Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2010

Tenggelam dalam bayang

Sekilas, semua seakan lepas tak ada yang tahu jikalau masa lalu sekedar selimut hangat membisu sekedar kau, diriku dan siapapun menggema dari satu lembar dinding rasuki rumah terakhir yang berbisik gapai lembut dedaunan di esok pagi di saat bangun tangan pilu ini mencerabut pikiran penuh rasa ketakutan jikalau mimpi tetap indah, biarlah sayang, sampai sekarang ribuan pasang sepatu tak cukup lagi tuk membungkus jemariku. Ia belum bisa menebus harapmu meski luka, meski buta bayang-bayang tak pernah lupa siapa pemiliknya bukan ingin cahaya terkungkung tanpa henti meraba pelan-pelan, adakah sesuatu tertinggal ketika ia tak bisa memilih lahir tapi memilih tuk tinggal

Bahkan Shakespeare pun bisa komersil dan idealis

"Shakespeare itu komersil" Kalimat tersebut keluar begitu saja dari dosen Shakespeare saya, Pak Bakdi Soemanto. Saya yakin, nama beliau cukup terkenal di dunia akademis, khususnya anak-anak sastra. Sebuah jaminan akan analisis sastra yang bukan main-main. Dan ketika kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya kaget. How can? Selama ini nama seorang Shakespeare terkenal karena karya fenomenalnya. Othello, Macbeth, dan Romeo Juliet. Semuanya masih tetap dipelajari dan mempengaruhi karya-karya sastra generasi setelahnya. Artinya, nama seorang Shakespeare memiliki kekuatan aspek yang sangat penting. Kritik sosial, keindahan bahasa, dan juga kekayaan imajinasi. Untuk membuat sebuah naskah drama, Shakespeare seringkali berpergian ke negara-negara yang berbeda hanya untuk mewujudkan sebuah naskah drama. Jadinya nggak heran kalau latar belakang negara dari naskah-naskahnya juga berbeda. Selain itu, ia juga mau belajar dan tidak melupakan kekuatan dari karya-karya sastra sebelumny...

Relawan dadakan

Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata. Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan. Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang s...