Skip to main content

Perputaran

Selama ini aku hanya bisa berputar. Mengembalikan apa yang pernah terlewati ke titik dimana ia berasal, dan kemudian memulai sebuah lingkaran yang baru. Namanya juga berputar, ia hanya akan terus berjalan dengan lintasan yang sama, sembari terus menatap pada satu titik penumpu. Terus seperti itu. Dan lingkaran ini akhirnya berhenti ketika titik itu hilang.

Berbeda dengan orang lain yang cenderung memilih jalur lurus di dalam hidupnya. Mereka bisa memilih untuk statis, mendaki, atau terus turun. Setidaknya mereka bisa melihat jauh ke depan. Menyaksikan setidaknya titik di ujung sana masih bisa tertangkap oleh mata. Sementara aku, cenderung melihat ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kukelabui. Mengelabui diri sendiri bahwa memang itu yang kucari.

Dan pada akhirnya, ada satu garis yang memaksa masuk ke dalam lingkaran. Awalnya hanya satu.
Kemudian garis itu bertambah. Kemudian lingkaran milikku terbagi. Dengan titik-titik berbeda. Terkadang keluarga. Ada Kalanya agama. Juga cita-cita.

Potongan-potongan itu kemudian memaksaku beradaptasi. Mencoba untuk tetap menyatukannya, sembari melompati batasan-batasan yang ada di antaranya. Cukup melelahkan, namun terasa nyaman.
Sayang, tak selamanya lingkaran itu tetap bisa disatukan. Masing-masing memiliki gaya gravitasi juga saling mendorong karena kutubnya berbeda. Satu potongan aku tinggalkan. Menyusul yang lainnya. Dan Di satu masa, semua lingkaran ini kehilangan titiknya.

Aku kemudian memilih untuk terus berputar. Sekedar melihat jejak-jejak yang tersisa. Entah coretan tembok, lembaran ekspresi kebahagiaan, juga resolusi ke depan. Hanya bisa berputar

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Titik kosong

Sesaat semua terasa mudah memang, lama diri ini terasah dengan ribuan masalah sampai akhirnya kebosanan membawa lelah Tujuan, katakan selamat datang memanjang tenang slalu Tak lupa di akhir lupakan ragu karena memang tak ada bimbang Dan dunia selalu berputar membawakan setiap titik kehidupan pada akhir masa, agar kita tak lupa bahwa bijaksana tak selalu berteman dengan usia sesaat, kosong. datangkan kehilangan panjang menyerah pasrah kalah dan pulang tusukkan pedang panjang perlahan sudah terbiasa jiwaku dengan kegelapan sesuatu yang tak bisa dikatakan nyaman tapi, di sana aku tenang. pelan-pelan berlari menghilang sampai kembali harapan kau berikan sesaat, bahagia lantas berujung pedih terbiasa tak usah kau tanya, sudah kuduga bahwa hati ini bukan milik siapa di antara jalan bercabang masa depan kubertanya, apa yang kau cari di sana teman, penuntun jalan, imam? di saat sholat malam? dan aku pun tersadar belum lama luka ini hilang belum lama perasaa...