Skip to main content

Posts

Balada anak naga

Demi api naga dan kerlip lilin lampion malam Raga ini sudah menjadi milik negri tiga ratus tahun silam, sebrangi lautan berbagi hati dan harga diri dan waktu mengijinkan kaki ini bertahan lidah ini sudah terlalu kaku lantunkan Hokkian karena ucapan selamat datang terdengar indah dan juga menentramkan selalu ada kata pendatang di setiap celah yang bisa mengundang arogansi bertabir ketidak adilan benarkah terlalu murah keangkuhan untuk dijual, dan keramahan terasa tinggi untuk digapai ke dalam ruang setelah semua cerita kehidupan beriringan Sampai hari ini selalu ada mimpi terbagi di antara anak cucu, si kaum pendatang dengarkan. Sebuah mimpi hidup sehati tanpa iri dengki dan juga benci karena kami, juga cinta negri ini

Jam pasir Terakhir

Pecah, tertiup udara gurun tak berbeda antara satu dan lainnya semenjak satu per satu tangan-tangan memilih pengganti terakhir di setiap cerita yang berbeda seperti dongeng-dongeng khayal lainnya maka sang putri, penyihir putih peri, bidadari, malaikat, juga iblis bermuka manis mengambil peran yang bisa mereka mainkan sayang, jam pasir meminta mereka pergi Sepertiga terakhir sudah habis sebelum ada yang memutar kembali di lain hari --- Ia lahir dari tangan penyihir tak ingin tua, katanya lahirlah ia, jam pasir penuh sihir tepat ketika sang tua datang menjenguk tubuh renta sang pencipta memanggil sejuta tunas ke dalam penjara kaca hanya demi sebuah pasir bersihir mengusir sang tua dari tubuhnya --- Ini adalah sebuah legenda tentang sihir jam pasir dari 100 abad lamanya penjara abadi bagi raja waktu dan ia hilang tepat saat Tuhan membangkang digantikan butir-butir pil racikan malaikat maut sebelum tertiup h...

Musang terbang

Sesekali aku ingin terbang, seperti musang tanpa takut ketinggian juga deru kebisingan mereka akhirnya meminjamkan satu malam saat aku paksa menari di tengah dingin dan aku terbang, seperti musang

Kosong

Tak ada lawan, tak ada yang diserang tak ada kawan, tak ada yang menopang tak ada tujuan, sesat perhentian tak ada rumah, keringat tercurah tak ada dosa, surga ternoda tak ada pahala, neraka menganga tak ada waktu, abadi mengilusi tak ada luang, lelap terbayang semua tak ada, semua hampa

Untuk teman...

Sampai malam nanti, dirimu berbaring menepis tangis berujar dunia tak miliki siapa-siapa tuk dipercaya aku tahu, kisah tak cukup sedetik berbagi perlu seribu lembar kertas wangi dan harum tinta sayangnya, sudah tak ada kau saat semua usai terbawa aliran hujan kebahagiaan membasahi hujan dengan sejuta pelangi yang malu menghiasi pagi hari

Tenggelam dalam bayang

Sekilas, semua seakan lepas tak ada yang tahu jikalau masa lalu sekedar selimut hangat membisu sekedar kau, diriku dan siapapun menggema dari satu lembar dinding rasuki rumah terakhir yang berbisik gapai lembut dedaunan di esok pagi di saat bangun tangan pilu ini mencerabut pikiran penuh rasa ketakutan jikalau mimpi tetap indah, biarlah sayang, sampai sekarang ribuan pasang sepatu tak cukup lagi tuk membungkus jemariku. Ia belum bisa menebus harapmu meski luka, meski buta bayang-bayang tak pernah lupa siapa pemiliknya bukan ingin cahaya terkungkung tanpa henti meraba pelan-pelan, adakah sesuatu tertinggal ketika ia tak bisa memilih lahir tapi memilih tuk tinggal

Bahkan Shakespeare pun bisa komersil dan idealis

"Shakespeare itu komersil" Kalimat tersebut keluar begitu saja dari dosen Shakespeare saya, Pak Bakdi Soemanto. Saya yakin, nama beliau cukup terkenal di dunia akademis, khususnya anak-anak sastra. Sebuah jaminan akan analisis sastra yang bukan main-main. Dan ketika kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya kaget. How can? Selama ini nama seorang Shakespeare terkenal karena karya fenomenalnya. Othello, Macbeth, dan Romeo Juliet. Semuanya masih tetap dipelajari dan mempengaruhi karya-karya sastra generasi setelahnya. Artinya, nama seorang Shakespeare memiliki kekuatan aspek yang sangat penting. Kritik sosial, keindahan bahasa, dan juga kekayaan imajinasi. Untuk membuat sebuah naskah drama, Shakespeare seringkali berpergian ke negara-negara yang berbeda hanya untuk mewujudkan sebuah naskah drama. Jadinya nggak heran kalau latar belakang negara dari naskah-naskahnya juga berbeda. Selain itu, ia juga mau belajar dan tidak melupakan kekuatan dari karya-karya sastra sebelumny...

