Sudah lama. Mungkin juga. Kelopak ini terus menguncup tanpa tahu
warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun.
Sejak kapan, aku pun tak tahu
wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika
membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga.
Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut
gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang
bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang
seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah
Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan
di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh
di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil.
berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil.
manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga.
layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan
demi sebuah struk gaji pokok bulanan
untuk itulah, kisah demi kisah terus saja terbaca. Tanpa tahu siapakah yang rela
membiarkannya terbuka, mengintip, dalam ruang baca berisi kursi roda.
di akhir kisah, semoga bunga yang mengembang dapat mengabadi di antara kepingan
kaca vas bunga. atau, ada yang tega membuangnya ke tong sampah
bercampur kebusukan isi perut ikan serta tumpukan makanan yang tak habis
lalu dibuang
warna indahkan tumpukan hijau berukirkan daun.
Sejak kapan, aku pun tak tahu
wujudnya sungguh berbeda. dan satu ketika, tumpukan tanah seketika
membuncah. Terangkat pelan. Bukan sesuatu yang pantas tuk dijaga.
Begitu juga kisah indah manusia. Tak ada yang awalnya menduga, dimana maut
gunakan seribu jalan demi satu kehidupan. hilang
bukan nyawa yang berharga, namun cerita di dalamnya. kenangan, juga sejarah panjang
seorang manusia di dunia yang tak bernyawa. Hampa. Tak terarah juga penuh gundah
Begitulah nasib anak-anak tuhan yang terabaikan. habis dimakan cacing kelaparan
di lain masa, kepingan serbuk sari akhirnya berlabuh pada tanah tua yang rapuh
di lain kata, serbuk sari sembunyi ke sepasang gelas mungil.
berbisik pada ketenangan harum senja ditemani piring kecil.
manis tersesap. pahit menjengat. hitam berjelaga.
layaknya seorang tua tanpa telegram berbulan bulan
demi sebuah struk gaji pokok bulanan
untuk itulah, kisah demi kisah terus saja terbaca. Tanpa tahu siapakah yang rela
membiarkannya terbuka, mengintip, dalam ruang baca berisi kursi roda.
di akhir kisah, semoga bunga yang mengembang dapat mengabadi di antara kepingan
kaca vas bunga. atau, ada yang tega membuangnya ke tong sampah
bercampur kebusukan isi perut ikan serta tumpukan makanan yang tak habis
lalu dibuang
Comments
Post a Comment