Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Mencari begawan

Saat ini yang kita miliki mungkin hanya kemewahan. Untuk sekedar hidup, dan menyisakan kepenatan tanpa sempat memilah dan mencerna pikiran. Tanpa merasakan kehangatan matahari. Tanpa kelegaan menghirup udara yang baru saja mensucikan malam. Dengan embun. Dengan debu letusan puncak bukit yang keruh. Itulah kemewahan yang seringkali diagungkan. Bagaimana bisa sinar surya meraba pori-pori hati, jika tubuh lebih nyaman menutup diri. Dengan tabir surya, kaca berlapis penangkal sinar ultra, atau pengubah udara. Membuat flu manusia desa, dan membekukan setiap tulang di tubuh mereka. Sementara kemewahan hakiki, murni, tanpa pemanis buatan penuh dengan iklan menyesatkan, kita lupakan. Beruntung jika setelah orang-orang tak beralas kaki, akhirnya percaya, yang mereka miliki bukan kemewahan, dan mereka tinggalkan, bisa dijual dengan kelipatan sekian. Untuk air jernih dari hulu nafas pegunungan. Untuk atap-atap tinggi yang menutupi birunya bukit di kejauhan. Untuk tanah keras tanpa serangga penguk...

Durung wayahe

Yaaa...mari fokus dulu ke acara yang udah jadi tanggung jawab *dadah-dadah ke Myanmar

Malam keramat

Deadlock. Apa yang bisa diharapkan oleh chaos? Tanpa pondasi? banyak pilihan. namun apa yang terjadi di belakang, memberikan beban. ketika hanya butuh kepala, sementara semua merasa perlu berkata. Demi emosi dari hati. Demi gengsi penguasa diri

kelas

Mudah untuk membagi praduga. Pada alam dan tuhannya. Pada mereka dengan kekayaannya saat menghadapi bencana. Pada ketidakhadiran kebersamaan dalam menghadapi ujian. Dan bodoh, jika praduga yang menjadi cerita.

Fuck this shit

To be honest...Its sad Sad to know that, I still need to be convinced. About what I'm fighting for, my priority, my academic institution, and doubt on what I'm fighting for. Still, I keep walking. Keep on my track. Without any understanding, when I'll reach the target. So, why bothered? I just want to open my heart dumpster key. Just open. Nothing more.