Relawan dadakan

Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata. Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan. Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang s...

Mari berdoa?

Tsunami, Gunung Berapi meletus, Gempa. Bangsa Indonesia pernah merasakan semuanya. Untuk Jogja sendiri, Gempa dan letusan Merapi adalah fenomena alam yang biasa terjadi. terakhir 2006. Dan seketika semua seolah menjadi sadar. Semua berdoa. Semua bersatu. Terbukti, sebenarnya kita masih punya hati. Semua setidaknya masih mau mengingat tuhan ketika ketakutan seperti ini disebarkan. Meskipun kita tidak tahu apakah mereka yang menyatakan simpati, benar-benar dari lubuk hati yang terdalam. Cuma tuhan yang tahu Kita juga tidak tahu, dimanakah kelak nasib Mbah Maridjan dan juga 15 wartawan yang tewas setelah mereka datang ke dunia sana. Mereka berkerja dan kemudian Tuhan menurunkan cobaannya. Benarkah itu cobaan Tuhan? Bukan berarti saya tidak mengakui tuha, tetapi, seolah ketika semua mengatasnamakan tuhan, persoalan dibiarkan seolah selesai. Cukuplah berdoa, dan menyatakan simpati, kemudian tidak ada langkah pasti. Itulah kekurangan bangsa ini. Apa-apa larinya ke Tuhan, permasalahan inti di...

Semata Wayang

Wayang itu membosankan. Bahasanya aneh, juga instrumen yang digunakan ketinggalan jaman. Pendapat seperti itu sering saya dengar. Terutama jika sang pengemuka pendapat bukan asli Jawa. Makin setujulah saya dengan pendapat tersebut. Udah mainnya malam, harus begadang, musiknya juga bikin ngantuk. Lengkaplah wayang sebagai dongengan sakti pengantar tidur. Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil. Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto. Saya diajar beliau selama 3 semester. Semuanya berfokus pada kebudayaan dan juga pertunjukan. Diajarkan bagaimana melihat dan meng...

Mengusir Hujan

Pawang bingung mantranya kabur kalah sakti oleh doa petani menangis dompetnya krisis karena alam sok ekstrimis

Mengenang Hujan

Mungkin hujan sekedar mampir. Setiap kita berjalan, tak letih ia jatuh. Mengajak teman-temannya melompati atap genting bata rumahmu. Sebelum derum motor tumbuhkan niat mengintip, siapakah lelaki malam di setiap relung tidurmu Entah, itu tangis atau gerimis. Wajah mungilmu sedikit menyesakkan pilu. Esok, lusa atau selamanya, kita berpisah. Raga memang selalu indah dikenang, namun bisikan merdu itu tak pernah ragu. Hadir ke dalam letupan-letupan ringan. Sampai besok aku pulang

Mengulang

Semester ini saya mengulang 2 mata kuliah. Yang satu matkul semester 1 dan satunya matkul semester 3. Cukup untuk membuat beberapa kepala menggeleng. Saya nggak bilang saya pintar. IPK saya juga standar-standar aja. Cuma, kenapa justru mata kuliah yang termasuk mudah harus saya ulang, sementara mata kuliah lainnya tidak. Mata kuliah lain yang justru banyak diulang oleh teman seangkatan saya. Mengulang itu nggak gampang. Perasaan itu jelas-jelas kerasa. Kebayang nggak ketemu teman sekelas dengan semangat yang sama. Dan saya sedikit banyak menyesalinya. Tahu gitu mending duduk di perpus dan menggali skripsi-skripsi dari tahun sebelumnya. Adik angkatan saya memiliki isi kepala berbeda. Bayangkan jika kemudian kecepatan mereka menanggapi sebuah masalah dibandingkan dengan kakak angkatannya yang pernah menghadapi masalah yang sama. Berbeda jauh. Perasaan inilah yang akhirnya membuat saya makin malas bertemu mereka. Mengulang kuliah rasanya kosong, nggak dapat apa-apa. Yah, bukan waktunya bu...

