Skip to main content

Posts

Begadang, Laptop, Kopi dan rokok

Menari dalam garis bayang

Sementara tubuhnya terbaring tak utuh terbenam dalam dekapan selimut hangat jiwanya pergi menari. mencari remah-remah hasrat yang pernah tersirat "ijinkan aku membuka bukumu" dan jemari mungil itu perlahan mulai menggores garis. disana mereka lepaskan semua beban yang tersimpan bebas berteriak dan juga menghidupkan semua impian berlari di atas lapisan tipis rembulan yang memantul di atas danau pinggir lubang khayalan menjadi malaikat terindah yang pernah singgah tuk terbang habiskan langit siang dan malam lalu sisakan tumpukan sayap-sayap patah garis pena yang ada disana perlahan menipis oleh tangis juga air mata yang tak pernah habis disanalah jiwanya berkisah. dalam jilidan kertas basah tertimpa bulatan dari tetesan lingkar yang memudar "ijinkan aku tinggal, dan biarkan hidupku berputar" yah, demikianlah cerita yang ada di dunia berakhir saling menari di antara garis tipis tokoh ilusionis berakhir saat tertutupnya tabir.

Jajanan Pasar

Setiap berjalan ke pasar, jajanan pasar selalu sukses membuat saya berhenti sejenak dan kemudian gatal buat merogoh kantong demi beberapa potong kue basah atau cemilan. Jenisnya yang beragam, harga yang terjangkau dan juga obrolan kecil bersama pedagang membuat saya betah dan tak pernah kapok untuk selalu melakukannya.  Di Jogja sendiri, ada dua Pasar yang sering saya rekomendasikan untuk jajanan pasarnya. Pasar pertama adalah Pasar Demangan. Seorang senior memperkenalkannya ketika suatu hari saya meminta tolong buat mencarikan konsumsi buat sebuah acara. Posisinya tidak terlalu jauh dari Kampus UNY maupun UGM, tepat di pinggir jalan Gejayan. Letaknya yang tak jauh dari jalan ini juga yang kemudian sering menimbulkan kemacetan. Los yang menjual jajanan ini terletak di tengah-tengah pasar. Jika orang nggak ngerti, akan sedikit sulit menemukannya.  Pasar lain yang saya rekomendasikan untuk mencari jajanan pasar adalah Pasar Kranggan. Berbeda dengan Pasar De...

Fase

Kita hanyalah fase berbeda. di saat 5 kali matahari berputar, dan kembali pada titik ia berasal Cukup lama memang. tapi kedewasaan tak diukur dengan panjangnya umur. bisa jadi sekarang aku adalah dewasamu. bisa jadi besok kau adalah pengingatku melihat kembali diri ini di masa lalu. mengurangi sedikit keingintahuan pada penyesalan sampai kau berhenti menangis. sampai akhirnya kau tumpahkan tangis. melepaskan beban dikala harapan terasa membebani. Membagi ruang hati pada fase hidup yang terlampau dewasa. pada fase hidup yang terlalu meminta. untuk kita mengerti dan paham segalanya.

Bahagia

Sering kita lupa arti bahagia ketika sebenarnya anak-anak sangat mengenalnya tanpa beban, tanpa kata dewasa, dan juga terpaksa

Gambar terakhir

Buat mereka, gambar adalah deretan angka yang tercipta oleh warna. Menyusun waktu di antara lubang cahaya sedetik dua. Lantas terbenam Dimana sebuah kamera analog tua berteman dengan tumpukan kabel lainnya. Menanti telunjuk mungil rengkuh lembaran hitam penjaga memoar. Jemari ini sering merasa ragu. Menjaga parasmu, dalam sehelai penangkap gambar. Tanyaku perlahan, apa yang kau simpan? Tanpa kuminta lengkung itu terukir manis di bibir. Demikian cerita sebuah tawa yang selalu kuingat. Erat. Sampai terbiasa berteman pada cahaya, juga peliknya semburat garis gurat geliat gelap. Tanpa tahu akhir dari cerita di dalam kamar gelap. Membasuh sekeping plastik coklat, sebelum akhirnya bergelung di antara tabung. Bisu. Di antara butir pasir, duduk bersila sambil menahan silau cahaya. Terakhir itu kutangkap dirimu dalam lensa kameraku.

