Kemarin malam kami berbincang mengenai masa depan. Ia, seorang kakak angkatan yang baru saja lulus setelah menunda skripsinya hanya karena memang tak mau saja. Saya, yang menunda skripsi, demi memperjuangkan harga diri. Berbeda, tapi setidaknya saya belajar darinya. Sebuah hambatan dalam menempuh jalan akan terasa lebih berat saat kita akan meneruskan sebuah impian yang tertinggal.
Sebenarnya bisa saja saya nekad memperjuangkan apa yang saya inginkan dalam sebuah karya tulis penutup lembar masa perkuliahan. Sayang, keadaan mengajak saya kembali berfikir, apakah kemudian jalan yang saya ambil kemudian memberikan kemudahan di masa depan. Akankah ia kemudian memberi manfaat dan juga akibat yang sama besarnya jika saya tetap saja nekad.
Menemani dan juga mendengar apa yang teman saya bicarakan sedikit banyak membuat saya sadar. Tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. TIdak semua aturan, pantas untuk dilanggar tanpa memperdulikan rambu-rambu yang memang tercipta.
Itu yang saya rasakan setelah satu bulan lebih mencoba berkerja di tempat yang memang saya dambakan. Disana memang menyenangkan. Buku-buku bermutu dan juga orang-orang sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tapi, ada aturan-aturan yang sedikit tidak sesuai dengan apa yang biasa saya lakukan.
Dan, beberapa kali mencoba melihat bagaimana efek dari melakukan hal yang sebaliknya membuka sudut mata bahwa aturan ada untuk kebaikan bersama. Dan untungnya, aturan masih bisa dievaluasi. Untuk kebaikan bersama juga, bukan hanya secara individu.
Itulah kenyataan yang kemudian saya pegang. Bermimpi, dan kemudian sadari bahwa mimpi juga perlu diinstropeksi. Banyak orang-orang yang memiliki besar, tapi kemudian limbung di tengah jalan begitu melihat kenyataan. Mereka yang memilih bermimpi dan hanya berdiskusi tanpa ada hasil kerja untuk mempertahankan harga diri.
Mereka berbeda. Mereka tak merasakan hambatan, dan juga kejamnya kehidupan. Melihat bagaimana dengan mudahnya jalanan yang lempeng kemudian hilang berkeping-keping. Merasakan bahwa kenyataan tak sesuai dengan idealisme yang mereka pegang. Itu yang saya rasakan dari mereka sang pengumbar kata. Diam seribu bahasa saat tak lagi ada yang mau diajak berbicara.
Sebenarnya bisa saja saya nekad memperjuangkan apa yang saya inginkan dalam sebuah karya tulis penutup lembar masa perkuliahan. Sayang, keadaan mengajak saya kembali berfikir, apakah kemudian jalan yang saya ambil kemudian memberikan kemudahan di masa depan. Akankah ia kemudian memberi manfaat dan juga akibat yang sama besarnya jika saya tetap saja nekad.
Menemani dan juga mendengar apa yang teman saya bicarakan sedikit banyak membuat saya sadar. Tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. TIdak semua aturan, pantas untuk dilanggar tanpa memperdulikan rambu-rambu yang memang tercipta.
Itu yang saya rasakan setelah satu bulan lebih mencoba berkerja di tempat yang memang saya dambakan. Disana memang menyenangkan. Buku-buku bermutu dan juga orang-orang sesuai dengan apa yang saya harapkan. Tapi, ada aturan-aturan yang sedikit tidak sesuai dengan apa yang biasa saya lakukan.
Dan, beberapa kali mencoba melihat bagaimana efek dari melakukan hal yang sebaliknya membuka sudut mata bahwa aturan ada untuk kebaikan bersama. Dan untungnya, aturan masih bisa dievaluasi. Untuk kebaikan bersama juga, bukan hanya secara individu.
Itulah kenyataan yang kemudian saya pegang. Bermimpi, dan kemudian sadari bahwa mimpi juga perlu diinstropeksi. Banyak orang-orang yang memiliki besar, tapi kemudian limbung di tengah jalan begitu melihat kenyataan. Mereka yang memilih bermimpi dan hanya berdiskusi tanpa ada hasil kerja untuk mempertahankan harga diri.
Mereka berbeda. Mereka tak merasakan hambatan, dan juga kejamnya kehidupan. Melihat bagaimana dengan mudahnya jalanan yang lempeng kemudian hilang berkeping-keping. Merasakan bahwa kenyataan tak sesuai dengan idealisme yang mereka pegang. Itu yang saya rasakan dari mereka sang pengumbar kata. Diam seribu bahasa saat tak lagi ada yang mau diajak berbicara.
Comments
Post a Comment