Skip to main content

Posts

Showing posts from 2010

Musang terbang

Sesekali aku ingin terbang, seperti musang tanpa takut ketinggian juga deru kebisingan mereka akhirnya meminjamkan satu malam saat aku paksa menari di tengah dingin dan aku terbang, seperti musang

Kosong

Tak ada lawan, tak ada yang diserang tak ada kawan, tak ada yang menopang tak ada tujuan, sesat perhentian tak ada rumah, keringat tercurah tak ada dosa, surga ternoda tak ada pahala, neraka menganga tak ada waktu, abadi mengilusi tak ada luang, lelap terbayang semua tak ada, semua hampa

Untuk teman...

Sampai malam nanti, dirimu berbaring menepis tangis berujar dunia tak miliki siapa-siapa tuk dipercaya aku tahu, kisah tak cukup sedetik berbagi perlu seribu lembar kertas wangi dan harum tinta sayangnya, sudah tak ada kau saat semua usai terbawa aliran hujan kebahagiaan membasahi hujan dengan sejuta pelangi yang malu menghiasi pagi hari

Tenggelam dalam bayang

Sekilas, semua seakan lepas tak ada yang tahu jikalau masa lalu sekedar selimut hangat membisu sekedar kau, diriku dan siapapun menggema dari satu lembar dinding rasuki rumah terakhir yang berbisik gapai lembut dedaunan di esok pagi di saat bangun tangan pilu ini mencerabut pikiran penuh rasa ketakutan jikalau mimpi tetap indah, biarlah sayang, sampai sekarang ribuan pasang sepatu tak cukup lagi tuk membungkus jemariku. Ia belum bisa menebus harapmu meski luka, meski buta bayang-bayang tak pernah lupa siapa pemiliknya bukan ingin cahaya terkungkung tanpa henti meraba pelan-pelan, adakah sesuatu tertinggal ketika ia tak bisa memilih lahir tapi memilih tuk tinggal

Bahkan Shakespeare pun bisa komersil dan idealis

"Shakespeare itu komersil" Kalimat tersebut keluar begitu saja dari dosen Shakespeare saya, Pak Bakdi Soemanto. Saya yakin, nama beliau cukup terkenal di dunia akademis, khususnya anak-anak sastra. Sebuah jaminan akan analisis sastra yang bukan main-main. Dan ketika kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya kaget. How can? Selama ini nama seorang Shakespeare terkenal karena karya fenomenalnya. Othello, Macbeth, dan Romeo Juliet. Semuanya masih tetap dipelajari dan mempengaruhi karya-karya sastra generasi setelahnya. Artinya, nama seorang Shakespeare memiliki kekuatan aspek yang sangat penting. Kritik sosial, keindahan bahasa, dan juga kekayaan imajinasi. Untuk membuat sebuah naskah drama, Shakespeare seringkali berpergian ke negara-negara yang berbeda hanya untuk mewujudkan sebuah naskah drama. Jadinya nggak heran kalau latar belakang negara dari naskah-naskahnya juga berbeda. Selain itu, ia juga mau belajar dan tidak melupakan kekuatan dari karya-karya sastra sebelumny...

Relawan dadakan

Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata. Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan. Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang s...

Mari berdoa?

Tsunami, Gunung Berapi meletus, Gempa. Bangsa Indonesia pernah merasakan semuanya. Untuk Jogja sendiri, Gempa dan letusan Merapi adalah fenomena alam yang biasa terjadi. terakhir 2006. Dan seketika semua seolah menjadi sadar. Semua berdoa. Semua bersatu. Terbukti, sebenarnya kita masih punya hati. Semua setidaknya masih mau mengingat tuhan ketika ketakutan seperti ini disebarkan. Meskipun kita tidak tahu apakah mereka yang menyatakan simpati, benar-benar dari lubuk hati yang terdalam. Cuma tuhan yang tahu Kita juga tidak tahu, dimanakah kelak nasib Mbah Maridjan dan juga 15 wartawan yang tewas setelah mereka datang ke dunia sana. Mereka berkerja dan kemudian Tuhan menurunkan cobaannya. Benarkah itu cobaan Tuhan? Bukan berarti saya tidak mengakui tuha, tetapi, seolah ketika semua mengatasnamakan tuhan, persoalan dibiarkan seolah selesai. Cukuplah berdoa, dan menyatakan simpati, kemudian tidak ada langkah pasti. Itulah kekurangan bangsa ini. Apa-apa larinya ke Tuhan, permasalahan inti di...

