Skip to main content

Kandang.

Aku tidak terlalu ingat pertemuan terakhir kami. Samar-samar, seingatku ia sedang menempuh semester 1 kuliah. Ia dan aku terpaut jarak 4 tahun, sehingga kalau dilogika, aku masih duduk di kelas 3 SMP. Di semester dua, ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Memalsukan usia di KTP yang aslinya 19 tahun, menjadi 24 tahun. Dengan paras yang lumayan, dan sifatnya yang riang, dengan cepat ia menjadi pegawai kesayangan. Di pertemuan terakhir itu juga aku melihat bagaimana ia menemukan Jakarta sebagai tempat tinggalnya.

Itu saja yang kuingat tentang dirinya. Meraba-raba kembali, bagaimana hubungan kami sebelumnya. Dan sampai hari ini, tidak banyak memang yang dapat kuingat darinya.

“Aku sudah lama nggak pulang. Bukan karena tak ingin, tapi mungkin ini yang terbaik”

Kabar yang kudengar dari mama, yang diteruskan oleh ayah, dari pembicaraan dengan simbah, memang tidak banyak mengejutkanku. Di Jakarta ia memang menjadi pegawai kesayangan. Pegawai kesayangan kepala divisinya. Sampai kemudian, mereka berpacaran, memutuskan menikah, melamar, dan lantas tak berapa lama, rencana pernikahan dibatalkan.

“Oommu tidak merasa nyaman dengan sang calon besan. Mereka tampak sangat merendahkan keluarga kita,” kata Istri paman, ibunya.

Setelah itu, pembicaraan mengenainya menjadi tabu di rumah keluarga besar ayahku. Ia memutuskan untuk hamil di luar nikah. Harapannya, dengan kehamilan tersebut, keluarganya akan menerima suaminya, dan mengijinkan pernikahan mereka. Sayang, keputusannya ditolak mentah-mentah. Pada akhirnya, adik bungsu ayah, bersama suaminya menjadi saksi, sekaligus wali. Undangan pernikahan mereka juga tak sampai ke ayah. Ia hanya mendengar, ketika simbah dengan terisak-isak menceritakan keadaan sang cucu di Jakarta.
“Mereka bercerai, dan anaknya ia titipkan disini,” Ucap Simbah.

Aku bisa melihat kemiripannya dengan anaknya. Untunglah. Karena satu-satunya yang ditinggalkan oleh suaminya hanyalah warna sawo matang di kulit anaknya. Ia sendiri tetap di Jakarta. Terakhir kulihat di facebook, ia mengenakan jilbab. Lumayanlah menurutku. Meski mungkin di belakang banyak perkataan yang tak bisa diperlihatkan di depan.

Dan ia menikah kembali. Entah dengan siapa.
---
Lebih dari setahun aku tak menengok simbah. 2 kepala keluarga, berlindung di bawah ketiak ibunya. Seperti ayam. Itu rumah keluarga besar ayahku. Ayah sendiri sudah berpisah dengan simbah sejak kuliah. Sampai sekarang. Tak heran ia menjadi kesayangan. Tak banyak bau tai yang diperlihatkan. Wangi.

Sementara kedua adiknya, seperti ayam. Berebut makanan yang dibagikan. Hanya saja, adik lelaki ayahku lumayan mendapat ruang. Entah karena ia seorang lelaki, tetapi sepertinya tidak juga. Istrinya memang tak banyak bertukar kata denganku. Baru tahun-tahun terakhir sejak anak gadisnya memutuskan tidak pulang, ia baru mau menukar berita. Bercerita tentang anak perempuannya yang sulung, bercerai. Meninggalkan 2 orang anak. 

Maka keluarga sang ayam beranak pinak. Dua janda dalam satu keluarga. Sementara anak ketiganya yang laki-laki memilih merantau jauh ke Jakarta. Sempat menyalahkan kakak keduanya, meskipun satu kota, mereka tak pernah bertegur sapa. Baru di kemudian hari ia mampu menerima kenyataan jika keluarganya tak sempurna. Si bungsu dari keluarga paman seolah tak ada. Jika paman ada, ia tak ada. Jika paman tak ada, ia juga tak ada. Sama saja sebenarnya. Sebenarnya kakak perempuannya yang di Jakarta sudah menawarkan pekerjaan untuknya. Hanya, ia sayang jika harus meninggalkan ibunya.

Adik bungsu ayahku yang perempuan juga tak indah kisah hidupnya. Pasca suaminya dipecat, perekonomian keluarganya menjadi terombang ambing. Masih harus mengalami kecelakaan parah, tak heran tabungan suaminya habis untuk pulih. Pekerjaan tambahan yang ia pilih lantas menjadi masalah. Menjaga kafe di malam hari. Menemani orang-orang bernyanyi sampai pagi. Awalnya paman yang merasa jengah. Dan akhirnya suaminya turut merasa kehilangan kesempatan menjadi andalan. Mereka bercerai. Kedua anaknya tak bisa dibilang bisa dewasa. Yang satu agak terbelakang, dan satunya tak lebih dari anak gadis kebanyakan.


Semua itu aku tahu di belakang. Saat aku berjumpa dengannya. Setelah sekian tahun. Setelah kemudian aku bertemu dengan anak kedua dari suaminya yang sekarang. Sementara seorang lagi masih menunggu untuk dilahirkan. Dan diam-diam aku bimbang. Haruskah aku pulang, menengok simbah setelah cerita keluarga besar ayah?

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...