Skip to main content

Balik layar

Selama ini saya cukup menikmati peran sebagai seseorang yang berkerja di balik layar. Menikmati proses berfikir dan melihat, sejauh mana kesinambungan proses demi proses yang kemudian menciptakan sebuah hasil. Cukup melelahkan dan membutuhkan kesabaran memang, belum ditambah dengan tekanan karena memang kerja sebagai seorang pemikir jarang kelihatan.

Menjadi konseptor atau pekerja di balik layar saya mulai dengan terlebih dahulu dengan menjadi seorang perkerja lapangan. Entah itu sebagai perlengkapan, publikasi atau dokumentasi. Berkerja sebagai orang lapangan bukanlah sesuatu yang rendah. Memang, seringkali berkerja keras di belakang jarang terlihat sebagai sesuatu yang membanggakan. Capek iya, dihargai jarang. Tapi justru disitu kunci pergerkan sebuah sistem organisasi atau apapunlah namanya.

Berkerja dari bawah membuat saya bisa melihat kebutuhan dan faktor kegagalan terkecil dan seringkali berdampak besar. Hal inilah yang seringkali terabaikan oleh orang-orang yang menempati posisi langsung di atas. Mereka seringkali merasa lebih tahu dan menganggap hal-hal sepele bisa saja disingkirkan dan dikerjakan di lain waktu. Padahal, masing-masing lini sudah menempati ruang kerja dan juga tak bisa jika sebuah sistem berjalan, ada bagian yang mandeg karena kemudian akan menghambat pergerakan lini yang lain.

Dari pekerja lapangan, pengalaman yang ada kemudian terkumpul dan akhirnya mau nggak mau harus saya lepaskan. Bukan karena lelah, tapi karena di belakang, masih ada generasi-generasi baru yang harus belajar. Dan apabila ini tidak disalurkan, efeknya cenderung berbahaya. Hal yang biasa terjadi adalah, seseorang terlalu ahli dan kemudian orang lain tidak terlihat kemampuan aslinya secara utuh. Orng-orang cenderung mengandalkan sang ahli tersebut dan ketika ia tak ada, orang lain tak bisa menggantikan.

Jenjang yang kemudian saya lakukan adalah sebagai penyeimbang antara orang-orang tua yang ada di atas dan juga yang ada di bawah. Kultur yang ada di Indonesia terkadang membuat orang segan untuk menyampaikan hal secara langsung jika ia adalah seoang yang baru atau bawahan. Atasan sendiri di lain pihak berfikir bahwa persoalan kecil seharusnya tidak perlu mereka utarakan, khususnya persoalan personal yang berefek besar pada suatu sistem organisasi. Maka penyeimbang berperan untuk menyampaikan sesuai dengan bahasa yang diperlukan. Secara teknis, maupun analisis.

Pasca menjadi penyeimbang, saya tidak melihat ada hal lain yang bisa dilakukan. Bukan menghindari resiko, namun untuk menjadi seorang pemimpin, diperlukan kebijaksanaan dan juga kearifan dalam mengambil keputusan. Berkerja sebagai penyeimbang membuat saya cenderung melihat sebuah permasalahan sebagai sebuah kesatuan dan bentuknya tidak bisa diubah. Pekerjaan yang diambil sebagai pemikir seringkali membuat faktor luar terabaikan. Sementara seorang pemimpin melihat hal yang berbeda. Ia bisa saja menganggap sebuah perubahan adalah hal yang wajar. Sementara saya tidak.

Selain itu, berkerja sebagai seorang pemimpin membuat terkadang ia harus melepaskan pekerjaan yang memang membuatnya terangkat dan dikenal lalu kemudian ia dipercaya. Saya masih menikmati pekerjaan tersebut, sehingga mau nggak mau saya tidak melihat kesempatan lain, contohnya perubahan itu tadi. Secara analisis bisa, tapi dalam eksekusi, pemimpin bisa lebih tahu dan juga nyaman dalam penyampaian

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...