Skip to main content

DOA (Dead Or Alive)


Ada gelisah juga perasaan resah
Dikala bimbang belenggu hatiku yang makin hitam
Tanpa jawaban atas sebuah pertanyaan
Dan kini kuragu karena kutaktahu akan arti malu

Pernah kulihat mentari di sebuah pagi
Berikan harap juga sebuah janji suci
Tuk menopang semua angan juga mimpi
Dan kini ia hilang di saat engkau pergi

Tak hanya sekali kuterjerat putus asa
Kehilangan teman juga seseorang yang kupercaya
Kemana mereka di saat ku nyaris mati
Mengapa tak ada ketika kumencoba bunuh diri

Mencoba tuk berdiri menggapai sesuatu yang pasti
Meski kutahu nyeri dada terasa semakin pilu
Tak ingin lagi kutenggelam dalam pekat malam
Meski tak tahu kemana takdir ku akhirnya menuju

Pernah ku pergi menghilang dalam sepi
Sekarat sejenak bermandikan pisau karat
Seribu malaikat berkata tak berharga ku mati

Berikan sebuah jalan tuk melangkah bertobat
Sekali lagi kubertanya pada seribu pendeta
Kemana kupergi ketika akhirnya ku mati
Bukan neraka atau surga yang kupinta
Sekedar jawaban untuk apa kuberdoa.

Mungkin kepala tak pernah berbicara
Pada manusia yang lupa pernah punya rasa
Dikala logika tak mampu jelaskan apa-apa
Disaat itu juga kubersujud dan mulai meminta

Padamu tuhan sesekali kupanjatkan
Sebuah keinginan dalam doa di saat ku tumbang
Seribu kali kuberdiri dan terus memaki
Mengapa inginku tak segera Engkau beri

Padamu tuhan sesekali kupanjatkan
Tanpa berharap kau kabulkan semua permintaan
Separuh langkah mungkin tak pantas buatku enggan
Di saat itulah kematian terasa melegakan

(rhyme it. Anybody?)

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...