Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2010

Mari berdoa?

Tsunami, Gunung Berapi meletus, Gempa. Bangsa Indonesia pernah merasakan semuanya. Untuk Jogja sendiri, Gempa dan letusan Merapi adalah fenomena alam yang biasa terjadi. terakhir 2006. Dan seketika semua seolah menjadi sadar. Semua berdoa. Semua bersatu. Terbukti, sebenarnya kita masih punya hati. Semua setidaknya masih mau mengingat tuhan ketika ketakutan seperti ini disebarkan. Meskipun kita tidak tahu apakah mereka yang menyatakan simpati, benar-benar dari lubuk hati yang terdalam. Cuma tuhan yang tahu Kita juga tidak tahu, dimanakah kelak nasib Mbah Maridjan dan juga 15 wartawan yang tewas setelah mereka datang ke dunia sana. Mereka berkerja dan kemudian Tuhan menurunkan cobaannya. Benarkah itu cobaan Tuhan? Bukan berarti saya tidak mengakui tuha, tetapi, seolah ketika semua mengatasnamakan tuhan, persoalan dibiarkan seolah selesai. Cukuplah berdoa, dan menyatakan simpati, kemudian tidak ada langkah pasti. Itulah kekurangan bangsa ini. Apa-apa larinya ke Tuhan, permasalahan inti di...

Semata Wayang

Wayang itu membosankan. Bahasanya aneh, juga instrumen yang digunakan ketinggalan jaman. Pendapat seperti itu sering saya dengar. Terutama jika sang pengemuka pendapat bukan asli Jawa. Makin setujulah saya dengan pendapat tersebut. Udah mainnya malam, harus begadang, musiknya juga bikin ngantuk. Lengkaplah wayang sebagai dongengan sakti pengantar tidur. Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil. Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto. Saya diajar beliau selama 3 semester. Semuanya berfokus pada kebudayaan dan juga pertunjukan. Diajarkan bagaimana melihat dan meng...

Mengusir Hujan

Pawang bingung mantranya kabur kalah sakti oleh doa petani menangis dompetnya krisis karena alam sok ekstrimis

Mengenang Hujan

Mungkin hujan sekedar mampir. Setiap kita berjalan, tak letih ia jatuh. Mengajak teman-temannya melompati atap genting bata rumahmu. Sebelum derum motor tumbuhkan niat mengintip, siapakah lelaki malam di setiap relung tidurmu Entah, itu tangis atau gerimis. Wajah mungilmu sedikit menyesakkan pilu. Esok, lusa atau selamanya, kita berpisah. Raga memang selalu indah dikenang, namun bisikan merdu itu tak pernah ragu. Hadir ke dalam letupan-letupan ringan. Sampai besok aku pulang

Mengulang

Semester ini saya mengulang 2 mata kuliah. Yang satu matkul semester 1 dan satunya matkul semester 3. Cukup untuk membuat beberapa kepala menggeleng. Saya nggak bilang saya pintar. IPK saya juga standar-standar aja. Cuma, kenapa justru mata kuliah yang termasuk mudah harus saya ulang, sementara mata kuliah lainnya tidak. Mata kuliah lain yang justru banyak diulang oleh teman seangkatan saya. Mengulang itu nggak gampang. Perasaan itu jelas-jelas kerasa. Kebayang nggak ketemu teman sekelas dengan semangat yang sama. Dan saya sedikit banyak menyesalinya. Tahu gitu mending duduk di perpus dan menggali skripsi-skripsi dari tahun sebelumnya. Adik angkatan saya memiliki isi kepala berbeda. Bayangkan jika kemudian kecepatan mereka menanggapi sebuah masalah dibandingkan dengan kakak angkatannya yang pernah menghadapi masalah yang sama. Berbeda jauh. Perasaan inilah yang akhirnya membuat saya makin malas bertemu mereka. Mengulang kuliah rasanya kosong, nggak dapat apa-apa. Yah, bukan waktunya bu...

Kepercayaan dan ketiadaan

Gimana sih rasanya jadi orang atheis itu? Apakah sekedar tidak memiliki tuhan dan kemudian memandang segala yang ada di dunia ini sekedar elemen dari hukum materialisme? Gambaran menjadi atheis seolah menjadi sebuah identitas yang harus dibuang jauh-jauh, khususnya di negeri ini. Apalagi kalau dikaitkan dengan peristiwa di tahun 1960an dulu. Ga punya agama, artinya komunis. Jadilah KTP Indonesia mencantumkan agama sebagai salah satu identitas yang wajib ada. Statistik KTP jugalah yang membuat Indonesia memiliki penganut agama Islam 3 terbesar didunia. Cuma di KTP. Perasaan wajib dan bukan berhak beragama yang ditanamkan sejak dahulu kala itulah yang akhirnya sedikit demi sedikit memupuk perasaan hampa dalam beragama. Cukuplah sekedar kita mengakui tuhan itu ada, tapi nggak ada rasanya. Di satu sisi, generasi kehilangan identitas. Di sisi lain, ekstrimis bermunculan tanpa pondasi serta toleransi yang kuat. Dua sisi berlawanan ini ada di Indonesia. kehadiran para pemuka dan pemimpin juga...

putra darah

Sampai saat ini, besok ku mati selamanya tak ada perubahan status sampai kelak tanah terbelah semua orang bisa bilang kau satu darah cukuplah kukenal dan pernah kukenal meski aku sendiri tak tahu, siapa dirimu masih haruskah kukatakan, ini sujudku demi satu harapan saat kematian tak neraka membuatku sengsara