Semata Wayang

Wayang itu membosankan. Bahasanya aneh, juga instrumen yang digunakan ketinggalan jaman. Pendapat seperti itu sering saya dengar. Terutama jika sang pengemuka pendapat bukan asli Jawa. Makin setujulah saya dengan pendapat tersebut. Udah mainnya malam, harus begadang, musiknya juga bikin ngantuk. Lengkaplah wayang sebagai dongengan sakti pengantar tidur. Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil. Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto. Saya diajar beliau selama 3 semester. Semuanya berfokus pada kebudayaan dan juga pertunjukan. Diajarkan bagaimana melihat dan meng...

Mengusir Hujan

Pawang bingung mantranya kabur kalah sakti oleh doa petani menangis dompetnya krisis karena alam sok ekstrimis

Mengenang Hujan

Mungkin hujan sekedar mampir. Setiap kita berjalan, tak letih ia jatuh. Mengajak teman-temannya melompati atap genting bata rumahmu. Sebelum derum motor tumbuhkan niat mengintip, siapakah lelaki malam di setiap relung tidurmu Entah, itu tangis atau gerimis. Wajah mungilmu sedikit menyesakkan pilu. Esok, lusa atau selamanya, kita berpisah. Raga memang selalu indah dikenang, namun bisikan merdu itu tak pernah ragu. Hadir ke dalam letupan-letupan ringan. Sampai besok aku pulang

Mengulang

Semester ini saya mengulang 2 mata kuliah. Yang satu matkul semester 1 dan satunya matkul semester 3. Cukup untuk membuat beberapa kepala menggeleng. Saya nggak bilang saya pintar. IPK saya juga standar-standar aja. Cuma, kenapa justru mata kuliah yang termasuk mudah harus saya ulang, sementara mata kuliah lainnya tidak. Mata kuliah lain yang justru banyak diulang oleh teman seangkatan saya. Mengulang itu nggak gampang. Perasaan itu jelas-jelas kerasa. Kebayang nggak ketemu teman sekelas dengan semangat yang sama. Dan saya sedikit banyak menyesalinya. Tahu gitu mending duduk di perpus dan menggali skripsi-skripsi dari tahun sebelumnya. Adik angkatan saya memiliki isi kepala berbeda. Bayangkan jika kemudian kecepatan mereka menanggapi sebuah masalah dibandingkan dengan kakak angkatannya yang pernah menghadapi masalah yang sama. Berbeda jauh. Perasaan inilah yang akhirnya membuat saya makin malas bertemu mereka. Mengulang kuliah rasanya kosong, nggak dapat apa-apa. Yah, bukan waktunya bu...

Kepercayaan dan ketiadaan

Gimana sih rasanya jadi orang atheis itu? Apakah sekedar tidak memiliki tuhan dan kemudian memandang segala yang ada di dunia ini sekedar elemen dari hukum materialisme? Gambaran menjadi atheis seolah menjadi sebuah identitas yang harus dibuang jauh-jauh, khususnya di negeri ini. Apalagi kalau dikaitkan dengan peristiwa di tahun 1960an dulu. Ga punya agama, artinya komunis. Jadilah KTP Indonesia mencantumkan agama sebagai salah satu identitas yang wajib ada. Statistik KTP jugalah yang membuat Indonesia memiliki penganut agama Islam 3 terbesar didunia. Cuma di KTP. Perasaan wajib dan bukan berhak beragama yang ditanamkan sejak dahulu kala itulah yang akhirnya sedikit demi sedikit memupuk perasaan hampa dalam beragama. Cukuplah sekedar kita mengakui tuhan itu ada, tapi nggak ada rasanya. Di satu sisi, generasi kehilangan identitas. Di sisi lain, ekstrimis bermunculan tanpa pondasi serta toleransi yang kuat. Dua sisi berlawanan ini ada di Indonesia. kehadiran para pemuka dan pemimpin juga...

