Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2010

berubah menjadi lebih baik

Jauh di dasar hati manusia, selalu ada keinginan menjadi baik. Hal ini mungkin menjadi dasar teori Realisme. Tapi, kebaikan tidak hanya menjadi milik realisme saja. Semua aspek dalam kehidupan menginginkan kebaikan. Menjadi pondasi atas struktur sosial yang beraneka ragam. Menjadikan kehidupan sebagai salah satu pertimbangan mengapa kita ada di dunia. Setidaknya ada tiga aspek dalam berusaha menjadi baik. Usaha-usaha inilah yang seringkali menjadi point penilaian dari manusia lainnya, karena usaha-usaha dalam berproses menjadi baik lebih penting dari hasilnya sendiri. Bukan apa-apa. Banyak orang yang menginginkan hasil yang baik. Tapi seringkali keinginan itu tidak dibarengi dengan proses. Sehingga, mungkin akan lebih baik jika memperhatikan proses. Tujuan akhir hanyalah sekedar patokan agar tidak ada kesalahan dalam melangkah. Aspek pertama adalah keinginan kita untuk dapat menerima kebaikan itu sendiri. kita bisa melihat, banyak orang membawakan pesan-pesan kebaikan, menebar nasih...

Mall

Mereka lupa tak ada sayap di punggung Saat terbang lintasi pagar pembatas lantai Sebuah pusat perbelanjaan ibu kota Penuh bidadari cantik berhati iblis Entah, dimana tuhan pada saat itu Sementara setan tertawa menghina Karena tak ada lagi iman tersisa Di tengah jiwa-jiwa hampa Darah terpercik di lantai dasar Sisakan ketakutan untuk pulang Jadikan cerita setiap sudut layar kaca Ajarkan satu cara tuk ribuan mata Besok akan ada orang lain bunuh diri Di mall

aku ingin...

seribu harapan perlahan luruh larut ke dalam hati ini, dingin tapi, tetap ada api unggun tuk disapa tuk merapat dalam gelap sejenak mencoba akrab pada terang slalu, sampai harus ada sesaat merasa asing tak ada lagi tempat tuk bersandar sementara ribuan beban menghadang di satu persimpangan satu titik penantian saat semua inginkan kepastian yang kuberikan hanyalah keputus asaan bukan sayap yang kuinginkan juga arti sebuah kesempurnaan satu saja, tak lebih aku ingin pulang

Datang dan pergi

Apa sih yang membuat saya bertahan dalam sebuah organisasi, komunitas, atau kelompok apapun itu sebutannya? Mungkin banyak yang berfikir, ketika kita ikut dalam sebuah perkumpulan, manfaat yang kita dapatkan dari perkumpulan itu yang membuat kita bertahan. Mungkin juga karena ada satu ikatan, seperti perkumpulan Alumni, atau organisasi kedaerahan. Ternyata, saya bertahan bukan karena itu. Saya menyadari satu hal ketika pada akhirnya saya meninggalkan banyak organisasi, atau justru bertahan di dalamnya. Ada satu alasan yang mungkin dianggap bodoh. Saya bertahan karena teman. Hanya itu. Nggak lebih. Bukan karena jatah menulis. Bukan karena mengejar prestasi. Bukan karena kesempatan untuk pergi ke luar negri. Dan juga bukan karena uang. Nggak sedikit yang bilang bahwa saya hanya buang-buang waktu, tenaga, dan terkadang juga uang. Nggak sedikit yang bilang kalau saya terlalu banyak melewatkan kesempatan yang telah diberikan karena saya memutuskan untuk bertahan atau me...