Skip to main content

Datang dan pergi

Apa sih yang membuat saya bertahan dalam sebuah organisasi, komunitas, atau kelompok apapun itu sebutannya?

Mungkin banyak yang berfikir, ketika kita ikut dalam sebuah perkumpulan, manfaat yang kita dapatkan dari perkumpulan itu yang membuat kita bertahan. Mungkin juga karena ada satu ikatan, seperti perkumpulan Alumni, atau organisasi kedaerahan. Ternyata, saya bertahan bukan karena itu.

Saya menyadari satu hal ketika pada akhirnya saya meninggalkan banyak organisasi, atau justru bertahan di dalamnya. Ada satu alasan yang mungkin dianggap bodoh. Saya bertahan karena teman. Hanya itu. Nggak lebih. Bukan karena jatah menulis. Bukan karena mengejar prestasi. Bukan karena kesempatan untuk pergi ke luar negri. Dan juga bukan karena uang.

Nggak sedikit yang bilang bahwa saya hanya buang-buang waktu, tenaga, dan terkadang juga uang. Nggak sedikit yang bilang kalau saya terlalu banyak melewatkan kesempatan yang telah diberikan karena saya memutuskan untuk bertahan atau meninggalkan sebuah organisasi. Banyak yang bertanya, apa yang membuat saya mau menghabiskan semua yang saya miliki karena mereka nggak melihat ada sesuatu yang menguntungkan di situ.

Ketika saya mengatakan pertemanan yang membuat saya bertahan, orang-orang itu hanya mengeleng-gelengkan kepala. Ada juga yang justru tersenyum dan salut terhadap apa yang saya kemukakan. Mengapa pertemanan begitu berarti bagi saya? Karena pertemanan yang mampu membuat saya bertahan bukanlah pertemanan biasa. Lebay mungkin, tapi itulah yang sebenarnya terjadi.

teman bagi saya adalah teman yang mau dan mampu memahami setiap perbedaan. Bukan pertemanan yang didasari hanya kenal nama atau berkerja dalam waktu yang sama. Ketika kita mau dan mampu memahami, maka kita nggak akan memikirkan hal-hal lainnya. Kita nggak akan takut untuk menjadi diri kita sendiri. Kita nggak akan merasa curiga dan nggak enak hati karena merasa bahwa ada hal yang salah dari diri kita. Kita akan merasa nyaman untuk tertawa, menangis, marah atau berduka bersama jika kita memiliki teman yang mau mengerti.

Bukan hal yang gampang memang, tapi saya selalu menemukan orang seperti itu selama saya hidup. Butuh waktu yang lama untuk menemukan dan bertahan dalam sebuah perkumpulan yang mau memahami diri kita. Dan ketika saya mencoba untuk melihat, ada hal unik sehingga orang-orang ini mau mengerti apa arti perbedaan itu. Orang-orang ini sendiri berbeda satu sama lain. Entah itu agama, suku, ideologi atau perbedaan lainnya.

Seperti saya, mungkin pada awalnya mereka punya tujuan tertentu untuk ikut terlibat dalam sebuah perkumpulan. Tapi pada akhirnya, mereka justru bertahan karena alasan bodoh yang saya sebutkan di atas. Mau mengerti dan paham bahwa mereka berbeda dan mereka diterima. Secara otomatis kesadaran untuk mau mengerti terbangun dengan sendirinya.

Dialog, saling terbuka dan membagi rasa dengan jujur adalah satu langkah untuk dapat memahami satu sama lain. Dan hal itu akan lebih terasa jika kita berbeda. Perbedaan menimbulkan pertanyaan bagaimana kita kelak mampu berjalan bersama dan tidak melukai satu sama lain. Cukup sulit untuk memunculkan pertanyaan jika kita berada dalam sebuah kelompok yang relatif sama. Pada akhirnya, kita lebih suka untuk berpura-pura demi menjaga kebahagiaan semu yang terbangun. Nggak ingin jika teman memusuhi kita karena kita dengan jujur bilang nggak suka dengan tindakan dia. Nggak ingin jika kita akhirnya dijauhi karena kita nggak ikut main bareng karena memang kita nggak berminat.

Bayang-bayang ketakutan itulah yang akhirnya membuat kita lebih suka untuk diam dan cenderung menjadi pengekor dari apa yang dilakukan oleh mayoritas teman kita. Padahal belum tentu semua ketakutan itu benar-benar terjadi. Banyak orang yang justru lebih suka jika kita jujur dan terbuka daripada kita berbohong pada diri sendiri dan berpura-pura di depan mereka. Terkadang sakit memang jika kita jujur karena menyinggung satu titik sensitif dari seorang teman. Tapi akan terasa lebih sakit jika pada akhirnya teman tahu bahwa ia dibohongi oleh orang terdekatnya sendiri.

Saya sadar, pada akhirnya saya nggak akan selamanya ada dalam perkumpulan itu. Tapi saya percaya, teman-teman saya nggak akan pernah melupakan saya. Mereka akan selalu ada dan hidup dalam hati masing-masing. Mungkin, di saat mereka jatuh karena mereka merasa nggak ada orang yang bisa mengerti diri mereka, kenangan manis bersama teman akan mampu membuat mereka bertahan. Cukup dengan hal kecil seperti kejujuran, keterbukan dan saling mengerti. Bukan karena uang atau hal lain yang mungkin dianggap berharga di dunia ini. Amin


Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...