Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

Sang Ratu: Person of the year 2011

Dalam hati, sulit sebenarnya untuk menggambarkan seseorang yang bisa dikatakan benar-benar mempengaruhi kisah saya di tahun 2011. Sempat mencoba menuliskan sebuah nama, namun justru itu membuka luka lama. Kami berdua sama-sama terluka. Dan saya sendiri sadar, kami berdua masih mencoba untuk percaya, bahwa tali yang terlanjur saling mengikat, pelan-pelan diurai dan kemudian dirangkai menjadi sebuah rajutan dengan bentuk yang berbeda. Di saat yang sama, saya sangat mencintai, sekaligus benci. Justru karena saya sayang kepadanya. Lantas, saya mencoba untuk melihat kembali. Seseorang yang pantas untuk saya cantumkan namanya di dalam tulisan ini. Seseorang yang mungkin diam-diam tak tahu bahwa terkadang ia mampu menopang isi kepala, sekaligus beban yang tersimpan di dalam dada. Tetap mengingatkan ketika tubuh ini nyaris terbang, menjadi air di saat amarah membakar merah, atau kemudian mengajak berbincang di kala hati ini bimbang. Saya tak tahu, apa yang ada di kepalanya, dan apa yang ia bay...

Pepohonan sunyi

Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan. Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam. Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar. Di sudut pintu rumah aku terdiam. Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu. Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya. Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir. Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang. Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu. Tapi aku terlalu malu tuk akui itu. Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang. Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.

Kambing Busuk

Satu lebaran datang. Katanya titipan tuhan. Disampaikan Ibrahim ke Ismail dan perutku kenyang Makan kambing segudang. Tak habis dibagikan. Lupa disebelah rumah ada pemungut sampah. Bau busuk semerbak hilang. Ada bangkai terperosok di dalam tong. Bingung. Seharian ia mengemis makan. Tak seorang ulurkan tangan. Takut jadi korban peminta gadungan. Pintu tertutup, mulut mengerut. Dan kantong daging busuk semerbak hilang. Perutnya keroncongan. Sementara seharian, sudah 11 kali aku ke belakang. Buang hajat berulang-ulang. Cair, basahi celana tanpa tahu Kapan hujan reda dan salin tiba.

Tengah malam

Selamat malam Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja. Aku takut kau kembali bergelung dalam malam. Menanti obrolan panjang sebelum akhirnya terlelap dengan hangat. Di setiap perhentian petang, seringkali kuberhenti sejenak. Menyesap istirahat, kepulkan penat. Hanya asing yang ada. Entahlah, tak ada wajah akrab. Sekedar bertanya, siapakah asing itu. Mungkin memang nyaman berterus terang pada seorang yang tak dikenal. Sampai hari ini, pelan-pelan langkah ini terus kuayunkan. Tapi tak bisa lepas dari semua beban. Beberapa perbekalan tertinggal dalam kotak hitam pojok ruangan. Aku titipkan tanpa pesan. Selamat malam. Sampai di sini kabarku hari ini. Andai waktu ijinkanku pulang, tapi langkahku terlalu panjang. Selamat malam.Sudah hampir 12 siang...

Peluk

Untukmu tak ada benci yang mampu hapuskan rindu. Setia melangkah dalam hitamnya kehidupan dan juga gelapnya mata hati ini. Dan mungkin, memang inilah yang terbaik. Bangunkanku dari tidur panjang, akan kisah indah tanpa derita. Maaf jika terang terlalu lama datang. Sesal selalu tersisa. Tapi, semua ini akan terasa sia-sia jika akhirnya berhenti begitu saja. Sudahlah, aku senang melihat kau tersenyum disana. Setelah tetes hitam, perlahan kutinggalkan dilubuk hatimu di penghujung petang. Kuharap, peluk itu masih bisa kurasakan. Hangat dan membawaku tertidur dengan tenang. Semua akan berputar bersama waktu, dan di saat itu, semoga kita bisa bertemu. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Dengan siapapun kelak, semoga bahagia yang terus kau rasa. Terima kasih...

