Semalaman tubuh itu bungkam. Tak ada yang mampu membuatnya bangkit dan berpindah ke sebuah titik yang mungkin lebih nyaman. Sementara pagi pelan-pelan merambat. Menyisipkan satu garis tipis cahaya ke dalam retina bola mata. Perih, tapi tak ada yang bisa membuatnya sadar jika kemudian tubuhnya hilang. Tenggelam dalam bayang-bayang bangunan kosong nan sombong.
"Aku rasa, cukuplah hidupku dalam siklus yang tak bertepi ini"
Ia bercerita panjang tadi malam. Membagikan satu-satu kisah reinkarnasi yang ia hadapi setiap akan mati. Semuanya tetap terekam dan tak ada yang bisa bilang kalau itu hanyalah bualan. Terlalu datar dan terkesan membosankan mendengar seseorang berbicara mengenai kehidupan yang sebenarnya tak bisa kita lihat dan rasakan.
Yah, ia sendiri tak tahu mengapa ia hidup kembali dalam sosok tanpa hati. Merasakan kehidupan yang terulang tanpa tahu apa saja yang hilang. Kehilangan teman dan juga orang-orang yang tak ia temukan di dalam sembilan ratus siklus kemudian. Semua terasa membingungkan. Sementara banyak yang datang dan kemudian berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah ada di kehidupan sebelumnya, ia hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, "Maaf, saya tak kenal siapa anda"
Ia tak siap jika harus membuat kelopak matanya basah, untuk ke sekian kali. Untuk sekian kematian yang tak pernah sanggup ia hadang.
Dan akhirnya, setelah seribu kali hidupnya terulang, sosok itu datang. Tak sama seperti sebelumnya, ia hanya datang dan kemudian duduk sembari mengulurkan sebotol anggur.
"Kudengar kau sudah hidup seribu kali" Bisiknya tanpa aba-aba
"Kau juga?" Tanyanya
"Yah, dan aku sudah lelah. Ingin ku titip pesan saat besok kau bertemu tuhan, biarkan saja aku hidup abadi, daripada harus mati berulangkali"
Setelahnya mereka tak berkata apa-apa. Hanya menunggu siapa yang kemudian hilang di saat pagi menjelang. Sembari menyesap pelan-pelan kehidupan yang terasa membosankan
Comments
Post a Comment