Saat ini yang kita miliki mungkin hanya kemewahan. Untuk sekedar hidup, dan menyisakan kepenatan tanpa sempat memilah dan mencerna pikiran. Tanpa merasakan kehangatan matahari. Tanpa kelegaan menghirup udara yang baru saja mensucikan malam. Dengan embun. Dengan debu letusan puncak bukit yang keruh. Itulah kemewahan yang seringkali diagungkan. Bagaimana bisa sinar surya meraba pori-pori hati, jika tubuh lebih nyaman menutup diri. Dengan tabir surya, kaca berlapis penangkal sinar ultra, atau pengubah udara. Membuat flu manusia desa, dan membekukan setiap tulang di tubuh mereka. Sementara kemewahan hakiki, murni, tanpa pemanis buatan penuh dengan iklan menyesatkan, kita lupakan. Beruntung jika setelah orang-orang tak beralas kaki, akhirnya percaya, yang mereka miliki bukan kemewahan, dan mereka tinggalkan, bisa dijual dengan kelipatan sekian. Untuk air jernih dari hulu nafas pegunungan. Untuk atap-atap tinggi yang menutupi birunya bukit di kejauhan. Untuk tanah keras tanpa serangga penguk...