Ruang Hampa

Jarang sepertinya buatku tuk bicara terbuka soal siapa yang ada di hati ini. Secara terbuka. Cukup melihat dan tahu bahwa orang itu ada. Sekedar meraba-raba, entah kapan mulainya, kapan berakhirnya. Mungkin sebagian besar hanya melihat dari kejauhan, dan bertanya, siapa. Jujur, tak banyak pengalaman yang bisa kukatakan. Aku senang untuk menikmatinya sendiri. Merasakan bagaimana hidup terasa nyaman disaat seseorang datang dan kemudian duduk di samping ruang hati ini. Dan semuanya bermula sebagai teman, karena buatku, mengejar seseorang tanpa ada perasaan nyaman untuk dikenal, sekedar permainan tanpa tujuan. Bisa berakhir kapan saja, bukan karena tak nyaman, namun karena ada peraturan yang dilanggar. Semua tampak indah di awal. Semua berawal oleh perasaan nyaman sebagai teman. Karena benar, sebuah hubungan buatku bukan sekedar senang-senang. Mencoba tuk membagi dan mengerti apa yang kelak akan kulalui. Yah, dan akhirnya semua itu berhenti. Masing-masing dengan cerita berbeda. Ada yan...

Kipas kertas hujan angin

Indah memang. Tinta hitam aksara cinta. entah apapun artinya. Terlipat dengan rapi menggariskan pertanyaan. Kalau saja kutahu bahasa itu Sementara ribuan impian berjejalan di dalam urat pengantar pesan. Kain panjang pembungkus tubuh kita mungkin berbeda Terik siang. di saat belenggu panas datang, usir mereka begitu saja. Terlalu sesak katamu. Di dalam satu ruang mungil tertutupi dada juga derita yang tak pernah sampai di telinga. Satu-satu terurai panjang. Mengulur bak benang merah antara satu hati, ke hati lainnya. Panjang rasanya jika kuteruskan. Bak layang-layang, membumbung tinggi. dan hujanpun datang. Sayang, kipas kertas tak bisa mengusir kegelisahan. Dan kita bertanya. Tak mengapa. Turunkan saja sejenak. Kelak tali ini kan membawa cerita lainnya. Dengan hujan angin yang berbeda, dan kuharap, tetap dengan layang-layang yang sama.

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun. Sejak kapan, aku pun tak tahu wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga. Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil. berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil. manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga. layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan demi sebuah struk gaji pokok bulanan untuk itulah, kisa...

susur pantai

Kembali ke tempat tidur

"Anggap saja semua yang ada di dunia itu milik bersama. Rumah kita. Selama ada langit untuk diintip dan juga lantai tuk bersantai, mengapa harus ada ketakutan bahwa esok tak memberikan kehidupan?!"

Sebuah keping kerang di tengah ganggang

Sainganmu hanyalah badai. Berteriak tanpa henti dan tak tahu dimana dirimu. Terkadang tenggelam dalam asin laut, lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri melihat, sampai dimana akhirnya desir ombak membawamu menari mengusik berlapis-lapis kertas yang kau gunakan tuk bersembunyi bahkan enggan topeng itu terlepas sejenak. Dan di saat semuanya usai, aku lega sudah ada tawa di sana. Mungkin tak ada yang tahu. Mungkin kau yang tak mau tahu Diam-diam bisu malam seolah menjadi teman menunggu, sampai kapan pasang akan bertahan, lalu kembali lagi pada sesuatu yang tak pasti. Menanti kapan seorang bajingan lepaskan beban di dalam ketakutan. Untuk itu setiap malam bintang mengajakmu begadang Menuntun pada cerita manusia setengah ikan berambut panjang. Memaksanya berhenti bernyanyi pada setengah hati yang hilang dibawa pergi. Buatmu, cerita ini usai. Ada yang menggantung sepertinya di antara hiasan dinding kamar Lalu semua bosan. Sama saja seperti ribuan keping kenangan di balik kantong berhiaskan boto...

