Sekilas, semua seakan lepas tak ada yang tahu jikalau masa lalu sekedar selimut hangat membisu sekedar kau, diriku dan siapapun menggema dari satu lembar dinding rasuki rumah terakhir yang berbisik gapai lembut dedaunan di esok pagi di saat bangun tangan pilu ini mencerabut pikiran penuh rasa ketakutan jikalau mimpi tetap indah, biarlah sayang, sampai sekarang ribuan pasang sepatu tak cukup lagi tuk membungkus jemariku. Ia belum bisa menebus harapmu meski luka, meski buta bayang-bayang tak pernah lupa siapa pemiliknya bukan ingin cahaya terkungkung tanpa henti meraba pelan-pelan, adakah sesuatu tertinggal ketika ia tak bisa memilih lahir tapi memilih tuk tinggal