Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2008

Sudah mulai tua

Bayangan kepada warna sebuah senja Mengajakku untuk melihat sayap malaikat Sedikit mengajak jiwa mengenang ratapan tua Disaat samar-samar tubuh ini menerawang angin malam Mendekap erat memori indah Ketika sebuah senyuman darimu membekas dalam Tanpa sadar, tetes ini mengalir melewati bekas waktu Terukir jelas di wajah yang tak lagi indah Terima kasih untuk duduk menemani malam Saat gelap membayangi bulan Menemani diriku apa adanya Sampai kelak jiwa ini mulai tak merasa

Sebuah sore

Langit menutupi udara dengan gelap siang Berarak pelan-pelan bersama dingin angin Memaksaku untuk tetap duduk menunggu Dengan sebuah lembar tiket terakhir malam ini Udara terkoyak oleh sayap-sayap rajawali raksasa Merambat di daratan untuk pergi tak kembali Lewat alur-alur air menembus pandangan Keberadaan perantara sejenak aku pergi Sebenarnya selimut hatiku adalah takut Ketika terpaksa jiwa ini pergi Menyeberangi langit demi satu kehendak pasti Merenungkan tempat nanti untuk kembali Enam puluh menit lebih ku terpaku di kursi biru ini Menerangkan kata-kata tak pasti dalam hati Berharap sebuah ketukan akan membuatku berhenti Kurasa, saatnya aku pergi

Sebentar

Mungkin perlahan suaraku membosankan dan datar Namun, semua ini berarti ketika dingin menggetarkan Menunggu ransum ke dalam jiwa yang kering Hanya untuk menerima belaian dari kasarnya ibu pertiwi Dan semua Tetap membuatmu hina Karena bayang sang kaya Dan miskin tak berharga Disini aku marah untuk semua sampah Yang hanya bisa pasrah ketika mereka kalah Disini kuhanya bisa menangis ketika jiwamu beranjak tipis Dalam hidup kejam mendekap segenap tragisnya nasib

Rapuh untuk lelah

Membimbing hari dalam keterbukaan indera Dengan perantara langit beserta udara seisinya Ketika nyawa kita kembali untuk berdiri sejenak Dalam wujud dengan nama manusia abadi Sejenak hanya kita yang mampu untuk berlari setelah aliran merah merambat ke atas kepala Dan angin meredam segera kemarahan dalam-dalam Pecah semua ironi kekosongan Akan ada nenti jiwa-jiwa sepi Mengajakku menari dalam tawa iringan gitar tua seorang bapa

Jejak yang tertinggal

Salahkah kalau berjalan sesekali melirik ke belakang Memeluk apa yang tersisa untuk bekal dalam masa depan Hanya itu yang ingin kulakukan sebagai tanda peringatan Dirimu pernah singgah dulu hatiku Ingin kutinggalkan masa lalu tetap di belakang bayang-bayang Tapi nggak bisa wahai kekasih Terlalu membekas dan menorehkan kenangan Terlalu indah untuk dilupakan dalam angan Ku tak meminta kau ada untukku Karena kutahu semua itu tak mungkin bagiku Memelukmu seperti dulu Membelai wangi rambutmu dalam nafasku Teriakan kepedihan mungkin tak terperikan Membuat semuanya sedikit mengurangi kesedihan Karena itu tak apa aku kau tinggalkan Kutahu semua itu lebih baik bagimu

paper

Setitik simbol menetes kembali Berselisih sehari ia terungkap Lewat bibir seorang bijak Dan lukisan kata dalam novel Tentang pertentangan hubungan jiwa Mungkin dimensi ini tak pernah ada Karena mata bukan apa-apa Sejenak menimbulkan keraguan Demi arti sebuah kedamaian Dalam tembok tak tembus pandang Menunggu petir menelusupkan kejutan Lewat kertas dan tinta hitam Ia datang Menunggu dalam keheningan Bukan hati seorang teman

Tembok kesepian

Rangkaian kesedihan menjamah sejuknya hati ini Mengajak pergi kebahagiaan dalam rintik hujan Dan deraan angin malam bersama kelelawar hitam Semua itu kelam Sedikit saja tersisa akan keinginan diri ini Untuk menjenguk sedikit hangatnya cinta Bayangan diri ini sudah suram Ketika petang tadi menjelang Untuk mati saat ini

Adakah besok

Dalam awal tidur malam ini Sejenak mata ini menyongsong gelap mimpi Berharap akan ada matahari pagi Menyongsong sebuah nyawa manusia Di tangan sang malaikat izrail Atau pelukan malam dingin Memilih untuk tetap berjalan sendirian Dalam hampa akan ketiadaan tuhan Serta sepercik air di pagi hari Mengajak sujud pada mentari Serta menghapuskan segenap ketakutan Kelak di neraka sana Akankah kita tahu Irama jiwa tanpa raga Tidur dengan nyenyak dalam alam barzah Atau menjerit sakit dengan siksa sebelum kiamat Aku nggak tahu