Mengejar Senja

Sebuah obrolan panjang di antara batas akhir yang tak pernah sama

Antara tersadar atau tidak, seringkali obrolan kita berputar pada hal-hal yang tak masuk akal. Bukan tak masuk akal sebenarnya, lebih kepada sesuatu yang mungkin dianggap mistik ataupun nggak logik. Dan akhirnya, obrolan panjang itu membuat orang mengira bahwa kita hanya tertarik pada sesuatu yang tak nyata. Terlebih dengan keanehan dan juga kesenangan yang kita cari melalui media berbeda-beda. Terkadang ada waktu dimana terangnya malam membuatku menari-nari tanpa henti. Di lain hari, cukup segelas kopi tuk menyamarkan kantong mata ketika ia semakin gelap dan berat untuk terungkap. Sedetik lainnya, bisa saja kita sudah terbang dan menghilang di antara sayap-sayap malaikat. Memilih untuk merendahkan diri ke hadapan tuhan, meski setelahnya sebotol bir larut ke dalam urat-urat nadi menanti pagi. Sampai besok, belum ada bayangan kemana kelak kita kan bertemu. Di saat kau mengucapkan salam perpisahan sebelum waktunya. Lalu langkah itu tertunda. Sekedar menunggu waktu yang tak tepat untuk ke...

Sinetron

"Simpel kelihatannya. Tapi dalam praktek, butuh tenaga ekstra. Dan beruntunglah bagi mereka yang sempat mengatakan kalimat di atas, lalu dapat merasakannya. Who can believe that happens? But the truth is, sometimes we'll find some people like that. They're the lucky one, and who will not jealous". "Saya termasuk salah satu yang tidak percaya kepadanya. Faktanya, Thomas Alfa Edison saja sampai mengatakan, kesuksesan adalah 10 % Bakat, dan 90 % kerja keras. Dan tak lupa disertai tujuan yang pasti. Kehidupan di masa kecil yang mungkin tak seberuntung teman-teman, mengajarkan saya kerasnya kehidupan. Klasik terdengar saat cerita ini berlanjut, dan mungkin sudah ada yang bisa menebak apa saja isinya. Ayah saya meninggal, ibu menikah lagi, dan ayah tiri saya luar biasa kejamnya. Seperti sinetron". "Boleh saya teruskan kisah anda?" Ucap si lawan bicara. "Silahkan" "Untuk sebuah kisah hidup layaknya sinetron, sepertinya perlu ada sedikit ...

Manusia Cermin

Entah kau ingat atau tidak, dahulu kau pernah mengatakan tentang sebuah hukum kehidupan "Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa" Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang. Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin. Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit. Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang. Ke mukamu. "Pyarrr..." Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku. Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki i...

Hilang...

Tersangkut dan tercerabut maut

Mungkin butuh seribu pesan pendek penuh kesedihan untuk membuatmu sadar

Semalaman tubuh itu bungkam. Tak ada yang mampu membuatnya bangkit dan berpindah ke sebuah titik yang mungkin lebih nyaman. Sementara pagi pelan-pelan merambat. Menyisipkan satu garis tipis cahaya ke dalam retina bola mata. Perih, tapi tak ada yang bisa membuatnya sadar jika kemudian tubuhnya hilang. Tenggelam dalam bayang-bayang bangunan kosong nan sombong. "Aku rasa, cukuplah hidupku dalam siklus yang tak bertepi ini" Ia bercerita panjang tadi malam. Membagikan satu-satu kisah reinkarnasi yang ia hadapi setiap akan mati. Semuanya tetap terekam dan tak ada yang bisa bilang kalau itu hanyalah bualan. Terlalu datar dan terkesan membosankan mendengar seseorang berbicara mengenai kehidupan yang sebenarnya tak bisa kita lihat dan rasakan.  Yah, ia sendiri tak tahu mengapa ia hidup kembali dalam sosok tanpa hati. Merasakan kehidupan yang terulang tanpa tahu apa saja yang hilang. Kehilangan teman dan juga orang-orang yang tak ia temukan di dalam sembilan ratus siklus kemudian. Sem...

