Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2010

Ini bukan cuma soal selesai

Menyalahkan orang lain secara terbuka di depan umum, jejaring sosial, juga media. Aku nggak suka itu. Masalah jadi tambah panjang, orang nggak berkepentingan ikut masuk, dan akhirnya, hubungan jadi buruk. Finally, is it the best way to fix you problem? Nope. Tapi, mau gimana lagi. Sulit rasanya sekarang untuk membuat orang lain mengerti. Semua seolah menuntut dimengerti, tapi nggak ada yang mau mengerti. Yah, banyak yang memilih buat menyelesaikan sebuah permasalahan dalam bayangan kepalanya sendiri. Mencoba memenuhi tuntutan-tuntutan banyak orang. Berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetep aja, nggak ada yang merasa puas. Bukan soal perbedaan standard yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri dalam memaksimalkan apa yang ada. Pernah denger istilah, rantai terkuat, adalah rantai yang terlemah. Maksudnya, kita sering ngelihat di sekitar, banyak orang-orang yang merasa dirinya lemah. Tapi, apakah mereka akhirnya menyalahkan ketidakmampuan mereka? Ng...

Hea(d)rt

Luka menetes membekas dalam tanpa jurang semerbak morfin lemparkan nyata sementara ke belakang menghilang serumpun perih meregang sabit Malaikat pencabut bayang takut mulai berkabut terserak pelipis gores saat batu harapan terlempar cermin diri kepingan mati cuma mati

Sreeettt...

Lompat...lompat...Hap...hap...hap... ke kanan, ke kiri Satu garis panjang tergores Tanah kering, sedikit debu batu itu terlempar Sejenak melihat, ia sendiri Gadis kecil itu, di tengah halaman sekolah Sampai seseorang datang menghampiri "Kata yang sama seperti kemarin?" "Di waktu yang sama" mereka kemudian duduk bersama sekedar melihat dunia dalam lembaran buku-buku ibu guru kecil berhati besar "nama saya nina" "nama saya budi" berceloteh sekian lama melupakan arti penjara identitas karena seragam dalam menilai Pintu gerbang tertutup lambaian tangan bersahutan Sekarang ibu guru main sendirian Bermain dalam pikiran Anaknya tidak lulus kemarin Ibu guru menahan sedih Karena mimpi tak selalu teraih

Ngapain Eksis?

Q:”Mas, angkatan 2007 ya?” A:”Iya” Q:”Kok ga eksis di kampus, mas?” A:”:|” Dialog di atas sempat menjadi status seorang teman di Facebook dan twitter. Beberapa teman langsung bereaksi dengan komen yang cukup galak “Bata aja gan!” “Anak angkatan berapa sih?! Belagu banget!” “Dasar eksis abal-abal!” Sama-sama sebel. Itu yang kurasakan. Sadar sih, aku sendiri jarang nongol di kampus kecuali buat kuliah dan ngerjain tugas. Selebihnya, aktivitas sehari-hari lebih sering dihabiskan di luar. Di UKM, di Komunitas, juga jalan bareng teman-teman. Setahun ini, mendadak eksis di kampus menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar. Bukan untuk aku pribadi, tapi anak-anak baru. Nggak tahu gimana prosesnya, tapi terlihat sekali beberapa orang berusaha untuk selalu terlihat aktif di berbagai event yang ada di kampus. Hahahaha…dasar ababil (ABG-ABG labil). Aku sendiri? Mau dibilang eksis, di Fakultas sendiri banyak yang nggak kenal. Yang kenal malah banyak teman dan adik angkatan dari luar faku...

Ketika Ridho pergi

Ridho akhirnya pergi. Setelah 2 tahun kami bisa membangun studio foto sederhana, akhirnya ia putuskan untuk tak lagi duduk di tempat yang sama. Pekerjaan menuntutnya pindah Ke Surabaya. Mungkin Yogyakarta tidak menjanjikan apa-apa selain kreatifitas juga kepandaian tanpa batas. Mungkin juga keluarga. Mungkin juga kehidupan tak seindah yang semua kira "Aku punya mimpi juga kehidupan pribadi. Dan saat ini, bukan jalan berbeda yang memisahkan kita, tapi realita" Itu kata terakhir yang diucapkan saat aku dan Seto mengantarnya ke Stasiun Tugu. Yang lain nggak ikut. Indra sedang menemani pacarnya belanja. Sementara Bobi mengambil gambar Konser Tika dan Frau di JNM. Aku yakin, itu hanya alasan. Kenyataannya mereka tak rela jika harus melihat Ridho pergi. Mungkin dia bukan salah satu fotografer terhebat yang dimiliki studio ini. Tapi, ia adalah satu pendiri studio hebat ini. Masing-masing memiliki peran berbeda. Dan semua menganggap, dialah yang bisa menyatukan kami semua...

Susuri hari

susuri satu-satu kota di peta masih tetap ada bekal semoga susuri kehidupan tak pernah sama semua berikan perlambang cinta susuri wajah tirus kurus milikmu tergeragap suntik lengan tanpa ragu susuri makam terakhir kulihat matamu terpejam oleh jeratan obat