Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2011

Kipas kertas hujan angin

Indah memang. Tinta hitam aksara cinta. entah apapun artinya. Terlipat dengan rapi menggariskan pertanyaan. Kalau saja kutahu bahasa itu Sementara ribuan impian berjejalan di dalam urat pengantar pesan. Kain panjang pembungkus tubuh kita mungkin berbeda Terik siang. di saat belenggu panas datang, usir mereka begitu saja. Terlalu sesak katamu. Di dalam satu ruang mungil tertutupi dada juga derita yang tak pernah sampai di telinga. Satu-satu terurai panjang. Mengulur bak benang merah antara satu hati, ke hati lainnya. Panjang rasanya jika kuteruskan. Bak layang-layang, membumbung tinggi. dan hujanpun datang. Sayang, kipas kertas tak bisa mengusir kegelisahan. Dan kita bertanya. Tak mengapa. Turunkan saja sejenak. Kelak tali ini kan membawa cerita lainnya. Dengan hujan angin yang berbeda, dan kuharap, tetap dengan layang-layang yang sama.

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun. Sejak kapan, aku pun tak tahu wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga. Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil. berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil. manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga. layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan demi sebuah struk gaji pokok bulanan untuk itulah, kisa...

susur pantai

Kembali ke tempat tidur

"Anggap saja semua yang ada di dunia itu milik bersama. Rumah kita. Selama ada langit untuk diintip dan juga lantai tuk bersantai, mengapa harus ada ketakutan bahwa esok tak memberikan kehidupan?!"