Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2012

Gambar terakhir

Buat mereka, gambar adalah deretan angka yang tercipta oleh warna. Menyusun waktu di antara lubang cahaya sedetik dua. Lantas terbenam Dimana sebuah kamera analog tua berteman dengan tumpukan kabel lainnya. Menanti telunjuk mungil rengkuh lembaran hitam penjaga memoar. Jemari ini sering merasa ragu. Menjaga parasmu, dalam sehelai penangkap gambar. Tanyaku perlahan, apa yang kau simpan? Tanpa kuminta lengkung itu terukir manis di bibir. Demikian cerita sebuah tawa yang selalu kuingat. Erat. Sampai terbiasa berteman pada cahaya, juga peliknya semburat garis gurat geliat gelap. Tanpa tahu akhir dari cerita di dalam kamar gelap. Membasuh sekeping plastik coklat, sebelum akhirnya bergelung di antara tabung. Bisu. Di antara butir pasir, duduk bersila sambil menahan silau cahaya. Terakhir itu kutangkap dirimu dalam lensa kameraku.

Tetua

image , a photo by gthozy on Flickr.

Langit rahasia

Langit memerah juga basah. Menghitung berapa warna semburat pelangi muncul setelah hujan turunkan petang di antara dua bukit kecil, memerah saga di atas sana Pondok mungil berhiaskan kayu tak berwarna entah cokelat, pekat, beradu hangat Segelas kopi, diam-diam kau resapi entah temaram malam, atau gelap petang Bayang-bayang itu tetap mengekor pergi tak pernah mau berhenti mengikuti menghitung banyak jejak juga yang terjadi kelak selepas sayap itu akhirnya jatuhkan kepak Satu demi satu kembang tiga warna tumbuh selepas hujan, selepas petang. Diantara puncak dua bukit Tercerabut oleh embun juga kabut, penuh rasa takut Lalu pelan-pelan perih ini tersimpan, beradu letusan senapan

Balik layar

Selama ini saya cukup menikmati peran sebagai seseorang yang berkerja di balik layar. Menikmati proses berfikir dan melihat, sejauh mana kesinambungan proses demi proses yang kemudian menciptakan sebuah hasil. Cukup melelahkan dan membutuhkan kesabaran memang, belum ditambah dengan tekanan karena memang kerja sebagai seorang pemikir jarang kelihatan. Menjadi konseptor atau pekerja di balik layar saya mulai dengan terlebih dahulu dengan menjadi seorang perkerja lapangan. Entah itu sebagai perlengkapan, publikasi atau dokumentasi. Berkerja sebagai orang lapangan bukanlah sesuatu yang rendah. Memang, seringkali berkerja keras di belakang jarang terlihat sebagai sesuatu yang membanggakan. Capek iya, dihargai jarang. Tapi justru disitu kunci pergerkan sebuah sistem organisasi atau apapunlah namanya. Berkerja dari bawah membuat saya bisa melihat kebutuhan dan faktor kegagalan terkecil dan seringkali berdampak besar. Hal inilah yang seringkali terabaikan oleh orang-orang yang menempati posisi...