Jauh di dasar hati manusia, selalu ada keinginan menjadi baik. Hal ini mungkin menjadi dasar teori Realisme. Tapi, kebaikan tidak hanya menjadi milik realisme saja. Semua aspek dalam kehidupan menginginkan kebaikan. Menjadi pondasi atas struktur sosial yang beraneka ragam. Menjadikan kehidupan sebagai salah satu pertimbangan mengapa kita ada di dunia.
Setidaknya ada tiga aspek dalam berusaha menjadi baik. Usaha-usaha inilah yang seringkali menjadi point penilaian dari manusia lainnya, karena usaha-usaha dalam berproses menjadi baik lebih penting dari hasilnya sendiri. Bukan apa-apa. Banyak orang yang menginginkan hasil yang baik. Tapi seringkali keinginan itu tidak dibarengi dengan proses. Sehingga, mungkin akan lebih baik jika memperhatikan proses. Tujuan akhir hanyalah sekedar patokan agar tidak ada kesalahan dalam melangkah.
Aspek pertama adalah keinginan kita untuk dapat menerima kebaikan itu sendiri. kita bisa melihat, banyak orang membawakan pesan-pesan kebaikan, menebar nasihat kesana kemari, tapi pada akhirnya, pesan-pesan itu menjadi sia-sia. Sekedar menjadi angin lalu dan sekedar pelengkap dari keinginan untuk membuat orang lain terkesan. Alasannya adalah tidak adanya keinginan dari hati untuk bisa menerima. Orang-orang tahu jika pesan kebaikan itu bermanfaat banyak dalam hidup. Tapi, hati yang tidak bisa terbuka tidak akan bisa meresapi makna kebaikan itu sendiri. tidak dapat mengaplikasikannya dalam keseharian. Berusaha untuk selalu mengelak saat kebaikan itu bertentangan dengan kepentingan yang dirasa cukup menguntungkan dari segi nilai.
Aspek berikutnya adalah kemampuan menilai baik dan buruk. Masing-masing individu memiliki cara sendiri dalam mengartikan keduanya. Kadangkala kita tidak dapat melihat baik dan buruk dengan jelas karena adanya ganjalan di dalam hati. Menimbulkan keragu-raguan dalam melangkah sehingga terkesan menjadi plin-plan. Akan lebih baik mungkin seandainya jika kita menghindari hal yang meragukan itu sendiri. menepi sejenak untuk dapat melihat wujud dari kebaikan dan keburukan yang sebenarnya.
Terakhir, komitmen untuk melakukan yang terbaik seolah esok tak ada lagi, seolah esok kita sudah mati. Standar manusia hidup di dunia rata-rata 60 tahun. Karena merasa masih hidup dan memiliki hari esok seringkali kita suka menunda pekerjaan. Kemalasan ini menyebabkan motivasi dari diri kita sendiri berkurang. Akhirnya, pekerjaan selesai dengan hasil seadanya. Selesai, tapi tidak ada kepuasan dan kebanggaan. Padahal, diri kita sendiri yang akhirnya bahagia jika mampu menyelesaikan dan menciptakan yang terbaik. Komitmen melakukan yang terbaik menjadikan diri orang menatap dunia dengan pandangan yang cerah. Yakin karena akhirnya, hasil yang baik menyertai usaha mempersembahkan yang terbaik.
Ketiganya merupakan satu rangkaian tak terpisahkan. Jika salah satu aspek saja hilang, maka akan sulit mewujudkan perubahan menjadi baik. Karena perubahan diri sendiri merupakan hal yang cukup berat karena di saaat itu kita brhadapan dengan hawa nafsu kita. Mencoba untuk lebih memberikan ruang kepada hati nurani. Dengan demikian, perubahan bukanlah hanya menjadi omong kosong belaka. Amin
Comments
Post a Comment