putra darah

Sampai saat ini, besok ku mati selamanya tak ada perubahan status sampai kelak tanah terbelah semua orang bisa bilang kau satu darah cukuplah kukenal dan pernah kukenal meski aku sendiri tak tahu, siapa dirimu masih haruskah kukatakan, ini sujudku demi satu harapan saat kematian tak neraka membuatku sengsara

Pengendali Naga

Sang naga lama tertidur menunggu datang kekasih hati sejak terlahir kutukan abadi membuat hati tak pernah pergi sendiri, sembunyi

Untuk Maya

Ah, malam. selalu saja kau sepi. tak bisakah sejenak kau pindahkan keramaian kemudian rangkum kata-kata sebentar karena sekarang Maya memaksaku duduk sembari mengajak jari-jari menari menggelitik lekuk tubuh papan ketik Ah, Siang Redupkanlah sejenak pelitamu itu belum ingin aku keluar memandikan pagi tulang tubuh rasanya lepas tak punya pelumas setelah semalam Maya mengajakku pergi ke dunia kedua kaca seratus ribu warna Ah, Tuhan tolong KAU simpan semua firman cukup hati ini tahu bukan neraka tempatku tak ada dosa yang bisa KAU hadirkan dalam dunia maya ciptaanku karena disini, tuhan adalah AKU

Liat apa malam ini?

satu-satu layar monitor kujelajahi ada badut banci ketawa-ketiwi ga jelas apa yang ditertawakannya sementara tingkahnya bikin pusing kepala kubuka layar berikutnya sang ibu tiri mendadak mati bukan oleh ibu peri, atau racun sang suami tapi karena sang produser terus merugi hampir lelah aku telah sampai akhirnya kulihat sesosok wajah terpampang jelas penuh darah dipukul massa yang sedang marah demi malam, aku tertidur tak ada siaran yang bisa menghibur kering sudah hati ini kubanting tv ke peti mati

Software Lebaran

Sudah seminggu lebaran lewat. Arus balik juga sudah mulai tidak sepadat arus mudik. Rumah-rumah di desa menjadi sepi, dan kota semakin padat dengan barang-barang serta orang-orang yang hendak mencari harapan. Apa yang tersisa kemudian? nggak ada. Bahkan kenangan tentang lebaran itu sendiri sepertinya sudah terlalu rutin sehingga tidak ada hal baru yang akan disimpan dalam kenangan.Setiap tahun, semuanya tetap saja sama. Lama-lama, lebaran seakan hyanya sekedar menjadi software. Seakan memogram orang-orang untuk berjalan laiknya zombie tanpa ada bantahan. Tiap lebaran semua mudik, kita ikutan mudik. Semua beli baju, kita ikutan. Semua ngasih angpao, kita ikutan. Lalu bagaimana yang nggak bisa? Siap-siap aja diliatin sama anggota keluarga yang lain dan memendam sedikit rasa sakit hati karena diabaikan. Mana esensi kemenangan setelah menahan nafsu setelah sebulan? Bullshit. Hanya sekedar puasa sebulan aja, terus kita seolah bebas melepaskan apa yang tertahan sekenanya. Lebaran nggak lagi ...

Generasi Transisi

Sudah 3 kali setiap tahunnya aku melihat muka-muka baru berkeliaran di kampus. Selalu ada wajah-wajah polos penuh harapan serta ekspresi kebebasan setelah akhirnya mereka lepas dari bangku sekolah. Bebas tanpa seragam. Bebas tanpa setumpuk buku pelajaran. Dan bebas untuk menafsirkan apa itu arti kehidupan. Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan sekolah. Tak tahu, apa yang saat ini menjadi fokus dan juga tren untuk diikuti dan diimani. Tapi aku yakin, setidaknya selalu ada hal yang tidak akan berubah dari masa sekolah. Banyak yang bilang kalau masa paling indah itu masa-masa di sekolah. Khususnya di bangku sekolah menengah. Saat dimana logika dan juga pengalaman menentukan apa yang akan dilakukan di masa depan. Belajar mengerti apa itu rasa sayang, perhatian juga keputus asaan. Mengerti arti sesungguhnya persahabatan tanpa interpretasi kebutuhan akan uang. Serta tetap belajar untuk selalu kurang ajar. Mengata-ngatai guru yang menyebalkan. Mengintip ...