Tetua

image , a photo by gthozy on Flickr.

Langit rahasia

Langit memerah juga basah. Menghitung berapa warna semburat pelangi muncul setelah hujan turunkan petang di antara dua bukit kecil, memerah saga di atas sana Pondok mungil berhiaskan kayu tak berwarna entah cokelat, pekat, beradu hangat Segelas kopi, diam-diam kau resapi entah temaram malam, atau gelap petang Bayang-bayang itu tetap mengekor pergi tak pernah mau berhenti mengikuti menghitung banyak jejak juga yang terjadi kelak selepas sayap itu akhirnya jatuhkan kepak Satu demi satu kembang tiga warna tumbuh selepas hujan, selepas petang. Diantara puncak dua bukit Tercerabut oleh embun juga kabut, penuh rasa takut Lalu pelan-pelan perih ini tersimpan, beradu letusan senapan

Balik layar

Selama ini saya cukup menikmati peran sebagai seseorang yang berkerja di balik layar. Menikmati proses berfikir dan melihat, sejauh mana kesinambungan proses demi proses yang kemudian menciptakan sebuah hasil. Cukup melelahkan dan membutuhkan kesabaran memang, belum ditambah dengan tekanan karena memang kerja sebagai seorang pemikir jarang kelihatan. Menjadi konseptor atau pekerja di balik layar saya mulai dengan terlebih dahulu dengan menjadi seorang perkerja lapangan. Entah itu sebagai perlengkapan, publikasi atau dokumentasi. Berkerja sebagai orang lapangan bukanlah sesuatu yang rendah. Memang, seringkali berkerja keras di belakang jarang terlihat sebagai sesuatu yang membanggakan. Capek iya, dihargai jarang. Tapi justru disitu kunci pergerkan sebuah sistem organisasi atau apapunlah namanya. Berkerja dari bawah membuat saya bisa melihat kebutuhan dan faktor kegagalan terkecil dan seringkali berdampak besar. Hal inilah yang seringkali terabaikan oleh orang-orang yang menempati posisi...

Dear Cahaya

Dear cahaya... Malam ini aku melihatmu sembunyi. Tertutup oleh kabar bahagia untuk satu asa. Untukmu sendiri, dan aku tahu, ia hanya akan berikan bayang-bayang tak bersisa, untukku. Maka kucoba tuk melihat lagi, barangkali ada secercah pelita dari cerita lainnya

Perputaran

Selama ini aku hanya bisa berputar. Mengembalikan apa yang pernah terlewati ke titik dimana ia berasal, dan kemudian memulai sebuah lingkaran yang baru. Namanya juga berputar, ia hanya akan terus berjalan dengan lintasan yang sama, sembari terus menatap pada satu titik penumpu. Terus seperti itu. Dan lingkaran ini akhirnya berhenti ketika titik itu hilang. Berbeda dengan orang lain yang cenderung memilih jalur lurus di dalam hidupnya. Mereka bisa memilih untuk statis, mendaki, atau terus turun. Setidaknya mereka bisa melihat jauh ke depan. Menyaksikan setidaknya titik di ujung sana masih bisa tertangkap oleh mata. Sementara aku, cenderung melihat ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kukelabui. Mengelabui diri sendiri bahwa memang itu yang kucari. Dan pada akhirnya, ada satu garis yang memaksa masuk ke dalam lingkaran. Awalnya hanya satu. Kemudian garis itu bertambah. Kemudian lingkaran milikku terbagi. Dengan titik-titik berbeda. Terkadang keluarga. Ada Kalanya agama. Juga cita-cit...

