Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Destiny. Versi original dan cover

Mendengarkan lagu asing dicover oleh musisi Indonesia mungkin menjadi hal yang sudah biasa. Kali ini saya menemukan sebuah lagu Indonesia dicover oleh band Indonesia juga. Destiny. Lagu ini aslinya diciptakan oleh Homogenic ; yang saya kenal lewat lagu kekal dalam film Cin(t)a; sebuah band Indie bandung. Lagu ini kemudian dicover oleh Band Bandung lain juga, tapi dari genre yang berbeda. Jika Homogenic lebih ke arah Electronic Pop, band satu ini, Katjie Piring, lebih ke arah folk, Sundanese Folk tepatnya. Sah-sah saja menurut saya, apalagi jika kemudian hasil lagu ini, yang awalnya sudah bagus, diolah dengan instrumen yang lebih bagus. Untung hasilnya bagus. Jadi inget musisi Indonesia lain yang membuat lagu cover lebih hancur dari versi aslinya

Javanese Statue

Canting statue

A Batik Tulis maker statue applying melted wax following pattern on fabric using  canting (  a pen that holds a small reservoir of hot wax)

Metal Car

Miniatur Car made by automotive spare part

Yesterday

Thanks, I'am 24 yo

Nothing to say, but thanks for words, gifts, surprise, and...love

Komedi Putar Mini

Babi

Habis gagal ngepet

Bahagia kuadrat

Bahagia kuadrat bisa berarti berlipat ganda. Satu, bahagia karena kamu udah kerja, sukses, dan kerasa hasilnya. Dua, temen kamu bahagia dan kamu turut merasakan kebahagiaannya meskipun tidak mendapat apa-apa. Untuk yang pertama mungkin biasa ya. Tapi jarang-jarang saya merasakan yang kedua. Entahlah. Yang jelas, hari ini seorang teman mempertemukan saya dengan serombongan teman lain. Mempertemukan dengan keyakinan sebuah keahlian yang jarang dipandang orang. Kebahagiaan lainnya mungkin juga tercipta dari lingkaran perkawanan ini. Sebuah celetukan mengenai dua orang yang terangkai oleh kecerdasan dan kelucuan. Dan hari ini kami bertemu dalam bingkai yang berbeda. Dan salah satu dari mereka tertawa, ketika saya mempertanyakan mengapa gambar mereka sekarang dibingkai dalam ruang berbeda. Meski sebenarnya, satu orang lainnya, merangkul tangan yang hampir serupa. Itu cinta. Tak bisa dibohongi, gambarnya masih menyisakan jejak serupa.

Bentuk kelima

Praduga, saat mata ada tiga juta ketakutan, dalam dekapan kaki delapan angkara, tertusuk dua duri beracun dengki, oleh sayap hitam di tengah malam Sebelumnya tiga juta mata hidupi nyanyian punai pagi kaki delapan singkirkan denging penghisap darah dua gigi beracun menelan benih-benih kelaparan dan sayap hitam sengaja tebarkan pepohonan. Lantas Tanpa tahu semua rindu mengecap sisa sia-sia kenangan yang tak akan pernah merdu semua hanya menyisakan gambar terhampar. Hambar.

Katanya pindah tongkrongan?

Awalnya adalah sebuah status facebook. Tentang bagaimana seorang bocah mengomentari sikap sebuah partai dalam sudut pandang pencitraan kenaikan tarif BBM. Bagaimana ia melihat bahwa jika memang benar bukan pencitraan, tak hanya berbicara yang dilakukan. Masih bisa bergerak dengan meminta menteri perwakilan partainya melakukan sesuatu. Alih-alih hanya jualan sapi. Dilanjutkan dengan jualan daging lain. Masih di facebook. Satu fanpage dengan gambar profil gadis abg memamerkan buah dada yang tak seberapa. Beberapa pin bb dan status vulgar bertebaran. Tanpa kode. Hanya samaran nama, dan barang-barang lama sebagai pancingan. Ada lagi anak gadis tanggung umurnya. Yang satu menggunakan bahasa indonesia termodifikasi. Mengalihkan emosi dengan bahasa vokal dalam bentuk tulisan. Bermanja-manja. Sayang, mukanya tak menarik perhatian. Tak heran ditinggal. Juga emak-emak kesepian. Atau memang aslinya biasa mampir di pasar kembang? Entahlah. Yang jelas semua tak berubah. Ha...