Me-Replay Orang tua

Posisi antara orang tua dan anak di dalam keseharian kita, aku rasa membuat kita lupa untuk saling memandang sebagai sesama manusia sejajar. Maaf, bukan bermaksud untuk tidak sopan atau gimana, tapi, kebayang nggak sih kalau keseharian ortu bisa saja berbeda antara di rumah dan di lingkungan. Peran yang dimainkan sebagai orang tua membuat diri merasa sulit untuk come-out tampil sebagai diri sendiri karena tekanan normatif lingkungan dll. Orang tua merasa nyaman dan memperlakukan kita sebagai si unyil tadi sore karena memang kita tampil sebagai UNYIL. Sok baik dan seolah nggak ada apa-apa. Pelan-pelan, satu tembok berhasil dibuat. Tembok kebisuan penuh kepura-puraan. Mungkin masing-masing saling bisa memahami satu sama lain tanpa harus ada bicara. Tetapi bayangkan kalau tembok ini nggak ada. Kelegaan dan perasaan kebebasan penuh tanggung jawab setidaknya akan lebih mudah untuk keluar ketimbang harus munafik sama diri sendiri kemudian melanggar segala macam aturan saat tidak kelihatan....

Proyek

Sejujurnya, aku pengen ketawa melihat teman-teman yang seolah berjuang untuk ideologinya, tetapi ternyata justru tak mengerti esensinya. Tapi tidak untuk teman-teman yang berjuang dan bisa menjelaskan dengan argumentasi penuh dasar kuat. aku salut sama mereka. Sayang, jumlahnya tak seberapa. Dan jarang sekali akhirnya orang-orang seperti itu akhrnya bisa maju dan merubah perjalanan bangsa ini. Seperti bapakku Bapak sebenarnya tak pernah berniat bersentuhan dengan politik. Beliau hanyalah seorang yang mencoba menjadi abdi rakyat yang baik. Meniti karir bertahun-tahun sampai akhirnya naik pangkat. Sebuah kedudukan yang cukup prestisius di tempatnya berkerja. Bertemu muka dengan orang penting dan berpengaruh adalah hal yang biasa. Proyek demi proyek berjalan dengan lancar. Cukup untuk membuat anak buahnya tersenyum ketika mereka bisa membuat negri ini menuju ke arah yang lebih baik. Semua baik-baik saja, sampai satu ketika, sebuah proyek pengadaan infrastruktur pengembang...

Nyanyian bisik

setiap hari akan ada jengukan rutin di dalam pintu rumah mengetuk, masuk, dan duduk sebelum surat-surat beraroma hutan perlahan mengendap di hati penghuninya sudah 113 tahun ia tak pulang ia, satu jiwa pengelana yang suka memetik senar-senar dawai gitar di pinggir pagar setiap hari akan ada panas menempel aroma gurun kaki-kaki beralaskan rapuh karet pembungkus kulit mengukur seberapa jauh kaki bukit serta menara api suar, kapal-kapal merapat lalu berlabuh sayup-sayup nyanyian pemetik keringat garam terbawa angin pantai, purnama sebentar lagi padam di dalam lingkaran asap terakhir yang dihembuskan satu kursi di pojok jalan setiap hari kereta kuda tinggalkan 3 istal berbalik mundur tuk dapat terbang sebentar kemana ia hilang, semak keramik tak bisa menjawab mulut-mulut kecil itu terlalu erat menggigit kuas kemudian hujan berwarna hitam mengalir tak ada alur wajah bisa menahan luruh ke dalam serat-serat kain pengunci hati setiap hari...

