujurnya saya bosan. Ia tidak banyak beranjak untuk menulis selain dari kehidupan pribadinya. Memang apa yang ia tuliskan menghadirkan nuansa baru pada novel-novel di rak toko buku. Kehidupan, bahasa, dan juga celetukan kehidupan akar rumput di Belitong sana. Apalagi jika kemudian, Laskar Pelangi seolah menjadi one hit maker. Satu terbitan bagus dari tulisan Andrea Hirata, setelah itu sudah. Jujur aja sih, habis Laskar Pelangi, novel lainnya belum sebaik nasibnya dengan sang pendahulu. Pendapat itu juga mungkin dikarenakan saya sering membaca karya novelis yang senang berganti tema, tapi tetap terasa nuansa penjiwaannya. Simpel, sederhana, tapi mengena. Kalau detilnya karya siapa, itu Dee . Di bel...

susur pantai

Sebuah keping kerang di tengah ganggang

Sainganmu hanyalah badai. Berteriak tanpa henti dan tak tahu dimana dirimu. Terkadang tenggelam dalam asin laut, lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri melihat, sampai dimana akhirnya desir ombak membawamu menari mengusik berlapis-lapis kertas yang kau gunakan tuk bersembunyi bahkan enggan topeng itu terlepas sejenak. Dan di saat semuanya usai, aku lega sudah ada tawa di sana. Mungkin tak ada yang tahu. Mungkin kau yang tak mau tahu Diam-diam bisu malam seolah menjadi teman menunggu, sampai kapan pasang akan bertahan, lalu kembali lagi pada sesuatu yang tak pasti. Menanti kapan seorang bajingan lepaskan beban di dalam ketakutan. Untuk itu setiap malam bintang mengajakmu begadang Menuntun pada cerita manusia setengah ikan berambut panjang. Memaksanya berhenti bernyanyi pada setengah hati yang hilang dibawa pergi. Buatmu, cerita ini usai. Ada yang menggantung sepertinya di antara hiasan dinding kamar Lalu semua bosan. Sama saja seperti ribuan keping kenangan di balik kantong berhiaskan boto...

Sebuah obrolan panjang di antara batas akhir yang tak pernah sama

Antara tersadar atau tidak, seringkali obrolan kita berputar pada hal-hal yang tak masuk akal. Bukan tak masuk akal sebenarnya, lebih kepada sesuatu yang mungkin dianggap mistik ataupun nggak logik. Dan akhirnya, obrolan panjang itu membuat orang mengira bahwa kita hanya tertarik pada sesuatu yang tak nyata. Terlebih dengan keanehan dan juga kesenangan yang kita cari melalui media berbeda-beda. Terkadang ada waktu dimana terangnya malam membuatku menari-nari tanpa henti. Di lain hari, cukup segelas kopi tuk menyamarkan kantong mata ketika ia semakin gelap dan berat untuk terungkap. Sedetik lainnya, bisa saja kita sudah terbang dan menghilang di antara sayap-sayap malaikat. Memilih untuk merendahkan diri ke hadapan tuhan, meski setelahnya sebotol bir larut ke dalam urat-urat nadi menanti pagi. Sampai besok, belum ada bayangan kemana kelak kita kan bertemu. Di saat kau mengucapkan salam perpisahan sebelum waktunya. Lalu langkah itu tertunda. Sekedar menunggu waktu yang tak tepat untuk ke...

Oportunis

tak semua harapan untuk hidup sama dengan irama kematian petang semua kemunafikan menjelma dengan kepingan topeng yang kau simpan untuk setiap ruang dan malam sedetik bersama, tak lama hilang entah sisi apa kelak dalam drama ini bertahan dengan ucapan jilatan kepalsuan muak aku dengan sifat anjingmu mengapa tak kau jarah saja semua membiarkan sang hina merengkuh lembaran selimut keabadian terakhirnya setelah sekian lama puncak hidup kubiarkan untuk kau dan aku sementara darah dan asa ini pelan-pelan kau hilangkan hilangkan harapanku untuk tinggal