Malam seringkali membuatku merasakan gejolak yang amat besar di kepala. Saat dimana seharusnya manusia mulai membenamkan pikiran dalam mimpi, aku justru membuatnya seolah membara. Membakar habis semua ketenangan yang sudah tersimpan di hati. Kemudian mengacak-acaknya tanpa ampun.Tak kuat rasanya hati ini melakukan hal itu. Sampai kemudian tubuhu bergetar hebat, dan akhirnya tumbang. Isi kepalaku berserakan di atas lantai. Bukan merah, bukan. Syukurnya bukan otak penuh urat yang terhampar. Satu-satu kuteliti. Sayang, aku tak bisa mendiskripsikan dengan jelas apa itu semua. Tak pernah sekalipun kulihat benda serupa dengan isi kepalaku. Semuanya buram, menggeliat. Kucoba memicingkan mata perlahan. Tetap saja tak jelas. "Anda lupa mengenakan kacamata saudara" "Hah, iya. Mana tadi kacamata saya?" Sebuah tangan mengulurkan kacamata bulat bertangkai gading. Warna kacanya berubah-ubah. dari merah, menjadi kuning, kemudian hijau. Pelangi, benar, seperti pelangi. ...