Skip to main content

Posts

Mencari begawan

Saat ini yang kita miliki mungkin hanya kemewahan. Untuk sekedar hidup, dan menyisakan kepenatan tanpa sempat memilah dan mencerna pikiran. Tanpa merasakan kehangatan matahari. Tanpa kelegaan menghirup udara yang baru saja mensucikan malam. Dengan embun. Dengan debu letusan puncak bukit yang keruh. Itulah kemewahan yang seringkali diagungkan. Bagaimana bisa sinar surya meraba pori-pori hati, jika tubuh lebih nyaman menutup diri. Dengan tabir surya, kaca berlapis penangkal sinar ultra, atau pengubah udara. Membuat flu manusia desa, dan membekukan setiap tulang di tubuh mereka. Sementara kemewahan hakiki, murni, tanpa pemanis buatan penuh dengan iklan menyesatkan, kita lupakan. Beruntung jika setelah orang-orang tak beralas kaki, akhirnya percaya, yang mereka miliki bukan kemewahan, dan mereka tinggalkan, bisa dijual dengan kelipatan sekian. Untuk air jernih dari hulu nafas pegunungan. Untuk atap-atap tinggi yang menutupi birunya bukit di kejauhan. Untuk tanah keras tanpa serangga penguk...

Durung wayahe

Yaaa...mari fokus dulu ke acara yang udah jadi tanggung jawab *dadah-dadah ke Myanmar

Malam keramat

Deadlock. Apa yang bisa diharapkan oleh chaos? Tanpa pondasi? banyak pilihan. namun apa yang terjadi di belakang, memberikan beban. ketika hanya butuh kepala, sementara semua merasa perlu berkata. Demi emosi dari hati. Demi gengsi penguasa diri

kelas

Mudah untuk membagi praduga. Pada alam dan tuhannya. Pada mereka dengan kekayaannya saat menghadapi bencana. Pada ketidakhadiran kebersamaan dalam menghadapi ujian. Dan bodoh, jika praduga yang menjadi cerita.

Fuck this shit

To be honest...Its sad Sad to know that, I still need to be convinced. About what I'm fighting for, my priority, my academic institution, and doubt on what I'm fighting for. Still, I keep walking. Keep on my track. Without any understanding, when I'll reach the target. So, why bothered? I just want to open my heart dumpster key. Just open. Nothing more.

Jump and fly, no stop

Janji

Kamu suka hati-hati bila sudah bertemu denganku. karena aku, bukan orang yang akan membuat janji, jika aku tahu tak mampu menepati. Pengecut? bukan, aku tak mau orang berharap, (atau aku) dan kecewa sendiri pada perasaan yang tak pasti, nanti.

Cukup

Tak mudah menjadi puas. Merasa cukup, dan tidak mengkhawatirkan hal-hal lain di depan. Awalnya kita mengira bahagia berwujud ketenangan. Tenang dari rasa takut kehilangan. Dan paksaan untuk memilih. Karena kita hanya punya tiga. Waktu, tenaga, harta.

sunmor

Katakan ini sentimental. Dimana perasaan lebih berkuasa daripada logika yang saya punya. Tapi memang, persoalan ini membuat hati memegang kendali sepenuhnya. Disaat apa yang banyak orang katakan melalui pemikirannya, terjebak dalam forum-forum semu. Diskusi, kata mereka, adalah sarapan roti. Bukan nasi. Hanya bisa menahan lapar sedetik. Tak cukup kenyang demi memuaskan ego kecerdasan pada kemenangan mengolah kata. Tertulis maupun berbisik. Sarapan mereka adalah nyawa-nyawa ribuan manusia. Statistik. Hanya angka. Mereka ini menjadi angka-angka yang didulang setiap empat tahun sekali. Maka tak heran, roti-roti ini terkadang dibagi. Tak hanya untuk sekali telan, namun dalam jangka waktu tak hanya sebentar. Sehingga, obrolan-obrolan kecil ini menjadi kebenaran. Disajikan dengan kemasan terhebat dalam segala bentuk yang menipu. Sarapan panjang remah-remah ini dibagikan dengan gratis!!! “Biarkan mereka kenyang. Dengan lawakan dan tipuan murahan. Sampai tumbang. Sampai tak tahu lagi apa yang...

