Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2010

Selembar kalbu

Bukan mentari yang besarkan isi kepalamu tapi serbuk buku penuh nilai manusia tak pasti bukan juga tanah merah terakhir peraduan tidurmu tapi sejarah abadi saat mimpi ini menjadi pasti kau mungkin bualan yang berikan malam kehidupan tapi kau tak jua jalang sampai akhirnya terlupakan kau mungkin tak lebih gongongan anjing pengusir maling tapi kau bangunkan tidur satu manusia yang pernah sinting dan besok pagi saat dunia ilusi dihabisi seribu anak lahir dari tumpahan isi saku hatimu dan besok saat fajar berhenti di dalam putih matamu seribu doa terpanjat menemani langkah terakhirmu

Malu membisu

tawa tertahan membungkam diam sejenak ragu ada luka terbata kapan nanti semua sedih pergi ukir satu rasa bahagia selamanya Kering sudah lidah kelu berbisik susupkan desahan nafas panjang "Aku hanya ingin tak seperti lilin terangi sekitar sementara habis tubuh ini terbakar" bukan desir ombak sayang dihiasi rasi bintang tak bungkus awan satu rembulan separuh tersenyum untuk lembaran dingin malam terbaring bersama butir pasir terima kasih untuk itu.

satu tetes kegelapan

"Seberapa gelap yang bisa kamu berikan kepada orang-orang yang ada di sekitar?" Kadar kesuraman seseorang itu akan lebih mudah meresap dalam hati orang-orang yang mungkin tak kuat. Satu masalah dan tiba-tiba saja orang yang kita bilang paling tabah pun bisa goyah. Mungkin saja masalah ini bukanlah hal yang berat bagi orang lain, tapi bagi orang itu, sangat kompleks. Mereka pernah jatuh ke dalam kegelapan dan kemudian keluar darinya. Pernah mengalami masa-masa kekejaman dunia dalam kacamatanya sendiri, dan mencoba lupa apa itu bahagia. Mereka adalah orang-orang hebat di mata orang-orang terdekat yang mereka punya, tapi, rapuh. Bersinar menyilaukan, tuk sembunyikan kesedihan. Tragis. Syukur aja kalo mereka bisa bertahan dan menonjol di permukaan. Masih ada orang-orang yang perlu mereka dan menarik ke arah terang. Kalau tidak? entah, namanya juga kotak pandora.

Menjelang pensiun

Aku nggak bermaksud buat jadi agen iklan rokok pas memilih judul ini. Sekedar terinspirasi tulisan Nadia Balada Hari Tua. Pada akhirnya, aku juga akan menjadi seperti mereka. Menjadi Mahasiswa yang akan pensiun dan mulai berteman dengan yang namanya kenyataan. Lulus kuliah, berkerja, menikah, punya anak, dan pensiun. Sangat sederhana sekali. Dan aku nggak mau hidupku cuma jadi seperti itu. Sumpah, kaya gitu bosenin banget. Aku hanya berfikir, masihkah mimpi di saat kami bermain-main sambil kuliah ini akan menjadi kenyataan. Dunia mahasiswa memang membuat semua orang sedikit lupa dengan kenyataan. Bertemu teman dengan satu pandangan, saling memotivasi dan menyelipkan canda tawa di dalamnya. Semuanya terasa menyenangkan dan terlalu berat dilupakan. Sekedar bisa menjadi pegangan saat tekanan mulai dirasakan. Mungkin di akhir tahun kami akan berkata, berat rasanya meninggalakan semua yang ada. Ya, itu nggak mudah. Tapi, tidur panjang ini harus diakhiri. Nggak mungkin kan terus bermimpi. W...

Connecting people, not collecting

Paradigma ini entah samapai kapan akan terus bertahan. Menambah daftar teman, ngupdate, dan akhirnya menjadi ajang narsis-narsisan. Kalau ada yang peduli, ato perhatian, maka komen terus berdatangan. Sementara itu, di sudut sana bersembunyi manusia-manusia yang akan mencari celah dan mengambil keuntungan. Nyomot data sekaligus pengawas pribadi rahasia Wake up guys! It's not only an application on your monitor guys!!! these are whole parts on your life. And you keep ignore what happened with it. Ya, banyak orang dengan santainya mengumbar seluruh bagian kehidupan mereka di jejaring sosial. Tanpa batas, tanpa aturan. Mengoceh nggak karuan dan akhirnya marah ketika ada reaksi yang bertentangan. Padahal, masalah itu mencuat di detik saat akhirnya satu tombol ditekan. Di sisi lain, permintaan untuk menjadi teman seakan menjadi satu aturan tak tertulis untuk dilaksanakan. Ketika akhirnya penolakan datang, ada satu emosi tak enak hati tak bisa dikekang. Umpatan muncul dan hubungan baik ha...

Kepribadian

Aku cuma bisa bilang, aku sendiri nggak tahu diriku. Mengejutkan memang. Tapi itu kenyatannya. Ketika orang bilang, bagaimana mungkin aku bisa mengubah kepribadian hanya dalam selang waktu yang tidak lama. Membuat semua berfikir, ketika perubahan itu terjadi ada yang salah dengan diriku. Jadi, kepribadian mana yang aslinya itu diriku sendiri? Kebanyakan bilang, itu topeng. Memakai topeng sesuai tempat dan juga keadaan. Munafik? Untuk sebagian orang, mereka akan bilang ya. Buat aku, nggak. Ada satu kunci yang tetap akan kupegang sampai terkadang membuat orang lain berpindah jalan. Berpisah, atau justru bergabung dengan langkah yang kupilih. Semua orang akan menghargai kejujuran. Semua orang akan melihat, seberapa fleksibelkah kejujuran itu sendiri. Meski pahit, meski akhirnya membuat kita hanya bisa berfikir sempit. Itu saja. Itu yang aku usahakan tetap ada di dalam diri. Jujur pada diri sendiri. Meskipun aku akhirnya seringkali berubah kepribadian, tapi aku hanya bisa berharap, kejujur...