Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2012

Daily Prompt

Pick a random word and do Google image search on it. Check out the eleventh picture it brings up. Write about whatever that image brings to mind. Gw hari ini memilih kata sumpek . Gw pikir gambar yang akan muncul kota, kamar, atau apapun yang bikin gerah. Ga tahunya yang muncul gambar ini. Sumber gambar ini mungkin dari kata-katanya bisa pada nebak, diambil dari forum mana. Yah, kalau ngikutin kata hati, akan banyak muntahan hati yang tidak diluapkan di twitter dan facebook. Gw awalnya memilih buat naruh di blog. Tapi entah kebetulan atau tidak, instruksi iseng dari sebuah blog gw ikutin. What do you think about that picture anyway? Gw hanya bisa melihat sebuah emosi. Emosi dari ekspresi manusia yang ditempelkan sedemikian rupa pada wajah binatang mamalia. Yah, sedikit sulit memang menangkap emosi binatang pada umumnya. Entah karena memang kita terbiasa untuk mengabaikannya, atau justru tak pernah menganggap hewan itu makhluk yang sama ciptaan tuhan. Terlebih an...

Lampu malam

Sejak kapan saya mulai menjadi makhluk malam? Pertanyaan ini sedikit sulit dijawab. Mungkin setelah saya kehilangan waktu untuk pergi di pagi hari. Waktu dimana akan ada alasan kuat untuk beranjak dari kasur yang nikmat. Hangat dan erat. Di antara pulau busa (pulau kapuk udah lama digusur) dan juga guling bantal beraneka rupa. Hey, jadi makhluk malam itu nikmat. Sepi, sunyi, tanpa matahari atau teriakan klakson kendaraan yang sering kita temui di pagi hari. Sekedar melemparkan pandangan ke jalanan, dan akan ada banyak hal yang tak bisa kita saksikan di saat siang, seolah dipajang blak-blakan saat malam.

Jejak Jakarta

 Dalam hati, ada kesal ketika kata Jakarta terungkap. Seolah semua ada di sana, segalanya. Sementara itu lainnya hanyalah seperti kumbang yang berterbangan, bersiap-siap mati di sekitar. Tersengat panasnya cahaya. Jika memang ada yang bertahan, silau lampu seringkali membutakan mata. Melupakan tujuan dan kenangan di belakang.  Arogan. Sederhana tampaknya. Sebuah kesan kota seribu macam manusia. Sayang jika ada mereka yang benar-benar berjalan dalam pilihan, akhirnya tak bisa memunculkan harapan dalam kenyataan hanya karena tidak merata kue-kue harta, atau tahta, juga citra. Apapun lah. Yang jelas, sampai sekarang aku masih tak ingin, meski disana banyak ruang dan juga kesempatan untuk aku berkembang.