Kepercayaan dan ketiadaan

Gimana sih rasanya jadi orang atheis itu? Apakah sekedar tidak memiliki tuhan dan kemudian memandang segala yang ada di dunia ini sekedar elemen dari hukum materialisme? Gambaran menjadi atheis seolah menjadi sebuah identitas yang harus dibuang jauh-jauh, khususnya di negeri ini. Apalagi kalau dikaitkan dengan peristiwa di tahun 1960an dulu. Ga punya agama, artinya komunis. Jadilah KTP Indonesia mencantumkan agama sebagai salah satu identitas yang wajib ada. Statistik KTP jugalah yang membuat Indonesia memiliki penganut agama Islam 3 terbesar didunia. Cuma di KTP. Perasaan wajib dan bukan berhak beragama yang ditanamkan sejak dahulu kala itulah yang akhirnya sedikit demi sedikit memupuk perasaan hampa dalam beragama. Cukuplah sekedar kita mengakui tuhan itu ada, tapi nggak ada rasanya. Di satu sisi, generasi kehilangan identitas. Di sisi lain, ekstrimis bermunculan tanpa pondasi serta toleransi yang kuat. Dua sisi berlawanan ini ada di Indonesia. kehadiran para pemuka dan pemimpin juga...

putra darah

Sampai saat ini, besok ku mati selamanya tak ada perubahan status sampai kelak tanah terbelah semua orang bisa bilang kau satu darah cukuplah kukenal dan pernah kukenal meski aku sendiri tak tahu, siapa dirimu masih haruskah kukatakan, ini sujudku demi satu harapan saat kematian tak neraka membuatku sengsara

Pengendali Naga

Sang naga lama tertidur menunggu datang kekasih hati sejak terlahir kutukan abadi membuat hati tak pernah pergi sendiri, sembunyi

Untuk Maya

Ah, malam. selalu saja kau sepi. tak bisakah sejenak kau pindahkan keramaian kemudian rangkum kata-kata sebentar karena sekarang Maya memaksaku duduk sembari mengajak jari-jari menari menggelitik lekuk tubuh papan ketik Ah, Siang Redupkanlah sejenak pelitamu itu belum ingin aku keluar memandikan pagi tulang tubuh rasanya lepas tak punya pelumas setelah semalam Maya mengajakku pergi ke dunia kedua kaca seratus ribu warna Ah, Tuhan tolong KAU simpan semua firman cukup hati ini tahu bukan neraka tempatku tak ada dosa yang bisa KAU hadirkan dalam dunia maya ciptaanku karena disini, tuhan adalah AKU

Liat apa malam ini?

satu-satu layar monitor kujelajahi ada badut banci ketawa-ketiwi ga jelas apa yang ditertawakannya sementara tingkahnya bikin pusing kepala kubuka layar berikutnya sang ibu tiri mendadak mati bukan oleh ibu peri, atau racun sang suami tapi karena sang produser terus merugi hampir lelah aku telah sampai akhirnya kulihat sesosok wajah terpampang jelas penuh darah dipukul massa yang sedang marah demi malam, aku tertidur tak ada siaran yang bisa menghibur kering sudah hati ini kubanting tv ke peti mati

Software Lebaran

Sudah seminggu lebaran lewat. Arus balik juga sudah mulai tidak sepadat arus mudik. Rumah-rumah di desa menjadi sepi, dan kota semakin padat dengan barang-barang serta orang-orang yang hendak mencari harapan. Apa yang tersisa kemudian? nggak ada. Bahkan kenangan tentang lebaran itu sendiri sepertinya sudah terlalu rutin sehingga tidak ada hal baru yang akan disimpan dalam kenangan.Setiap tahun, semuanya tetap saja sama. Lama-lama, lebaran seakan hyanya sekedar menjadi software. Seakan memogram orang-orang untuk berjalan laiknya zombie tanpa ada bantahan. Tiap lebaran semua mudik, kita ikutan mudik. Semua beli baju, kita ikutan. Semua ngasih angpao, kita ikutan. Lalu bagaimana yang nggak bisa? Siap-siap aja diliatin sama anggota keluarga yang lain dan memendam sedikit rasa sakit hati karena diabaikan. Mana esensi kemenangan setelah menahan nafsu setelah sebulan? Bullshit. Hanya sekedar puasa sebulan aja, terus kita seolah bebas melepaskan apa yang tertahan sekenanya. Lebaran nggak lagi ...

Generasi Transisi

Sudah 3 kali setiap tahunnya aku melihat muka-muka baru berkeliaran di kampus. Selalu ada wajah-wajah polos penuh harapan serta ekspresi kebebasan setelah akhirnya mereka lepas dari bangku sekolah. Bebas tanpa seragam. Bebas tanpa setumpuk buku pelajaran. Dan bebas untuk menafsirkan apa itu arti kehidupan. Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan sekolah. Tak tahu, apa yang saat ini menjadi fokus dan juga tren untuk diikuti dan diimani. Tapi aku yakin, setidaknya selalu ada hal yang tidak akan berubah dari masa sekolah. Banyak yang bilang kalau masa paling indah itu masa-masa di sekolah. Khususnya di bangku sekolah menengah. Saat dimana logika dan juga pengalaman menentukan apa yang akan dilakukan di masa depan. Belajar mengerti apa itu rasa sayang, perhatian juga keputus asaan. Mengerti arti sesungguhnya persahabatan tanpa interpretasi kebutuhan akan uang. Serta tetap belajar untuk selalu kurang ajar. Mengata-ngatai guru yang menyebalkan. Mengintip ...