Skip to main content

Posts

Teaser Kelas Inspirasi Yogyakarta 2015 SD Soka

A reminder

Malam ini tiba-tiba saja V chatting. Mempertanyakan maksud sharing link yang ada di facebook. Obrolan ini cukup panjang. Mengenai ketakutan akan ada the next Z. Bagaimana kemudian ia melihat ada tendensi bahwa aku mencoba menghidupkan dan menjadikan orang lain sebagai supporting. Pelan-pelan tapi pasti, kami saling mengklarifikasi. Entah daerah mana yang dia maksud. Mulai dari alasan pembentukan jaringan, sharing dengan teman-teman kalimantan, dan mungkin pencitraan. Sempat juga bertanya, apakah ini ada hubungannya dengan usaha move on dari M Sampai satu hal yang kemudian cukup menohok keluar. Tentang bagaimana menemukan diri sendiri, melakukan yang aku suka, alih-alih sekedar mengekor. Kurang lebih apa yang ia katakan benar. Tentang bagaimana orang-orang di sekitar tidak terlalu suka dengan pemikir. Tentang kekhawatiran bahwa tidak semuanya harus di share karena akhirnya orang-orang akan recognise. kurang lebih kaya gini ngomongnya. I wouldn't say I'm normal ppl, b...

Menjelang Wisuda

Mungkin ada baiknya pelan-pelan menuliskan apa yang ada di kepala. Selama ini, saya berhenti menulis dengan berbagai alasan. Awalnya karena tidak bisa fokus. Sibuk berlari ke sana kemari hanya untuk menghindari skripsi. Jujur, itu berat. Berat karena awalnya ada dendam yang tersimpan. Sampai kemudian berputar di ruang yang sama lagi. Terperangkap oleh masa lalu. Akibatnya, saya kembali berhenti menulis. Awalnya merasa takut, padahal aslinya malas. Malas berdebat dan dihakimi. Tapi sekali lagi, dunia mana yang tidak menghakimi. Sampai akhirnya saya kembali belajar. Belajar duduk di kelas, dituntut untuk menyusun logika dan kemudian bertanya. Belajar mengejar apa yang pernah saya nikmati dan kemudian menemukan konsekuensi. Bukan sekedar menuntut dan menjadi polisi moral. Menghakimi sana sini saat ruang yang ada tidak sesuai dengan diri. Di saat ini saya ingin kembali jujur. Ingin kembali menikmati, meski dihakimi, tapi pada akhirnya, sebaiknya semua dijawab dengan perbuatan. Bukan dengan...

Menahan arus

Riak-riak ini bukan gelombang yang akan menenggelamkan. Ia hanya riak. Sesekali muncul dan memberi buih diantara potongan-potongan arus. Sementara muaranya akan sama. Ketika satu perahu dengan dua pengendara, memilih siapa yang menentukan tujuan. Sementara yang lain akan tetap diam dan mengayuh. Ini bukan hal yang sulit. Meski berat. terkadang memang tujuan tak bisa ditebak, di saat lelah meminta perahu kecil ini menyingkir sejenak. Tapi, bukan berarti perahu ini akan sendiri. Akan ada pengayuh-pengayuh lain mengambil tempat. Berdua, atau sendiri.  Yang pasti, tujuannya adalah muara. Sebelum lepas ke lautan, dan bertemu dengan gelombang. 

Jathilan Mahesa Sura

Story of Emping Melinjo

happiness

"We reach the point where we realized so many thought about happiness. They said, happiness start by make peace with ourself. Find your own peace, and then your own happiness, then you can find it with others. Meanwhile we misinterpreted it because we are terrified to trust other as we are easily hurt and then happiness within yourself invented. What we really do is we can't allow anyone else's issues to stand in the way of our happiness. And we think it will be more at peace. And our heart got colder as we grow older, and forgot that we are social animals. to see worthwile person that always have each other's backs, rather than judge them. To feel rather than choose the thought"

FKY 2014

Sesekali sendiri

Saya termasuk salah satu orang yang nyaman dengan kesendirian. Tanpa terikat waktu dan ruang. Beberapa mengatakan bahwa saya seorang yang egois. Herannya, saya tidak bisa hidup tanpa melihat manusia. Mendengar keramaian, tapi bukan di dalamnya. Menikmati mendengarkan, tapi lebih senang untuk diam. Menikmati kesendirian, tapi senang jika bisa bertemu dengan orang yang bisa diajak berbincang. Selama ini saya termasuk menjadi orang yang dianggap tepat untuk emergency call. Belakangan, emergency call saya berkurang. Belakangan juga, saya memilih untuk diam di satu titik, dan menutup celah orang lain masuk. Saya bosan. Tapi saya juga malas bertemu dengan orang-orang baru yang ternyata justru membuat saya kembali ke ruang lama. Masalah?

