Skip to main content

Sri di pasar

Sri bisa jadi nama dewi padi. Pembawa kesuburan sekaligus pertanda kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup darinya. Tak heran juga, jika kemudian banyak orang-orang Jawa mencantumkan Sri pada nama anak-anak mereka. Berharap kelak Sri-sri ini kemudian mampu membawa kebahagiaan dan juga memberikan kelegaan di saat mereka akhirnya mampu mandiri.

Bahkan sampai sekarang, di jaman orang bisa menamai anaknya dari beraneka sumber informasi dan rujukan, nama Sri masih menjadi nama standar dan pasaran, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seolah, Sri bukan lagi menjadi kebiasaan, tapi keharusan. Mau tak mau, jika pergi ke pasar dan kebetulan nama depan pedagangnya bernama Sri, jangan lupa untuk bertanya nama belakangnya. Jika tidak, maka anda akan kesulitan untuk berbelanja di tempat Sri yang sama.

Di Pasar Cokro Kembang, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, saya kebetulan cukup akrab dengan dua pedagang dengan nama Sri. Nama lengkap mereka Sri Rahayu dan Sri Rejeki. Sama-sama Sri, tapi beda umur, beda jualannya, juga beda polahnya. Sri yang pertama berjualan soto. Sudah punya cucu. Dan terkenal dengan sifatnya yang senang mengobrol dengan orang baru. Sri yang kedua masih lajang, berjualan kebutuhan sehari-hari, dan cukup lihai dalam mengembangkan usahanya.

Saya terlebih dahulu berkenalan dengan Sri Rahayu. Ketika main ke Pasar Cokrokembang, kios beliau menjadi tempat tujuan mencari makan. Sudah hampir tengah hari saat itu. Dan kebetulan juga, cuma kios beliau yang buka. Beliau termasuk pedagang yang grapyak, rajin mengajak saya dan teman-teman mengobrol. Darimana, tujuannya apa, terus mau kemana. Pertanyaan standar pedagang, tapi cukup membuat kami merasa diterima.

Di kios Ibu Sri Rahayu juga kebetulan saya bertemu dengan Mbak Sri Rejeki. Pertemuan pertama saya dan teman-teman dengan Mbak Sri Rahayu bisa dikatakan hanya numpang lewat. Kami baru bisa berbicara akrab di kemudian hari dengan Mbak Sri Rejeki setelah berbicara panjang lebar. Bisa dikatakan, di pertemuan pertama beliau lebih banyak mendengar obrolan antara kami dengan Ibu Sri Rahayu. Sesekali memang menimpali. Ibu Sri Rahayu menawarkan kami untuk berbincang lebih lanjut kepada Mbak Sri Rejeki ketika saya dan teman-teman kemudian menjelaskan maksud kami untuk pendampingan dan penyuluhan kepada pedagang Pasar Cokro Kembang.

Bukan tanpa maksud Ibu Sri Rahayu menawarkan kami untuk berbincang dengan Mbak Sri Rejeki. Ternyata, di Pasar Cokro Kembang sendiri, Mbak Sri Rejeki merupakan pedagang yang memiliki gelar sarjana. Keluarga beliau kebanyakan bekerja sebagai pegawai, namun beliau memilih untuk membantu ibunya berdagang di Pasar. Ibu Sri Rahayu sendiri tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar. Tak heran jika beliau untuk masalah perdagangan yang cukup rumit, kadang meminta pendapat pada Mbak Sri Rejeki.

Perbedaan diantara kedua Sri ini hanyalah secuil warna diantara Sri-sri lainnya. Dua Sri di pasar yang sama. Tak hanya bertukar nasib sebagai sesama Sri, tetapi juga berbagi pikiran sambil menjaga hati. Maklum, di desa. Urusan kecil, bisa jadi urusan besar ketika menyebar. Jadi hiburan diantara ratusan orang, sambil sibuk mencari Sri di pasar.

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

kapan kau kan kembali

"Jangan pernah menjadikan sahabatmu sebagai pacar" Kalimat ini sering kita denger dari temen kita. Mendingan pacaran sama orang yang ga kita kenal sama sekali daripada pacaran ma temen or sahabat. pacaran ma sobat sendiri itu menurut gua sendiri cukup bikin ga enak. Mungkin enak kalo kita pacaran sama orang yang kenal banget ma kita, ngertiin kita, kita tahu dia siapa, dan lain-lain. Taoi semua keindahan itu akan hilang begitu sebuah permasalahan mencuat di antara persahabatan itu sendiri. gua ada beberapa alasan mengapa pacaran ma sahabat itu rada ga enak luka yang ditinggalkan sahabat lebih dalam daripada luka yang ditinggalkan orang asing. Dan itu akan lebih parah kalo kita sering ketemu. Mau nggak mau. Persahabatan bisa aja nggak hanya 2 orang. Persahabatan itu rangkaian dengan teman yang lain juga. Begitu ada yang terputus, yang lain juga terganggu. Selain itu, persahabatan rentan untuk menimbulkan rasa suka. Bisa aja sobat kita dalam kelompok itu juga menyena...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...