Aku tidak terlalu ingat pertemuan terakhir kami. Samar-samar, seingatku ia sedang menempuh semester 1 kuliah. Ia dan aku terpaut jarak 4 tahun, sehingga kalau dilogika, aku masih duduk di kelas 3 SMP. Di semester dua, ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Memalsukan usia di KTP yang aslinya 19 tahun, menjadi 24 tahun. Dengan paras yang lumayan, dan sifatnya yang riang, dengan cepat ia menjadi pegawai kesayangan. Di pertemuan terakhir itu juga aku melihat bagaimana ia menemukan Jakarta sebagai tempat tinggalnya. Itu saja yang kuingat tentang dirinya. Meraba-raba kembali, bagaimana hubungan kami sebelumnya. Dan sampai hari ini, tidak banyak memang yang dapat kuingat darinya. “Aku sudah lama nggak pulang. Bukan karena tak ingin, tapi mungkin ini yang terbaik” Kabar yang kudengar dari mama, yang diteruskan oleh ayah, dari pembicaraan dengan simbah, memang tidak banyak mengejutkanku. Di Jakarta ia memang menjadi pegawai kesayangan. Pegawai kesayangan kepala divisinya. Sampai ...