Skip to main content

Pemungut kisah

Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu
warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun.
Sejak kapan, aku pun tak tahu
wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika
membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga.

Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut
gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang
bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang
seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah
Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan

di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh
di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil.
berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil.
manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga.
layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan
demi sebuah struk gaji pokok bulanan

untuk itulah, kisah demi kisah terus saja terbaca. Tanpa tahu siapakah yang rela
membiarkannya terbuka, mengintip, dalam ruang baca berisi kursi roda.
di akhir kisah, semoga bunga yang mengembang dapat mengabadi di antara kepingan
kaca vas bunga. atau, ada yang tega membuangnya ke tong sampah
bercampur kebusukan isi perut ikan serta tumpukan makanan yang tak habis
lalu dibuang

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...