DOA (Dead Or Alive)

Ada gelisah juga perasaan resah Dikala bimbang belenggu hatiku yang makin hitam Tanpa jawaban atas sebuah pertanyaan Dan kini kuragu karena kutaktahu akan arti malu Pernah kulihat mentari di sebuah pagi Berikan harap juga sebuah janji suci Tuk menopang semua angan juga mimpi Dan kini ia hilang di saat engkau pergi Tak hanya sekali kuterjerat putus asa Kehilangan teman juga seseorang yang kupercaya Kemana mereka di saat ku nyaris mati Mengapa tak ada ketika kumencoba bunuh diri Mencoba tuk berdiri menggapai sesuatu yang pasti Meski kutahu nyeri dada terasa semakin pilu Tak ingin lagi kutenggelam dalam pekat malam Meski tak tahu kemana takdir ku akhirnya menuju Pernah ku pergi menghilang dalam sepi Sekarat sejenak bermandikan pisau karat Seribu malaikat berkata tak berharga ku mati Berikan sebuah jalan tuk melangkah bertobat Sekali lagi kubertanya pada seribu pendeta Kemana kupergi ketika akhirnya ku mati Bukan neraka atau surga yang kupinta Sekedar jawaban untuk apa kuberdoa. Mungkin ke...

Sang Ratu: Person of the year 2011

Dalam hati, sulit sebenarnya untuk menggambarkan seseorang yang bisa dikatakan benar-benar mempengaruhi kisah saya di tahun 2011. Sempat mencoba menuliskan sebuah nama, namun justru itu membuka luka lama. Kami berdua sama-sama terluka. Dan saya sendiri sadar, kami berdua masih mencoba untuk percaya, bahwa tali yang terlanjur saling mengikat, pelan-pelan diurai dan kemudian dirangkai menjadi sebuah rajutan dengan bentuk yang berbeda. Di saat yang sama, saya sangat mencintai, sekaligus benci. Justru karena saya sayang kepadanya. Lantas, saya mencoba untuk melihat kembali. Seseorang yang pantas untuk saya cantumkan namanya di dalam tulisan ini. Seseorang yang mungkin diam-diam tak tahu bahwa terkadang ia mampu menopang isi kepala, sekaligus beban yang tersimpan di dalam dada. Tetap mengingatkan ketika tubuh ini nyaris terbang, menjadi air di saat amarah membakar merah, atau kemudian mengajak berbincang di kala hati ini bimbang. Saya tak tahu, apa yang ada di kepalanya, dan apa yang ia bay...

Pepohonan sunyi

Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan. Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam. Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar. Di sudut pintu rumah aku terdiam. Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu. Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya. Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir. Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang. Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu. Tapi aku terlalu malu tuk akui itu. Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang. Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.

Kambing Busuk

Satu lebaran datang. Katanya titipan tuhan. Disampaikan Ibrahim ke Ismail dan perutku kenyang Makan kambing segudang. Tak habis dibagikan. Lupa disebelah rumah ada pemungut sampah. Bau busuk semerbak hilang. Ada bangkai terperosok di dalam tong. Bingung. Seharian ia mengemis makan. Tak seorang ulurkan tangan. Takut jadi korban peminta gadungan. Pintu tertutup, mulut mengerut. Dan kantong daging busuk semerbak hilang. Perutnya keroncongan. Sementara seharian, sudah 11 kali aku ke belakang. Buang hajat berulang-ulang. Cair, basahi celana tanpa tahu Kapan hujan reda dan salin tiba.

