Wayang itu membosankan. Bahasanya aneh, juga instrumen yang digunakan ketinggalan jaman. Pendapat seperti itu sering saya dengar. Terutama jika sang pengemuka pendapat bukan asli Jawa. Makin setujulah saya dengan pendapat tersebut. Udah mainnya malam, harus begadang, musiknya juga bikin ngantuk. Lengkaplah wayang sebagai dongengan sakti pengantar tidur.
Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil
Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil.
Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto.
Saya bukanlah salah seorang pencinta wayang fanatik. Tapi pada akhirnya saya harus akrab dan menjadi bagian dari pertunjukan wayang. Sebuah wayang yang akrab dengan sebutan wayang kancil
Wayang Kancil adalah jenis wayang yang mengangkat cerita rakyat. Karena di awal kemunculannya cerita yang diangkat seringnya cerita Kancil, kemudian wayang ini populer dengan nama wayang Kancil.
Saya bisa mengenal wayang kancil ini karena ada dosen saya yang kebetulan juga dalang. Nama beliau Pak Eddy Pursubaryanto.
Saya diajar beliau selama 3 semester. Semuanya berfokus pada kebudayaan dan juga pertunjukan. Diajarkan bagaimana melihat dan menghadapi perbedaan kebudayaan dan bagaimana mengapresiasikannya dalam bentuk tulisan
Di semester 4, sejumlah mahasiswa yang ikut kelas beliau, diajak untuk bersama-sama belajar bermain wayang. Waktu itu ada 15 orang yang terlibat awalnya. Kami belajar membuat sendiri, dan juga mementaskannya. Kami kemudian sepakat memberi nama komunitas ini "Semata Wayang"
Sekarang, semata wayang sudah memiliki generasi penerus. Mereka adalah adik-adik angkatan di bawah saya. Harapannya, Komunitas ini tetap bisa bertahan meski para pendirinya sudah meninggalkan dunia kampus. Tetap pentas dan juga membuat orang-orang tidak asing dengan yang namanya wayang.
Di semester 4, sejumlah mahasiswa yang ikut kelas beliau, diajak untuk bersama-sama belajar bermain wayang. Waktu itu ada 15 orang yang terlibat awalnya. Kami belajar membuat sendiri, dan juga mementaskannya. Kami kemudian sepakat memberi nama komunitas ini "Semata Wayang"
Sekarang, semata wayang sudah memiliki generasi penerus. Mereka adalah adik-adik angkatan di bawah saya. Harapannya, Komunitas ini tetap bisa bertahan meski para pendirinya sudah meninggalkan dunia kampus. Tetap pentas dan juga membuat orang-orang tidak asing dengan yang namanya wayang.
Comments
Post a Comment