Kemarin malam kami berbincang mengenai masa depan. Ia, seorang kakak angkatan yang baru saja lulus setelah menunda skripsinya hanya karena memang tak mau saja. Saya, yang menunda skripsi, demi memperjuangkan harga diri. Berbeda, tapi setidaknya saya belajar darinya. Sebuah hambatan dalam menempuh jalan akan terasa lebih berat saat kita akan meneruskan sebuah impian yang tertinggal. Sebenarnya bisa saja saya nekad memperjuangkan apa yang saya inginkan dalam sebuah karya tulis penutup lembar masa perkuliahan. Sayang, keadaan mengajak saya kembali berfikir, apakah kemudian jalan yang saya ambil kemudian memberikan kemudahan di masa depan. Akankah ia kemudian memberi manfaat dan juga akibat yang sama besarnya jika saya tetap saja nekad. Menemani dan juga mendengar apa yang teman saya bicarakan sedikit banyak membuat saya sadar. Tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. TIdak semua aturan, pantas untuk dilanggar tanpa memperdulikan rambu-rambu yang memang tercipta....