Skip to main content

berubah menjadi lebih baik

Jauh di dasar hati manusia, selalu ada keinginan menjadi baik. Hal ini mungkin menjadi dasar teori Realisme. Tapi, kebaikan tidak hanya menjadi milik realisme saja. Semua aspek dalam kehidupan menginginkan kebaikan. Menjadi pondasi atas struktur sosial yang beraneka ragam. Menjadikan kehidupan sebagai salah satu pertimbangan mengapa kita ada di dunia.

Setidaknya ada tiga aspek dalam berusaha menjadi baik. Usaha-usaha inilah yang seringkali menjadi point penilaian dari manusia lainnya, karena usaha-usaha dalam berproses menjadi baik lebih penting dari hasilnya sendiri. Bukan apa-apa. Banyak orang yang menginginkan hasil yang baik. Tapi seringkali keinginan itu tidak dibarengi dengan proses. Sehingga, mungkin akan lebih baik jika memperhatikan proses. Tujuan akhir hanyalah sekedar patokan agar tidak ada kesalahan dalam melangkah.

Aspek pertama adalah keinginan kita untuk dapat menerima kebaikan itu sendiri. kita bisa melihat, banyak orang membawakan pesan-pesan kebaikan, menebar nasihat kesana kemari, tapi pada akhirnya, pesan-pesan itu menjadi sia-sia. Sekedar menjadi angin lalu dan sekedar pelengkap dari keinginan untuk membuat orang lain terkesan. Alasannya adalah tidak adanya keinginan dari hati untuk bisa menerima. Orang-orang tahu jika pesan kebaikan itu bermanfaat banyak dalam hidup. Tapi, hati yang tidak bisa terbuka tidak akan bisa meresapi makna kebaikan itu sendiri. tidak dapat mengaplikasikannya dalam keseharian. Berusaha untuk selalu mengelak saat kebaikan itu bertentangan dengan kepentingan yang dirasa cukup menguntungkan dari segi nilai.

Aspek berikutnya adalah kemampuan menilai baik dan buruk. Masing-masing individu memiliki cara sendiri dalam mengartikan keduanya. Kadangkala kita tidak dapat melihat baik dan buruk dengan jelas karena adanya ganjalan di dalam hati. Menimbulkan keragu-raguan dalam melangkah sehingga terkesan menjadi plin-plan. Akan lebih baik mungkin seandainya jika kita menghindari hal yang meragukan itu sendiri. menepi sejenak untuk dapat melihat wujud dari kebaikan dan keburukan yang sebenarnya.

Terakhir, komitmen untuk melakukan yang terbaik seolah esok tak ada lagi, seolah esok kita sudah mati. Standar manusia hidup di dunia rata-rata 60 tahun. Karena merasa masih hidup dan memiliki hari esok seringkali kita suka menunda pekerjaan. Kemalasan ini menyebabkan motivasi dari diri kita sendiri berkurang. Akhirnya, pekerjaan selesai dengan hasil seadanya. Selesai, tapi tidak ada kepuasan dan kebanggaan. Padahal, diri kita sendiri yang akhirnya bahagia jika mampu menyelesaikan dan menciptakan yang terbaik. Komitmen melakukan yang terbaik menjadikan diri orang menatap dunia dengan pandangan yang cerah. Yakin karena akhirnya, hasil yang baik menyertai usaha mempersembahkan yang terbaik.

Ketiganya merupakan satu rangkaian tak terpisahkan. Jika salah satu aspek saja hilang, maka akan sulit mewujudkan perubahan menjadi baik. Karena perubahan diri sendiri merupakan hal yang cukup berat karena di saaat itu kita brhadapan dengan hawa nafsu kita. Mencoba untuk lebih memberikan ruang kepada hati nurani. Dengan demikian, perubahan bukanlah hanya menjadi omong kosong belaka. Amin

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...