ahahai, bangkai
menggelepar setelah dihajar kereta bertenaga kuda
terbang perlahan lupakan lapar tak ada makan
berguling-guling seakan tarian angsa danau
keluar dari lembar-lembar proposal
Hutan kau tebang, emas kau pendam
Cukuplah satu surat terakhir sebelum akhirnya tersingkir
berkelana tanpa ada keringat tersisa, senin kamis berpuasa
sudah habis tanah dan rumah sampai pulang pun sekedar impian
menguap di udara kemarau penuh asap tembakau
dan puing-puing kehancuran yang mengundang risau
itulah makna tanah dan rumah
tak mudah memang menyimpan bendung tangisan
terlebih dalam lubuk terdalam makhluk titisan
laut tak cukup, hutan kau raup
sementara dalam belukar duri kaca
imajinasi tak lagi miliki arti, bukankah sudah ada televisi
untuk doa. untuk membaca. untuk sebarkan cerita
habislah sudah dongeng-dongeng cengeng
menguras kantong mata nanar tanpa sinar
Sampai lupa untuk apa itu menangis.
Sampai lupa untuk apa itu mengemis.
Comments
Post a Comment