Restart

Memulai kembali dengan hal yang sama, tapi bekal yang berbeda. Layaknya pengembara. Masing-masing mengukur perjalanan di setiap jeda. Melihat, sampai mana tujuan akan tercapai. Meski cuaca bukan kuasa manusia, namun, jauhnya pengalaman kelak dapat membuat perjalanan dapat dilanjutkan. Entah dengan perlahan, penuh kecepatan, atau bisa juga, tertahan semalam. Kita tak akan pernah tahu itu

stop

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...

Bersabar menghadapi yang belajar

Entahlah Ini mungkin titik lelah. Titik dimana hampir tak ada kemungkinan melihat sisi yang baik. Sebelumnya mungkin aku mampu belajar dari mereka yang baru belajar. Belajar untuk mencoba hal baru dan melakukan kesalahan yang tidak sepele. Namun batas sabar ini semakin tipis menghadapi mereka yang belajar. Mungkin, pengalaman memang tak cukup menyediakan kesabaran, selain kekuatan mental dan juga pengetahuan, ketika apa yang kita ajarkan seolah penyelamat sementara. Tetap dibiarkan bermain, dan ketika ada yang terluka, mereka yang sudah lebih dulu tahu, dipaksa untuk membenahinya. Setelah sebelumnya, cara-cara yang telah diajarkan, dianggap angin lalu, hanya menyisakan bau

Terang gelap

Saya jengah. Jengah dengan cara-cara yang digunakan oleh banyak orang sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Menjual segala jenis kebaikan sebagai ruang untuk melakukan apa yang dianggap baik dan menjadi alasan justifikasi pihak-pihak lain untuk mencapai tujuan. Saya sendiri mungkin termasuk dalam golongan tersebut. Melihat bagaimana sisi kehidupan yang lain sebagai ruang hitam yang kelak membuat orang-orang di sana tetap terperangkap dan tak mampu keluar darinya. Sementara itu, ada mereka, dalam ruang terang kehidupan, tak bisa melihat batas abu-abu antara ruang gelap dan terang. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan adalah memaksa. Menarik mereka dalam ruang gelap untuk pergi ke ruang terang. Tak memberi kesempatan untuk melihat kembali, apa yang mereka miliki di sana. Menerobos masuk dengan obor-obor terang menyilaukan. Pada akhirnya, mereka di ruang gelap ini tersiksa. Mata mereka terbakar. Buta. Sementara itu, ada juga yang takut gelap. Sekedar mampu berteriak-teriak ...

Pas Band-Jengah Fan Art Remake video

Siapa yang nggak muak sama SBY? Siapa yang nggak muak sama politik? Siapa yang nggak muak sama capres yang ada sekarang? Lagu ini saya rasa pas untuk menunjukkan apa yang sesama kawan rasakan. Sehingga diam-diam, potongan berita saya satukan di video klip ini. Not good enough, but yet still trying to tell. That's what want. That's all.

Sunset

Kandang.

Aku tidak terlalu ingat pertemuan terakhir kami. Samar-samar, seingatku ia sedang menempuh semester 1 kuliah. Ia dan aku terpaut jarak 4 tahun, sehingga kalau dilogika, aku masih duduk di kelas 3 SMP. Di semester dua, ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Memalsukan usia di KTP yang aslinya 19 tahun, menjadi 24 tahun. Dengan paras yang lumayan, dan sifatnya yang riang, dengan cepat ia menjadi pegawai kesayangan. Di pertemuan terakhir itu juga aku melihat bagaimana ia menemukan Jakarta sebagai tempat tinggalnya. Itu saja yang kuingat tentang dirinya. Meraba-raba kembali, bagaimana hubungan kami sebelumnya. Dan sampai hari ini, tidak banyak memang yang dapat kuingat darinya. “Aku sudah lama nggak pulang. Bukan karena tak ingin, tapi mungkin ini yang terbaik” Kabar yang kudengar dari mama, yang diteruskan oleh ayah, dari pembicaraan dengan simbah, memang tidak banyak mengejutkanku. Di Jakarta ia memang menjadi pegawai kesayangan. Pegawai kesayangan kepala divisinya. Sampai ...

The Scientist - Coldplay with lyrics