Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2010

Bayangan dalam cermin retak

Ia tak pernah berbohong sekalipun Sepanjang tuhan menciptakan dunia sebelum fikir menjelma dalam jenak memang belum ada perjanjian seumur hidup Antara nyata dan maya Antara hidup dan mati Tuhan tak pernah mengijinkan Seribu rasa ingin semua terungkap Entah dengan sudut apa ia memandang Satu kejujuran cukup untuk bungkam Ribuan dusta dari sudut hati terdalam manusia Tapi semua terasa berbeda Cermin belajar arti sebuah kepalsuan dalam keadilan penuh aturan permainan Sampai akhirnya di satu titik Ia berputar kembali Dengan ribuan garis terukir Dalam dan tajam penuh luka di wajahnya Yogyakarta, 8 Januari 2009

Belajar Membunuh

Kuda-kuda besi merangsek paksa ribuan pedang Di tengah jalan padat merayap selamatkan satu tubuh penuh tebasan serta tetes darah Memaksanya berhenti berharap pada hari esok Tinggalkan satu kesempatan mengukir nama Jiwa tak lagi berharga tuk dijaga Di depan mata satu bilah tajam pedang Menembus dada kemudian semua hilang Kami harus berperang dan bertahan Selama bangunan dan bangku tetap berdiri Akan ada orang-orang di belakang itu semua nama dan sejarah lama sekolah terukir di dalam hati para lawan serta kawan Sebuah ancaman atau malah kebanggaan Bahwa mereka pernah ada di dalamnya Tak ada lagi buku atau pena di kepala Semua lebih suka untuk berkuda dan memanah tebarkan ketakutan diliputi dendam satu rasa penuh keberanian Buat kalian kami bajingan, tapi di sana kami pahlawan

Dinding ingatan

berharap jadikan ingatan layaknya debu Begitu mungil sampai tak sadar tersapu oleh waktu Jalani hidup apa adanya, bukan dusta dan pura-pura Tapi entah mengapa Tuhan berikan kertas putih Terlukis oleh kuas berjuta warna kehidupan Tuk ditempel dalam dinding ruang ingatan hitam akhirnya kau pilih hilangkan semua perih agar tak menafikan hidup dosa pernah tercipta atau putih suci seperti layaknya hati bermula biarkan sebuah awal ada di titik hati tanpa rasa tapi sekarang aku hanya sejenak melepaskan perlahan sampai kau tahu arti sebuah hidup yang kuberikan

Derita penuh dosa

Entah, masihkah raga ini ada Sementara tak ada hati tersisa menyingkir dalam sepi mimpi tak siapapun keluar bertahan sisakan kelam di saat malam sisakan kelam di dalam malam seorang diri kuberdoa akankah ada diluar sana satu cinta yang tersisa aku seorang pendosa akhirnya kesenangan itu larut mengendap dalam duka sisakan benci di setiap jiwa kau tikam, kau buang layaknya mayat di pinggir jalan

Hapus

lelah sudah tak lagi sanggup Memeluknya, menjaganya Berlari seakan sebuah jawab Tuk berpaling dari kenyataan hidup akhirnya ia padam oleh hembusan lembut angin petang sekejap menghilang Karena tak ada lagi percaya di sana Hati tak sanggup melihat dalam gelap hanya bisa berikan terang memilih jalan untuk pulang Dimana letak hati tersimpan dasar danau dan membeku pinggir pantai hangat mentari