Tengah malam

Selamat malam Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja. Aku takut kau kembali bergelung dalam malam. Menanti obrolan panjang sebelum akhirnya terlelap dengan hangat. Di setiap perhentian petang, seringkali kuberhenti sejenak. Menyesap istirahat, kepulkan penat. Hanya asing yang ada. Entahlah, tak ada wajah akrab. Sekedar bertanya, siapakah asing itu. Mungkin memang nyaman berterus terang pada seorang yang tak dikenal. Sampai hari ini, pelan-pelan langkah ini terus kuayunkan. Tapi tak bisa lepas dari semua beban. Beberapa perbekalan tertinggal dalam kotak hitam pojok ruangan. Aku titipkan tanpa pesan. Selamat malam. Sampai di sini kabarku hari ini. Andai waktu ijinkanku pulang, tapi langkahku terlalu panjang. Selamat malam.Sudah hampir 12 siang...

Peluk

Untukmu tak ada benci yang mampu hapuskan rindu. Setia melangkah dalam hitamnya kehidupan dan juga gelapnya mata hati ini. Dan mungkin, memang inilah yang terbaik. Bangunkanku dari tidur panjang, akan kisah indah tanpa derita. Maaf jika terang terlalu lama datang. Sesal selalu tersisa. Tapi, semua ini akan terasa sia-sia jika akhirnya berhenti begitu saja. Sudahlah, aku senang melihat kau tersenyum disana. Setelah tetes hitam, perlahan kutinggalkan dilubuk hatimu di penghujung petang. Kuharap, peluk itu masih bisa kurasakan. Hangat dan membawaku tertidur dengan tenang. Semua akan berputar bersama waktu, dan di saat itu, semoga kita bisa bertemu. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Dengan siapapun kelak, semoga bahagia yang terus kau rasa. Terima kasih...

Ruang Hampa

Jarang sepertinya buatku tuk bicara terbuka soal siapa yang ada di hati ini. Secara terbuka. Cukup melihat dan tahu bahwa orang itu ada. Sekedar meraba-raba, entah kapan mulainya, kapan berakhirnya. Mungkin sebagian besar hanya melihat dari kejauhan, dan bertanya, siapa. Jujur, tak banyak pengalaman yang bisa kukatakan. Aku senang untuk menikmatinya sendiri. Merasakan bagaimana hidup terasa nyaman disaat seseorang datang dan kemudian duduk di samping ruang hati ini. Dan semuanya bermula sebagai teman, karena buatku, mengejar seseorang tanpa ada perasaan nyaman untuk dikenal, sekedar permainan tanpa tujuan. Bisa berakhir kapan saja, bukan karena tak nyaman, namun karena ada peraturan yang dilanggar. Semua tampak indah di awal. Semua berawal oleh perasaan nyaman sebagai teman. Karena benar, sebuah hubungan buatku bukan sekedar senang-senang. Mencoba tuk membagi dan mengerti apa yang kelak akan kulalui. Yah, dan akhirnya semua itu berhenti. Masing-masing dengan cerita berbeda. Ada yan...

Kipas kertas hujan angin

Indah memang. Tinta hitam aksara cinta. entah apapun artinya. Terlipat dengan rapi menggariskan pertanyaan. Kalau saja kutahu bahasa itu Sementara ribuan impian berjejalan di dalam urat pengantar pesan. Kain panjang pembungkus tubuh kita mungkin berbeda Terik siang. di saat belenggu panas datang, usir mereka begitu saja. Terlalu sesak katamu. Di dalam satu ruang mungil tertutupi dada juga derita yang tak pernah sampai di telinga. Satu-satu terurai panjang. Mengulur bak benang merah antara satu hati, ke hati lainnya. Panjang rasanya jika kuteruskan. Bak layang-layang, membumbung tinggi. dan hujanpun datang. Sayang, kipas kertas tak bisa mengusir kegelisahan. Dan kita bertanya. Tak mengapa. Turunkan saja sejenak. Kelak tali ini kan membawa cerita lainnya. Dengan hujan angin yang berbeda, dan kuharap, tetap dengan layang-layang yang sama.

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun. Sejak kapan, aku pun tak tahu wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga. Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil. berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil. manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga. layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan demi sebuah struk gaji pokok bulanan untuk itulah, kisa...