Membangunkan orang dari mimpi

Kemarin malam kami berbincang mengenai masa depan. Ia, seorang kakak angkatan yang baru saja lulus setelah menunda skripsinya hanya karena memang tak mau saja. Saya, yang menunda skripsi, demi memperjuangkan harga diri. Berbeda, tapi setidaknya saya belajar darinya. Sebuah hambatan dalam menempuh jalan akan terasa lebih berat saat kita akan meneruskan sebuah impian yang tertinggal. Sebenarnya bisa saja saya nekad memperjuangkan apa yang saya inginkan dalam sebuah karya tulis penutup lembar masa perkuliahan. Sayang, keadaan mengajak saya kembali berfikir, apakah kemudian jalan yang saya ambil kemudian memberikan kemudahan di masa depan. Akankah ia kemudian memberi manfaat dan juga akibat yang sama besarnya jika saya tetap saja nekad. Menemani dan juga mendengar apa yang teman saya bicarakan sedikit banyak membuat saya sadar. Tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. TIdak semua aturan, pantas untuk dilanggar tanpa memperdulikan rambu-rambu yang memang tercipta....

Perspektif

Benar salah itu relatif kawan dan tak ada salahnya beda jalan

sad

Buntu

  Diantara himpitan dunia ketiga, juga penjajahan budaya Keserakahan merajalela, tak berdaya sebuah lampu kecil nyaris retak, terjepit tanpa daya lantas, untuk apa tanya berputar-putar di kepala sekedar membahas rumusan persoalan, tanpa kesimpulan 

Pepohonan dan kebuasan :P

        The Trees and the Wild SEN. Smada English Night . May, 28th  Hak Cipta Foto: Junaedi Ghazali No Watermark. Free for share on non bussiness purpose Tell me on shoutbox if you copy it on your web

Zombie Camera

Canon Analog. Bisa moto tanpa baterai

#31 harimenulis: Welcome to the publishing jungle

Ga semua orang ngerti soal penerbitan. Bahkan seorang mahasiswa semester 8 yang skripsinya tak kunjung usai. Padahal ia mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, lebih populer dengan nama lamanya, Fakultas Sastra. Sebuah fakultas yang harusnya bikin orang rajin menulis dan membaca. Yang seharusnya secara otomatis bikin deket sama dunia penerbitan. Tapi, alamat penerbit dan tempatnya saja ia tak tahu. Sampai kemudian ia mengajukan sebuah lamaran kerja pada sebuah penerbit terkemuka di negaranya. Ia diterima, dan kemudian menyesal. Buku-buku yang ia baca ternyata tak berguna. Dibandingkan dengan belantara penerbitan yang akan ia masuki, ilmu yang ia punya bagaikan sebatang rumput, kering, dan nyaris tercerabut angin. Tak ada artinya. Tapi Buat penerbit tersebut, rumput kering tak berharga tersebut disiram dan dipelihara pelan-pelan. Menanti, apakah kemudian ia akan tumbuh lebat menyemarakkan belantara, atau kemudian hilang tak berbekas karena terlalu sering merunduk saat ia diinjak-injak. Lalu dic...

Jogjakarya: Tugumu, Tuguku

Tugumu Tuguku Hak Cipta Foto: Junaedi Ghazali No Watermark. Free for share on non bussiness purpose Tell me on my shoutbox if you copy it on your web

Kata kita...kata orang tua

Tuk dunia

Hey dunia di ujung baka tak usah kau usik malam berkepanjangan di hati orang-orang penuh harapan tempatmu tersaji surga neraka percayalah, hanya ingatkan bajingan penuh dosa entah lelah baju basah keringat cinta atau muntah penuh amarah setelah mabuk dalam mimpi buruk.

