Skip to main content

sunmor

Katakan ini sentimental. Dimana perasaan lebih berkuasa daripada logika yang saya punya. Tapi memang, persoalan ini membuat hati memegang kendali sepenuhnya. Disaat apa yang banyak orang katakan melalui pemikirannya, terjebak dalam forum-forum semu. Diskusi, kata mereka, adalah sarapan roti. Bukan nasi. Hanya bisa menahan lapar sedetik. Tak cukup kenyang demi memuaskan ego kecerdasan pada kemenangan mengolah kata. Tertulis maupun berbisik.

Sarapan mereka adalah nyawa-nyawa ribuan manusia. Statistik. Hanya angka. Mereka ini menjadi angka-angka yang didulang setiap empat tahun sekali. Maka tak heran, roti-roti ini terkadang dibagi. Tak hanya untuk sekali telan, namun dalam jangka waktu tak hanya sebentar. Sehingga, obrolan-obrolan kecil ini menjadi kebenaran. Disajikan dengan kemasan terhebat dalam segala bentuk yang menipu.

Sarapan panjang remah-remah ini dibagikan dengan gratis!!!

“Biarkan mereka kenyang. Dengan lawakan dan tipuan murahan. Sampai tumbang. Sampai tak tahu lagi apa yang harus dimakan.”

Disinilah kemudian panen dituang. Layaknya peternakan darah. Nyawa ini mereka hisap pelan-pelan. Dikekang, diiris, dan disesap pelan-pelan. Ketika nyawa mulai meregang, suntikan bantuan kembali diberikan. Nyawa ternak mereka terlalu saying untuk dibuang. Maka perkembang biakan diciptakan. Dibiarkan dilepas dan membiaskan perpecahan.




Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...