Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2010

Pengendali Naga

Sang naga lama tertidur menunggu datang kekasih hati sejak terlahir kutukan abadi membuat hati tak pernah pergi sendiri, sembunyi

Untuk Maya

Ah, malam. selalu saja kau sepi. tak bisakah sejenak kau pindahkan keramaian kemudian rangkum kata-kata sebentar karena sekarang Maya memaksaku duduk sembari mengajak jari-jari menari menggelitik lekuk tubuh papan ketik Ah, Siang Redupkanlah sejenak pelitamu itu belum ingin aku keluar memandikan pagi tulang tubuh rasanya lepas tak punya pelumas setelah semalam Maya mengajakku pergi ke dunia kedua kaca seratus ribu warna Ah, Tuhan tolong KAU simpan semua firman cukup hati ini tahu bukan neraka tempatku tak ada dosa yang bisa KAU hadirkan dalam dunia maya ciptaanku karena disini, tuhan adalah AKU

Liat apa malam ini?

satu-satu layar monitor kujelajahi ada badut banci ketawa-ketiwi ga jelas apa yang ditertawakannya sementara tingkahnya bikin pusing kepala kubuka layar berikutnya sang ibu tiri mendadak mati bukan oleh ibu peri, atau racun sang suami tapi karena sang produser terus merugi hampir lelah aku telah sampai akhirnya kulihat sesosok wajah terpampang jelas penuh darah dipukul massa yang sedang marah demi malam, aku tertidur tak ada siaran yang bisa menghibur kering sudah hati ini kubanting tv ke peti mati

Software Lebaran

Sudah seminggu lebaran lewat. Arus balik juga sudah mulai tidak sepadat arus mudik. Rumah-rumah di desa menjadi sepi, dan kota semakin padat dengan barang-barang serta orang-orang yang hendak mencari harapan. Apa yang tersisa kemudian? nggak ada. Bahkan kenangan tentang lebaran itu sendiri sepertinya sudah terlalu rutin sehingga tidak ada hal baru yang akan disimpan dalam kenangan.Setiap tahun, semuanya tetap saja sama. Lama-lama, lebaran seakan hyanya sekedar menjadi software. Seakan memogram orang-orang untuk berjalan laiknya zombie tanpa ada bantahan. Tiap lebaran semua mudik, kita ikutan mudik. Semua beli baju, kita ikutan. Semua ngasih angpao, kita ikutan. Lalu bagaimana yang nggak bisa? Siap-siap aja diliatin sama anggota keluarga yang lain dan memendam sedikit rasa sakit hati karena diabaikan. Mana esensi kemenangan setelah menahan nafsu setelah sebulan? Bullshit. Hanya sekedar puasa sebulan aja, terus kita seolah bebas melepaskan apa yang tertahan sekenanya. Lebaran nggak lagi ...

Generasi Transisi

Sudah 3 kali setiap tahunnya aku melihat muka-muka baru berkeliaran di kampus. Selalu ada wajah-wajah polos penuh harapan serta ekspresi kebebasan setelah akhirnya mereka lepas dari bangku sekolah. Bebas tanpa seragam. Bebas tanpa setumpuk buku pelajaran. Dan bebas untuk menafsirkan apa itu arti kehidupan. Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan sekolah. Tak tahu, apa yang saat ini menjadi fokus dan juga tren untuk diikuti dan diimani. Tapi aku yakin, setidaknya selalu ada hal yang tidak akan berubah dari masa sekolah. Banyak yang bilang kalau masa paling indah itu masa-masa di sekolah. Khususnya di bangku sekolah menengah. Saat dimana logika dan juga pengalaman menentukan apa yang akan dilakukan di masa depan. Belajar mengerti apa itu rasa sayang, perhatian juga keputus asaan. Mengerti arti sesungguhnya persahabatan tanpa interpretasi kebutuhan akan uang. Serta tetap belajar untuk selalu kurang ajar. Mengata-ngatai guru yang menyebalkan. Mengintip ...

Me-Replay Orang tua

Posisi antara orang tua dan anak di dalam keseharian kita, aku rasa membuat kita lupa untuk saling memandang sebagai sesama manusia sejajar. Maaf, bukan bermaksud untuk tidak sopan atau gimana, tapi, kebayang nggak sih kalau keseharian ortu bisa saja berbeda antara di rumah dan di lingkungan. Peran yang dimainkan sebagai orang tua membuat diri merasa sulit untuk come-out tampil sebagai diri sendiri karena tekanan normatif lingkungan dll. Orang tua merasa nyaman dan memperlakukan kita sebagai si unyil tadi sore karena memang kita tampil sebagai UNYIL. Sok baik dan seolah nggak ada apa-apa. Pelan-pelan, satu tembok berhasil dibuat. Tembok kebisuan penuh kepura-puraan. Mungkin masing-masing saling bisa memahami satu sama lain tanpa harus ada bicara. Tetapi bayangkan kalau tembok ini nggak ada. Kelegaan dan perasaan kebebasan penuh tanggung jawab setidaknya akan lebih mudah untuk keluar ketimbang harus munafik sama diri sendiri kemudian melanggar segala macam aturan saat tidak kelihatan....