Demi api naga dan kerlip lilin lampion malam Raga ini sudah menjadi milik negri tiga ratus tahun silam, sebrangi lautan berbagi hati dan harga diri dan waktu mengijinkan kaki ini bertahan lidah ini sudah terlalu kaku lantunkan Hokkian karena ucapan selamat datang terdengar indah dan juga menentramkan selalu ada kata pendatang di setiap celah yang bisa mengundang arogansi bertabir ketidak adilan benarkah terlalu murah keangkuhan untuk dijual, dan keramahan terasa tinggi untuk digapai ke dalam ruang setelah semua cerita kehidupan beriringan Sampai hari ini selalu ada mimpi terbagi di antara anak cucu, si kaum pendatang dengarkan. Sebuah mimpi hidup sehati tanpa iri dengki dan juga benci karena kami, juga cinta negri ini