Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2011

Bola mata kaca

ahahai, bangkai menggelepar setelah dihajar kereta bertenaga kuda terbang perlahan lupakan lapar tak ada makan berguling-guling seakan tarian angsa danau keluar dari lembar-lembar proposal Hutan kau tebang, emas kau pendam Cukuplah satu surat terakhir sebelum akhirnya tersingkir berkelana tanpa ada keringat tersisa, senin kamis berpuasa sudah habis tanah dan rumah sampai pulang pun sekedar impian menguap di udara kemarau penuh asap tembakau dan puing-puing kehancuran yang mengundang risau itulah makna tanah dan rumah tak mudah memang menyimpan bendung tangisan terlebih dalam lubuk terdalam makhluk titisan laut tak cukup, hutan kau raup sementara dalam belukar duri kaca imajinasi tak lagi miliki arti, bukankah sudah ada televisi untuk doa. untuk membaca. untuk sebarkan cerita habislah sudah dongeng-dongeng cengeng menguras kantong mata nanar tanpa sinar Sampai lupa untuk apa itu menangis. Sampai lupa untuk apa itu mengemis.