Selembar kalbu

Bukan mentari yang besarkan isi kepalamu tapi serbuk buku penuh nilai manusia tak pasti bukan juga tanah merah terakhir peraduan tidurmu tapi sejarah abadi saat mimpi ini menjadi pasti kau mungkin bualan yang berikan malam kehidupan tapi kau tak jua jalang sampai akhirnya terlupakan kau mungkin tak lebih gongongan anjing pengusir maling tapi kau bangunkan tidur satu manusia yang pernah sinting dan besok pagi saat dunia ilusi dihabisi seribu anak lahir dari tumpahan isi saku hatimu dan besok saat fajar berhenti di dalam putih matamu seribu doa terpanjat menemani langkah terakhirmu

Malu membisu

tawa tertahan membungkam diam sejenak ragu ada luka terbata kapan nanti semua sedih pergi ukir satu rasa bahagia selamanya Kering sudah lidah kelu berbisik susupkan desahan nafas panjang "Aku hanya ingin tak seperti lilin terangi sekitar sementara habis tubuh ini terbakar" bukan desir ombak sayang dihiasi rasi bintang tak bungkus awan satu rembulan separuh tersenyum untuk lembaran dingin malam terbaring bersama butir pasir terima kasih untuk itu.

satu tetes kegelapan

"Seberapa gelap yang bisa kamu berikan kepada orang-orang yang ada di sekitar?" Kadar kesuraman seseorang itu akan lebih mudah meresap dalam hati orang-orang yang mungkin tak kuat. Satu masalah dan tiba-tiba saja orang yang kita bilang paling tabah pun bisa goyah. Mungkin saja masalah ini bukanlah hal yang berat bagi orang lain, tapi bagi orang itu, sangat kompleks. Mereka pernah jatuh ke dalam kegelapan dan kemudian keluar darinya. Pernah mengalami masa-masa kekejaman dunia dalam kacamatanya sendiri, dan mencoba lupa apa itu bahagia. Mereka adalah orang-orang hebat di mata orang-orang terdekat yang mereka punya, tapi, rapuh. Bersinar menyilaukan, tuk sembunyikan kesedihan. Tragis. Syukur aja kalo mereka bisa bertahan dan menonjol di permukaan. Masih ada orang-orang yang perlu mereka dan menarik ke arah terang. Kalau tidak? entah, namanya juga kotak pandora.

Menjelang pensiun

Aku nggak bermaksud buat jadi agen iklan rokok pas memilih judul ini. Sekedar terinspirasi tulisan Nadia Balada Hari Tua. Pada akhirnya, aku juga akan menjadi seperti mereka. Menjadi Mahasiswa yang akan pensiun dan mulai berteman dengan yang namanya kenyataan. Lulus kuliah, berkerja, menikah, punya anak, dan pensiun. Sangat sederhana sekali. Dan aku nggak mau hidupku cuma jadi seperti itu. Sumpah, kaya gitu bosenin banget. Aku hanya berfikir, masihkah mimpi di saat kami bermain-main sambil kuliah ini akan menjadi kenyataan. Dunia mahasiswa memang membuat semua orang sedikit lupa dengan kenyataan. Bertemu teman dengan satu pandangan, saling memotivasi dan menyelipkan canda tawa di dalamnya. Semuanya terasa menyenangkan dan terlalu berat dilupakan. Sekedar bisa menjadi pegangan saat tekanan mulai dirasakan. Mungkin di akhir tahun kami akan berkata, berat rasanya meninggalakan semua yang ada. Ya, itu nggak mudah. Tapi, tidur panjang ini harus diakhiri. Nggak mungkin kan terus bermimpi. W...

Connecting people, not collecting

Paradigma ini entah samapai kapan akan terus bertahan. Menambah daftar teman, ngupdate, dan akhirnya menjadi ajang narsis-narsisan. Kalau ada yang peduli, ato perhatian, maka komen terus berdatangan. Sementara itu, di sudut sana bersembunyi manusia-manusia yang akan mencari celah dan mengambil keuntungan. Nyomot data sekaligus pengawas pribadi rahasia Wake up guys! It's not only an application on your monitor guys!!! these are whole parts on your life. And you keep ignore what happened with it. Ya, banyak orang dengan santainya mengumbar seluruh bagian kehidupan mereka di jejaring sosial. Tanpa batas, tanpa aturan. Mengoceh nggak karuan dan akhirnya marah ketika ada reaksi yang bertentangan. Padahal, masalah itu mencuat di detik saat akhirnya satu tombol ditekan. Di sisi lain, permintaan untuk menjadi teman seakan menjadi satu aturan tak tertulis untuk dilaksanakan. Ketika akhirnya penolakan datang, ada satu emosi tak enak hati tak bisa dikekang. Umpatan muncul dan hubungan baik ha...