Bola mata kaca

ahahai, bangkai menggelepar setelah dihajar kereta bertenaga kuda terbang perlahan lupakan lapar tak ada makan berguling-guling seakan tarian angsa danau keluar dari lembar-lembar proposal Hutan kau tebang, emas kau pendam Cukuplah satu surat terakhir sebelum akhirnya tersingkir berkelana tanpa ada keringat tersisa, senin kamis berpuasa sudah habis tanah dan rumah sampai pulang pun sekedar impian menguap di udara kemarau penuh asap tembakau dan puing-puing kehancuran yang mengundang risau itulah makna tanah dan rumah tak mudah memang menyimpan bendung tangisan terlebih dalam lubuk terdalam makhluk titisan laut tak cukup, hutan kau raup sementara dalam belukar duri kaca imajinasi tak lagi miliki arti, bukankah sudah ada televisi untuk doa. untuk membaca. untuk sebarkan cerita habislah sudah dongeng-dongeng cengeng menguras kantong mata nanar tanpa sinar Sampai lupa untuk apa itu menangis. Sampai lupa untuk apa itu mengemis.

Impian primer, sekunder dan tersier

Dulu, jaman SMP kelas satu guru ekonomi saya pernah mengatakan,"Kebutuhan akan selalu bergeser bukan lagi berdasarkan tingkatan uang, tapi pemikiran" Pada akhirnya, apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Kebutuhan primer bukan lagi sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sekunder bukan lagi pendidikan dan bahan bacaan. Namun tidak dengan kebutuhan tersier. Di saat semua pergeseran beralih ke arah bawah, kebutuhan tersier tetap pada tempatnya. Selalu berbeda dan mahal harganya. Begitu juga dengan mimpi dan harapan. Semakin bertambah usia, pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan selalu berpindah-pindah posisinya. Seiring waktu pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan merangkak naik posisinya. Ketika saya kecl, tak ada beban untuk mengatakan mau jadi apa di saat saya besar nanti. Begitu juga dengan teman-teman TK lainnya. Jika mereka melihat Susan menyanyi, kalau besar mau jadi dokter, semua mau jadi dokter. Ketika mereka melihat, menjadi wartawan adalah ha...

ning...nung...

12 nada tak cukup menafsirkan arti suara dalam alunan berbeda seperempat abad tersembunyi pesan-pesan tak tertafsirkan di ratusan tahun kemudian, hilang bolehlah semua bahasa kering mengingat ratusan lirik yang pernah terucap olehmu namun, siapa yang bisa menangkap kepedihan dan luka yang tersimpan dalam lantunan tanpa nada, hanya bersuara

Valentine dari ibu

Pelan-pelan ia membuka dompet tipisnya. Menghitung, berapa banyak uang tersisa. Teringat kembali apa yang dikatakan sang kekasih "Nggak usahlah kau ikutan orang-orang. Sok peduli kasih sayang di tengah bulan. Padahal, setiap hari isinya pertengkaran. Sama saja kau berdusta dengan diri sendiri" Yah, ia memang sempat ragu. Haruskah uang makan setengah bulan, ia korbankan demi perayaan kasih sayang. Ia memang bukanlah seorang yang berada. Tapi bolehlah sekali saja di dalam hidupnya, turut merayakan dan dianggap berharga oleh manusia lainnya. Dan akhirnya, ia kembali terpekur di kursi sofa ruang keluarga. Memilih untuk duduk dan menyalakan televisi. Mendengar Ulama dan sejuta manusia putih lainnya berteriak. Bahwa merayakan Valentine membawa diri pada kekafiran. Mengatakan bahwa Valentine hanyalah sebuah tradisi luar yang ditanamkan sebagai sebuah pembenaran terhadap legalitas melakukan segalanya demi kasih sayang. Merasa jengah, digantinya saluran televisi. Kali ini sebuah badut...

Belajar melupakan, atau belajar mengulang?

Di satu kedai kopi semua itu tumpah. Yah, akhirnya teman saya membuka semua permasalahannya. Perasaan kesepian dan kehilangan. Ia tak tahu lagi mau bicara pada siapa, sampai-sampai orang yang biasanya ia hindari justru orang pertama yang ia hubungi. "Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri" Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah. Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegois...

