Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Pepohonan sunyi

Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan. Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam. Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar. Di sudut pintu rumah aku terdiam. Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu. Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya. Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir. Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang. Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu. Tapi aku terlalu malu tuk akui itu. Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang. Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.

Kambing Busuk

Satu lebaran datang. Katanya titipan tuhan. Disampaikan Ibrahim ke Ismail dan perutku kenyang Makan kambing segudang. Tak habis dibagikan. Lupa disebelah rumah ada pemungut sampah. Bau busuk semerbak hilang. Ada bangkai terperosok di dalam tong. Bingung. Seharian ia mengemis makan. Tak seorang ulurkan tangan. Takut jadi korban peminta gadungan. Pintu tertutup, mulut mengerut. Dan kantong daging busuk semerbak hilang. Perutnya keroncongan. Sementara seharian, sudah 11 kali aku ke belakang. Buang hajat berulang-ulang. Cair, basahi celana tanpa tahu Kapan hujan reda dan salin tiba.

Tengah malam

Selamat malam Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja. Aku takut kau kembali bergelung dalam malam. Menanti obrolan panjang sebelum akhirnya terlelap dengan hangat. Di setiap perhentian petang, seringkali kuberhenti sejenak. Menyesap istirahat, kepulkan penat. Hanya asing yang ada. Entahlah, tak ada wajah akrab. Sekedar bertanya, siapakah asing itu. Mungkin memang nyaman berterus terang pada seorang yang tak dikenal. Sampai hari ini, pelan-pelan langkah ini terus kuayunkan. Tapi tak bisa lepas dari semua beban. Beberapa perbekalan tertinggal dalam kotak hitam pojok ruangan. Aku titipkan tanpa pesan. Selamat malam. Sampai di sini kabarku hari ini. Andai waktu ijinkanku pulang, tapi langkahku terlalu panjang. Selamat malam.Sudah hampir 12 siang...

Peluk

Untukmu tak ada benci yang mampu hapuskan rindu. Setia melangkah dalam hitamnya kehidupan dan juga gelapnya mata hati ini. Dan mungkin, memang inilah yang terbaik. Bangunkanku dari tidur panjang, akan kisah indah tanpa derita. Maaf jika terang terlalu lama datang. Sesal selalu tersisa. Tapi, semua ini akan terasa sia-sia jika akhirnya berhenti begitu saja. Sudahlah, aku senang melihat kau tersenyum disana. Setelah tetes hitam, perlahan kutinggalkan dilubuk hatimu di penghujung petang. Kuharap, peluk itu masih bisa kurasakan. Hangat dan membawaku tertidur dengan tenang. Semua akan berputar bersama waktu, dan di saat itu, semoga kita bisa bertemu. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Dengan siapapun kelak, semoga bahagia yang terus kau rasa. Terima kasih...

Ruang Hampa

Jarang sepertinya buatku tuk bicara terbuka soal siapa yang ada di hati ini. Secara terbuka. Cukup melihat dan tahu bahwa orang itu ada. Sekedar meraba-raba, entah kapan mulainya, kapan berakhirnya. Mungkin sebagian besar hanya melihat dari kejauhan, dan bertanya, siapa. Jujur, tak banyak pengalaman yang bisa kukatakan. Aku senang untuk menikmatinya sendiri. Merasakan bagaimana hidup terasa nyaman disaat seseorang datang dan kemudian duduk di samping ruang hati ini. Dan semuanya bermula sebagai teman, karena buatku, mengejar seseorang tanpa ada perasaan nyaman untuk dikenal, sekedar permainan tanpa tujuan. Bisa berakhir kapan saja, bukan karena tak nyaman, namun karena ada peraturan yang dilanggar. Semua tampak indah di awal. Semua berawal oleh perasaan nyaman sebagai teman. Karena benar, sebuah hubungan buatku bukan sekedar senang-senang. Mencoba tuk membagi dan mengerti apa yang kelak akan kulalui. Yah, dan akhirnya semua itu berhenti. Masing-masing dengan cerita berbeda. Ada yan...