Kepribadian

Aku cuma bisa bilang, aku sendiri nggak tahu diriku. Mengejutkan memang. Tapi itu kenyatannya. Ketika orang bilang, bagaimana mungkin aku bisa mengubah kepribadian hanya dalam selang waktu yang tidak lama. Membuat semua berfikir, ketika perubahan itu terjadi ada yang salah dengan diriku. Jadi, kepribadian mana yang aslinya itu diriku sendiri? Kebanyakan bilang, itu topeng. Memakai topeng sesuai tempat dan juga keadaan. Munafik? Untuk sebagian orang, mereka akan bilang ya. Buat aku, nggak. Ada satu kunci yang tetap akan kupegang sampai terkadang membuat orang lain berpindah jalan. Berpisah, atau justru bergabung dengan langkah yang kupilih. Semua orang akan menghargai kejujuran. Semua orang akan melihat, seberapa fleksibelkah kejujuran itu sendiri. Meski pahit, meski akhirnya membuat kita hanya bisa berfikir sempit. Itu saja. Itu yang aku usahakan tetap ada di dalam diri. Jujur pada diri sendiri. Meskipun aku akhirnya seringkali berubah kepribadian, tapi aku hanya bisa berharap, kejujur...

Ini bukan cuma soal selesai

Menyalahkan orang lain secara terbuka di depan umum, jejaring sosial, juga media. Aku nggak suka itu. Masalah jadi tambah panjang, orang nggak berkepentingan ikut masuk, dan akhirnya, hubungan jadi buruk. Finally, is it the best way to fix you problem? Nope. Tapi, mau gimana lagi. Sulit rasanya sekarang untuk membuat orang lain mengerti. Semua seolah menuntut dimengerti, tapi nggak ada yang mau mengerti. Yah, banyak yang memilih buat menyelesaikan sebuah permasalahan dalam bayangan kepalanya sendiri. Mencoba memenuhi tuntutan-tuntutan banyak orang. Berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetep aja, nggak ada yang merasa puas. Bukan soal perbedaan standard yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri dalam memaksimalkan apa yang ada. Pernah denger istilah, rantai terkuat, adalah rantai yang terlemah. Maksudnya, kita sering ngelihat di sekitar, banyak orang-orang yang merasa dirinya lemah. Tapi, apakah mereka akhirnya menyalahkan ketidakmampuan mereka? Ng...

Hea(d)rt

Luka menetes membekas dalam tanpa jurang semerbak morfin lemparkan nyata sementara ke belakang menghilang serumpun perih meregang sabit Malaikat pencabut bayang takut mulai berkabut terserak pelipis gores saat batu harapan terlempar cermin diri kepingan mati cuma mati

Sreeettt...

Lompat...lompat...Hap...hap...hap... ke kanan, ke kiri Satu garis panjang tergores Tanah kering, sedikit debu batu itu terlempar Sejenak melihat, ia sendiri Gadis kecil itu, di tengah halaman sekolah Sampai seseorang datang menghampiri "Kata yang sama seperti kemarin?" "Di waktu yang sama" mereka kemudian duduk bersama sekedar melihat dunia dalam lembaran buku-buku ibu guru kecil berhati besar "nama saya nina" "nama saya budi" berceloteh sekian lama melupakan arti penjara identitas karena seragam dalam menilai Pintu gerbang tertutup lambaian tangan bersahutan Sekarang ibu guru main sendirian Bermain dalam pikiran Anaknya tidak lulus kemarin Ibu guru menahan sedih Karena mimpi tak selalu teraih

Ngapain Eksis?