Expectation

Pahit itu Disalah-salahin satu hal, tapi merembetnya ke banyak hal Diajak ngobrol terbuka, tai obrolan itu buat nyalah-nyalahin Satu kali salah, tapi ga mau diinget kebaikan yang lain Orang tua ga mau kenal dirimu, tapi pengen ngikut keinginan mereka Lo nunda buat ngungkapin perasaan, dan ketika semua keluar, yang maksa minta ngungkapin ga siap sama yang kamu pengen ungkapin

Tunda

Katakan, ada dua pilihan yang mudah. Satu mudah untuk diteruskan, karena memang sesuai dengan panggilan hati. Sementara pilihan yang satu adalah pilihan yang tertunda, dimana ia sebenarnya sepele, tapi kita tidak menyukainya. Dan selama pilihan kedua ini tidak selesai, maka akan ada pilihan-pilihan lain yang akan semakin menghilang.

Art only exist

Balikan

Rapi

Ada ruang berjarak antara apa yang dianggap formal dan informal di negri ini. Mengenai status, hak, dan juga pandangan umum. Sektor formal dianggap lebih. Terpandang, terdidik, tertata dan mudah untuk diatur. Anggapan ini sepertinya memang sengaja ditanam. Sistem pendidikan yang seharusnya membuat setiap orang mampu mengembangkan diri berdasarkan kemampuan yang dimiliki justru membentuk manusia-manusia berpandangan seragam. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang diambil oleh seseorang, alih-alih semakin membebaskan, penyeragaman pandangan ini justru semakin kuat. Karena memang, tujuan pendidikan bukan untuk mendidik manusia mengenal dirinya sendiri. Tujuan pendidikan tak lebih dari membangun manusia siap kerja. Manusia-manusia ini kelak akan dipaksa untuk mengulang lagi sistem yang sudah diajarkan . Dengan sistem yang memang sengaja dibangun ini, tak heran jika mereka yang keluar dari sistem dianggap sebagai orang-orang yang gagal. Apabila memang ada ruang informal yang disisakan, ia ...

Sama

Minggu ini kembali saya diperlihatkan, bagaimana tekad disertai dengan kenekadan (dengan bekal pengalaman) berbicara banyak di lapangan. Tentang bagaimana keyakinan mampu membuat seseorang bersabar dalam menjalani apa yang sudah menjadi keyakinan. Di sisi lain, ada juga orang-orang, bahkan yang terdekat sekalipun, merasa bosan. Bukan karena tidak ada yang dikerjakan, tapi lebih karena banyaknya keinginan. Untuk yang pertama, saya katakan, mereka sudah memilih. Dan mereka akan bertemu dengan orang-orang yang sudah memilih juga. Tanpa perlu banyak tanya. Tanpa perlu banyak wacana. Yang penting, caranya tidak berlawanan dengan apa yang mereka yakini. Tak heran jika orang-orang seperti mereka terkenal vokal. Karena, secara struktur sosial sendiri, pilihan hidup mereka bukanlah cara orang kebanyakan. Tersembunyi dalam keseragaman, dan menonjol terang-terangan ketika apa yang mereka simpan di belakang, keluar di permukaan. Bagaimana mereka memilih kebenaran ketimbang kedudukan dan kebosana...

Mencari begawan

Saat ini yang kita miliki mungkin hanya kemewahan. Untuk sekedar hidup, dan menyisakan kepenatan tanpa sempat memilah dan mencerna pikiran. Tanpa merasakan kehangatan matahari. Tanpa kelegaan menghirup udara yang baru saja mensucikan malam. Dengan embun. Dengan debu letusan puncak bukit yang keruh. Itulah kemewahan yang seringkali diagungkan. Bagaimana bisa sinar surya meraba pori-pori hati, jika tubuh lebih nyaman menutup diri. Dengan tabir surya, kaca berlapis penangkal sinar ultra, atau pengubah udara. Membuat flu manusia desa, dan membekukan setiap tulang di tubuh mereka. Sementara kemewahan hakiki, murni, tanpa pemanis buatan penuh dengan iklan menyesatkan, kita lupakan. Beruntung jika setelah orang-orang tak beralas kaki, akhirnya percaya, yang mereka miliki bukan kemewahan, dan mereka tinggalkan, bisa dijual dengan kelipatan sekian. Untuk air jernih dari hulu nafas pegunungan. Untuk atap-atap tinggi yang menutupi birunya bukit di kejauhan. Untuk tanah keras tanpa serangga penguk...

Durung wayahe

Yaaa...mari fokus dulu ke acara yang udah jadi tanggung jawab *dadah-dadah ke Myanmar

Malam keramat

Deadlock. Apa yang bisa diharapkan oleh chaos? Tanpa pondasi? banyak pilihan. namun apa yang terjadi di belakang, memberikan beban. ketika hanya butuh kepala, sementara semua merasa perlu berkata. Demi emosi dari hati. Demi gengsi penguasa diri