Ga semua orang ngerti soal penerbitan. Bahkan seorang mahasiswa semester 8 yang skripsinya tak kunjung usai. Padahal ia mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, lebih populer dengan nama lamanya, Fakultas Sastra. Sebuah fakultas yang harusnya bikin orang rajin menulis dan membaca. Yang seharusnya secara otomatis bikin deket sama dunia penerbitan. Tapi, alamat penerbit dan tempatnya saja ia tak tahu. Sampai kemudian ia mengajukan sebuah lamaran kerja pada sebuah penerbit terkemuka di negaranya. Ia diterima, dan kemudian menyesal. Buku-buku yang ia baca ternyata tak berguna. Dibandingkan dengan belantara penerbitan yang akan ia masuki, ilmu yang ia punya bagaikan sebatang rumput, kering, dan nyaris tercerabut angin. Tak ada artinya. Tapi Buat penerbit tersebut, rumput kering tak berharga tersebut disiram dan dipelihara pelan-pelan. Menanti, apakah kemudian ia akan tumbuh lebat menyemarakkan belantara, atau kemudian hilang tak berbekas karena terlalu sering merunduk saat ia diinjak-injak. Lalu dic...