Q:”Mas, angkatan 2007 ya?” A:”Iya” Q:”Kok ga eksis di kampus, mas?” A:”:|” Dialog di atas sempat menjadi status seorang teman di Facebook dan twitter. Beberapa teman langsung bereaksi dengan komen yang cukup galak “Bata aja gan!” “Anak angkatan berapa sih?! Belagu banget!” “Dasar eksis abal-abal!” Sama-sama sebel. Itu yang kurasakan. Sadar sih, aku sendiri jarang nongol di kampus kecuali buat kuliah dan ngerjain tugas. Selebihnya, aktivitas sehari-hari lebih sering dihabiskan di luar. Di UKM, di Komunitas, juga jalan bareng teman-teman. Setahun ini, mendadak eksis di kampus menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar. Bukan untuk aku pribadi, tapi anak-anak baru. Nggak tahu gimana prosesnya, tapi terlihat sekali beberapa orang berusaha untuk selalu terlihat aktif di berbagai event yang ada di kampus. Hahahaha…dasar ababil (ABG-ABG labil). Aku sendiri? Mau dibilang eksis, di Fakultas sendiri banyak yang nggak kenal. Yang kenal malah banyak teman dan adik angkatan dari luar faku...

Ketika Ridho pergi

Ridho akhirnya pergi. Setelah 2 tahun kami bisa membangun studio foto sederhana, akhirnya ia putuskan untuk tak lagi duduk di tempat yang sama. Pekerjaan menuntutnya pindah Ke Surabaya. Mungkin Yogyakarta tidak menjanjikan apa-apa selain kreatifitas juga kepandaian tanpa batas. Mungkin juga keluarga. Mungkin juga kehidupan tak seindah yang semua kira "Aku punya mimpi juga kehidupan pribadi. Dan saat ini, bukan jalan berbeda yang memisahkan kita, tapi realita" Itu kata terakhir yang diucapkan saat aku dan Seto mengantarnya ke Stasiun Tugu. Yang lain nggak ikut. Indra sedang menemani pacarnya belanja. Sementara Bobi mengambil gambar Konser Tika dan Frau di JNM. Aku yakin, itu hanya alasan. Kenyataannya mereka tak rela jika harus melihat Ridho pergi. Mungkin dia bukan salah satu fotografer terhebat yang dimiliki studio ini. Tapi, ia adalah satu pendiri studio hebat ini. Masing-masing memiliki peran berbeda. Dan semua menganggap, dialah yang bisa menyatukan kami semua...

Susuri hari

susuri satu-satu kota di peta masih tetap ada bekal semoga susuri kehidupan tak pernah sama semua berikan perlambang cinta susuri wajah tirus kurus milikmu tergeragap suntik lengan tanpa ragu susuri makam terakhir kulihat matamu terpejam oleh jeratan obat

(Bukan) TUHAN

Tak ada goresan TUHAN, di antara lekukan Seribu tetes tinta juga resap, bukan TUHAN Sisipkan benang emas TUHAN di bordiran, tak ada susuri sungai dalam malam TUHAN, hitam bertebaran Berikan terang TUHAN, saat pejam mata hilang Sementara sujud letakkan batas, tunduk

Tag Galaxy

Iseng-iseng tadi ketemu Blog bagus. Namanya Berita Nyata. Terus berapa hari ini berkutat dengan apa yang ada di dalamnya. Kebetulan ada 1 Postingan yang judulnya 13 mesin pencari yang tidak lazim. Salah satunya itu Tag Galaxy. Search engine ini asik banget, soalnya tampilannya 3 D. Search engine ini terintegrasi sama Flickr. Jadinya mudah buah nyari foto-foto. Kalau aku bilang sih, mendingan pake ini daripada Google image. Cuma itu tadi, kita perlu sedikit bersabar untuk masuk ke halaman-halamannya. Pertama, masukkan keyword yang pengen dicari. Di sini aku pake UGM Setelah itu akan muncul tampilan seperti ini. Selain kata kunci, akan muncul juga kata lain yang mungkin berhubungan Setelah semua foto berkumpul, cari dan pilih salah satu Setelah itu, klik tulisan Flickr Page Setelah masuk halaman Flickr klik foto itu agar bisa mendownload. Jangan harap bisa nge-save dengan klik kanan, save image. Ga akan bisa !