Kesalahan Soekarno Hatta sebagai bapak Bangsa

Siapa Soekarno? Siapa Moehammad Hatta? Pertanyaan ini sekedar mencoba membuka seberapa banyak yang kita tahu tentang negri ini. Tak ada Soekarno dan Hatta maka tak ada negri ini. Tak ada mereka berdua, maka tak ada pula kebebasan dalam berekspresi pasca 1998. Tak ada mereka berdua, maka tak akan ada pula pasar tradisional yang masih berjuang melawan kapitalisme modal asing. Apa yang terjadi saat ini adalah kesalahan mereka berdua. Keduanya membuat kita dapat berdiri sendiri dengan identitas sebuah bangsa, Indonesia. Melupakan semua perbedaan si tole dan si ujang. Menghilangkan kesombongan kesukuan, dan menggantinya dengan persamaan tujuan, kemerdekaan. Mereka membuat kesalahan dengan mengajarkan kita bahwa yang kuat dan yang lemah sama-sama memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab untuk saling menjaga dan juga saling berbagi. Karena mereka berdua juga, di hari ini sang kuat tak bisa menjadi sang raja rimba. Bertindak semaunya dimana saja. Selain itu, karena mereka bedua juga, ribuan pe...

Matahari Pagi

Tak kudengar lidahmu berkisah lagi dari bola mata tanpa sinar mencoba menulis meski hati menangis jikalau perpisahan bukanlah sebuah kesedihan tapi awal dari seratus kisah perjuangan Ketika raga mulai enggan berbagi jiwa selayaknya buku tua di pinggir kota berputar-putar tanpa sadar membentuk lingkar kau tetap tak bisa beranjak dari kursi lunak lelap, pekat mengendap Dan sekali lagi kau menanti titik-titik kecil mengukir waktu ke dalam barisan pesan kematian tersembunyi oleh kekuatan hati agar benih-benih itu tetap bermimpi kau semai, bingkai dan akhirnya bunga-bunga itu terangkai rapat berbaris dalam isak tangis sejenak tuan, ijinkan salam ini tersampaikan sebagai doa dan harapan yang masih tersimpan Untuk sebuah matahari pagi dan untuk ribuan mata tanpa harga diri mereka tetap membalik ribuan persoalan pelik kemudian, tidur panjang tanpa keresahan agar matahari tak sungkan datang

Balada anak naga

Demi api naga dan kerlip lilin lampion malam Raga ini sudah menjadi milik negri tiga ratus tahun silam, sebrangi lautan berbagi hati dan harga diri dan waktu mengijinkan kaki ini bertahan lidah ini sudah terlalu kaku lantunkan Hokkian karena ucapan selamat datang terdengar indah dan juga menentramkan selalu ada kata pendatang di setiap celah yang bisa mengundang arogansi bertabir ketidak adilan benarkah terlalu murah keangkuhan untuk dijual, dan keramahan terasa tinggi untuk digapai ke dalam ruang setelah semua cerita kehidupan beriringan Sampai hari ini selalu ada mimpi terbagi di antara anak cucu, si kaum pendatang dengarkan. Sebuah mimpi hidup sehati tanpa iri dengki dan juga benci karena kami, juga cinta negri ini

Jam pasir Terakhir

Pecah, tertiup udara gurun tak berbeda antara satu dan lainnya semenjak satu per satu tangan-tangan memilih pengganti terakhir di setiap cerita yang berbeda seperti dongeng-dongeng khayal lainnya maka sang putri, penyihir putih peri, bidadari, malaikat, juga iblis bermuka manis mengambil peran yang bisa mereka mainkan sayang, jam pasir meminta mereka pergi Sepertiga terakhir sudah habis sebelum ada yang memutar kembali di lain hari --- Ia lahir dari tangan penyihir tak ingin tua, katanya lahirlah ia, jam pasir penuh sihir tepat ketika sang tua datang menjenguk tubuh renta sang pencipta memanggil sejuta tunas ke dalam penjara kaca hanya demi sebuah pasir bersihir mengusir sang tua dari tubuhnya --- Ini adalah sebuah legenda tentang sihir jam pasir dari 100 abad lamanya penjara abadi bagi raja waktu dan ia hilang tepat saat Tuhan membangkang digantikan butir-butir pil racikan malaikat maut sebelum tertiup h...