Jalan ini bukan untukku

Merayap segenap langkah dalam lumpur Dalam menghisap seluruh rasa akan damai Menghembuskan kabut asap bersama malam Menyelimuti kebahagiaan sesaat Dalam larutan kepalsuan Kuberlari sejenak untuk tersadar akan arti kehidupan Ketika aku sudah melihat wujud keraguan Di dalam kejamnya hati yang rusak ini Sebatang rokok menemani langkahku Mengajak udara sedikit berperasaan sedih Saat tak ada lagi terang pagi dalam malam Mungkin setan dulu pernah sayang kepada tuhan Dulu, dulu sekali, saat Adam dalam bayangan Atau sekarang juga masih Tapi dengan sedikit pengabdian Sebagai predikat antagonis drama kehidupan Saat ini Dan aku ingin berkawan dengan setan Ketika kelak kejahatan juga berubah menjadi kebaikan Maukah memelukku dalam hangatnya hati Dan menemaniku tidur hanya untuk malam ini Agar malaikat juga mau berteman denganku Di surga neraka dunia

Mendung sejenak di pagi hari

Dalam mentari pagi hangat menjelang Mengajak burung kecil bernyanyi dengan ramainya Sedikit embun di daun menguap Menghilang perlahan seakan terbang Lalu malang datang Menghilangkan selimut kebahagiaan dalam Sejenak Membuat segenap jiwa sembunyi Dalam ketakutan akan tuhan Serasa selamanya akan hidup Dengan kegelapan Tapi bukan siapapun yang bertanggung jawab Akan kesendirian yang sekarang ada Karena tugas sebagai makhluk tuan sudah selesai Selamat tinggal Terkadang mengajak kita berjalan Ke jalanan di masa lalu Merenungkan Akan arti jejak langkah di belakang Serta bayang-bayang Rasa cinta yang tulus Untuk segenap jerit tangis dan ratapan Di atas batu nisan

Lampu jalan

Lampu jalanan merah Menyinari langkah anak-anak tuhan Dengan kepolosan dan mimpi masa depan Meski itu tak pasti dengan ilusi memenuhi Lampu jalanan kuning Membawa sepotong kain-kain putih Dengan debu dan asap pelepas lara Receh demi receh memenuhi tangan-tangan hampa Lampu-lampu jalan hijau Mengiringi detik waktu di saat mengalir Berharap hari esok jadi lebih baik Demi jiwa-jiwa suci yang terseret dalam bait-bait cinta

Laju sebuah kereta tua

Derakan kayu-kayu bantalan rel Membawa iringan irama kesepian Sebentar ia datang Melewati bening kaca setelah retak Oleh batu-batu dengan sayap kecil Yang diberikan tangan orang miskin Ia tersenyum Kemudian buku itu ia simpan Menatap dalam kata-kata Ia tahu aku bukan siapa-siapa Tapi itu semua tak memiliki makna Karena aku dan dia sama Merindukan kebahagiaan dalam pelarian Tertunda saat malam menjelang Ketulusan dan kebaikan bukanlah perantara Tujuan-tujuan murni dari nurani Tak lama tapi tak sebentar Bunga-bunga itu menyelip Di sela-sela rapuhnya tembok baja Dia akan turun di perhentian berikutnya

IZRAIL

Separuh perjalanan saat ini Mungkin akan kita ulang sampai mati Layaknya putaran dunia Seakan semua yang nanti kau hadapi Nggak ada artinya kalau hidup tanpa mimpi Aku tak bermaksud mengetuk lagi sudut pintu Rumah tuhan dalam bilik hati Perasaan akan ketidakpastian akan ragu Membisikkan kepastian itu sendiri Untuk lagu tanpa banyak melodi Biar saja merah menjamah amarah Tertutup oleh segenap kebohongan tanpa rasa suci Menghitam dalam darah dengan segenap sanggah Tapi pasti untuk hidup kelak setelah ini Menepikan malaikat untuk jalanan sepi Tangan rapuh dengan kulit kertas Tak pantas rasanya bila harus menyentuhnya Halusnya keindahan dari sebuah jiwa Bukan apa-apa jika kulewatkan semua Sebab detik dan helaan nafas ini sudah tersisa satu-satu

Apa

Hanya waktu Benar, hanya waktu Yang akan membisikiku tentang Kemarin, sekarang, atau besok Terus mengapa? Waktu bukan saat kita diam Secepat kilat menerawang Akan diamnya

irama kepastian

Sebuah melodi yang menghanyutkan pikiran ke masa lalu untuk menyesali apa yang kau lakukan. Meresapi hati serta membuka kenangan akan hampa dunia. Perih, sedih, kemudian hanya bisa merintih. Ragukah diriku akan keputusan yang pernah ada? Layaknya patung yang berdiri tegak dengan rangka besi beton, begitu juga hatiku. Kalaupun tidak, tak pernah ada kebahagiaan setelah keberhasilan. Apabila semua titik lelah, tetesan darah, dan segenap air mata tergantikan dengan selembar kebahagiaan dari tuhan

Sudah mulai tua

Bayangan kepada warna sebuah senja Mengajakku untuk melihat sayap malaikat Sedikit mengajak jiwa mengenang ratapan tua Disaat samar-samar tubuh ini menerawang angin malam Mendekap erat memori indah Ketika sebuah senyuman darimu membekas dalam Tanpa sadar, tetes ini mengalir melewati bekas waktu Terukir jelas di wajah yang tak lagi indah Terima kasih untuk duduk menemani malam Saat gelap membayangi bulan Menemani diriku apa adanya Sampai kelak jiwa ini mulai tak merasa