Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2011

Impian primer, sekunder dan tersier

Dulu, jaman SMP kelas satu guru ekonomi saya pernah mengatakan,"Kebutuhan akan selalu bergeser bukan lagi berdasarkan tingkatan uang, tapi pemikiran" Pada akhirnya, apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Kebutuhan primer bukan lagi sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sekunder bukan lagi pendidikan dan bahan bacaan. Namun tidak dengan kebutuhan tersier. Di saat semua pergeseran beralih ke arah bawah, kebutuhan tersier tetap pada tempatnya. Selalu berbeda dan mahal harganya. Begitu juga dengan mimpi dan harapan. Semakin bertambah usia, pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan selalu berpindah-pindah posisinya. Seiring waktu pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan merangkak naik posisinya. Ketika saya kecl, tak ada beban untuk mengatakan mau jadi apa di saat saya besar nanti. Begitu juga dengan teman-teman TK lainnya. Jika mereka melihat Susan menyanyi, kalau besar mau jadi dokter, semua mau jadi dokter. Ketika mereka melihat, menjadi wartawan adalah ha...

ning...nung...

12 nada tak cukup menafsirkan arti suara dalam alunan berbeda seperempat abad tersembunyi pesan-pesan tak tertafsirkan di ratusan tahun kemudian, hilang bolehlah semua bahasa kering mengingat ratusan lirik yang pernah terucap olehmu namun, siapa yang bisa menangkap kepedihan dan luka yang tersimpan dalam lantunan tanpa nada, hanya bersuara

Valentine dari ibu

Pelan-pelan ia membuka dompet tipisnya. Menghitung, berapa banyak uang tersisa. Teringat kembali apa yang dikatakan sang kekasih "Nggak usahlah kau ikutan orang-orang. Sok peduli kasih sayang di tengah bulan. Padahal, setiap hari isinya pertengkaran. Sama saja kau berdusta dengan diri sendiri" Yah, ia memang sempat ragu. Haruskah uang makan setengah bulan, ia korbankan demi perayaan kasih sayang. Ia memang bukanlah seorang yang berada. Tapi bolehlah sekali saja di dalam hidupnya, turut merayakan dan dianggap berharga oleh manusia lainnya. Dan akhirnya, ia kembali terpekur di kursi sofa ruang keluarga. Memilih untuk duduk dan menyalakan televisi. Mendengar Ulama dan sejuta manusia putih lainnya berteriak. Bahwa merayakan Valentine membawa diri pada kekafiran. Mengatakan bahwa Valentine hanyalah sebuah tradisi luar yang ditanamkan sebagai sebuah pembenaran terhadap legalitas melakukan segalanya demi kasih sayang. Merasa jengah, digantinya saluran televisi. Kali ini sebuah badut...

Belajar melupakan, atau belajar mengulang?

Di satu kedai kopi semua itu tumpah. Yah, akhirnya teman saya membuka semua permasalahannya. Perasaan kesepian dan kehilangan. Ia tak tahu lagi mau bicara pada siapa, sampai-sampai orang yang biasanya ia hindari justru orang pertama yang ia hubungi. "Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri" Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah. Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegois...

Kesalahan Soekarno Hatta sebagai bapak Bangsa

Siapa Soekarno? Siapa Moehammad Hatta? Pertanyaan ini sekedar mencoba membuka seberapa banyak yang kita tahu tentang negri ini. Tak ada Soekarno dan Hatta maka tak ada negri ini. Tak ada mereka berdua, maka tak ada pula kebebasan dalam berekspresi pasca 1998. Tak ada mereka berdua, maka tak akan ada pula pasar tradisional yang masih berjuang melawan kapitalisme modal asing. Apa yang terjadi saat ini adalah kesalahan mereka berdua. Keduanya membuat kita dapat berdiri sendiri dengan identitas sebuah bangsa, Indonesia. Melupakan semua perbedaan si tole dan si ujang. Menghilangkan kesombongan kesukuan, dan menggantinya dengan persamaan tujuan, kemerdekaan. Mereka membuat kesalahan dengan mengajarkan kita bahwa yang kuat dan yang lemah sama-sama memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab untuk saling menjaga dan juga saling berbagi. Karena mereka berdua juga, di hari ini sang kuat tak bisa menjadi sang raja rimba. Bertindak semaunya dimana saja. Selain itu, karena mereka bedua juga, ribuan pe...

Matahari Pagi

Tak kudengar lidahmu berkisah lagi dari bola mata tanpa sinar mencoba menulis meski hati menangis jikalau perpisahan bukanlah sebuah kesedihan tapi awal dari seratus kisah perjuangan Ketika raga mulai enggan berbagi jiwa selayaknya buku tua di pinggir kota berputar-putar tanpa sadar membentuk lingkar kau tetap tak bisa beranjak dari kursi lunak lelap, pekat mengendap Dan sekali lagi kau menanti titik-titik kecil mengukir waktu ke dalam barisan pesan kematian tersembunyi oleh kekuatan hati agar benih-benih itu tetap bermimpi kau semai, bingkai dan akhirnya bunga-bunga itu terangkai rapat berbaris dalam isak tangis sejenak tuan, ijinkan salam ini tersampaikan sebagai doa dan harapan yang masih tersimpan Untuk sebuah matahari pagi dan untuk ribuan mata tanpa harga diri mereka tetap membalik ribuan persoalan pelik kemudian, tidur panjang tanpa keresahan agar matahari tak sungkan datang