Berterima kasihlah kepada musik lama!!!

Musik tak kenal usia. Yup, beruntunglah sekarang dengan mudahnya musik-musik dari berbagai zaman dan genre  bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Praktis, tidak harus keluar uang banyak (untuk peralatan dan kemasan) dan kapanpun kita butuh, tinggal setel. Hatipun tak perlu gelisah karena salah putar lagu. Nggak tahu musik yang kita dengarkan, tinggal dicek via internet. Dari sekian banyak kemudahan itu, ada sebuah pendapat yang sering muncul di antara penikmat musik. Mereka yang mencoba terlihat berbeda, terbawa mereka yang terlihat berbeda, dan mereka yang mencoba terlihat sama. Mainstream dan antimainstream. Di satu sisi memilih untuk berpihak karena merasa paling bijak. Di sisi lain, dasarnya memang nggak tahu jenis musik lain, atau tahu, tapi malas repot terperangkap dalam perdebatan panjang. Dan ada juga yang bisa lebih objektif, mendengarkan tanpa harus berpihak. Tapi diantara itu semua, setidaknya banyak yang sepakat, jikalau musisi jaman dulu lumayan menyenangkan untuk d...

Begawan pinggir jalan

Begawan. Bukan bengawan. Kalau jaman sekarang, mereka berwujud profesor, alim ulama, pendeta, biarawan, guru dan pengkhotbah-pengkhotbah besar lainnya. Mereka yang menerima nasib hidupnya dengan sederhana, sembari merenungi kondisi tanpa melupakan hati nurani. Jujur. Tanpa ada yang mengatur. Tak diatur bukan berarti seketika berantakan begitu saja. Di dalam ketidakteraturan ini suara-suara bawah sadar mereka diam-diam saling berbicara. Saling mengenal dalam pemikiran, bukan apa yang tersanding dalam badan. Kadang saling berteriak, tak jarang saling menepuk pundak. Begawan selalu ada di setiap jaman. Menapakkan kaki pada tanah dalam akar rumputnya, menumbuhkan jiwa-jiwa lainnya dengan berbagai macam jenisnya. Mereka adalah tanah, dan berbuah. Ada yang baik, dan ada yang buruk. Tergantung pupuk seperti apa yang diterima oleh benih-benih suci ini. Dan di setiap akhir cerita, buah dari benih ini kemudian mati. Ada yang kembali kepada asalnya, sang tanah, diserap, dan kemudian memberikan...

Presiden: Tuntutan Buruh masih Masuk Akal

PEMBELIAN SAHAM NEWMONT LANGGAR UU - SULUH INDONESIA - BALI TV

REVRISOND BASWIER - FAKTA SUBSIDI SALAH SASARAN

Soal kacamata yang dipakai

Seperti mereguk air laut. Ya, itu yang saya rasakan. Semakin menjelang pintu kelulusan (semoga secepatnya amiiin) semakin banyak saya melihat dunia nyata. Meskipun memang belum lulus pun sedikit banyak kaki ini sempat menginjakkan separuh langkah di dunia itu. Dunia kerja. Tapi entah mengapa, rasanya berbeda dengan beberapa teman lainnya. Mungkin memang benar ini hanya perspektif. Semoga. Tentang bagaimana sudut pandang ini berada di tengah. Masih bisa melihat ke sebagian semangat masa lalu di belakang, juga melihat ke depan. Mencoba tetap realistis, sembari menyisakan jiwa idealis, tanpa menjadi pragmatis. Tak menjadi mereka yang sekedar mencari pencapaian, tak juga sekedar bergelung dengan teori praktis tanpa ada bukti.