Dalam hati, ada kesal ketika kata Jakarta terungkap. Seolah semua ada di sana, segalanya. Sementara itu lainnya hanyalah seperti kumbang yang berterbangan, bersiap-siap mati di sekitar. Tersengat panasnya cahaya. Jika memang ada yang bertahan, silau lampu seringkali membutakan mata. Melupakan tujuan dan kenangan di belakang.
Arogan. Sederhana tampaknya. Sebuah kesan kota seribu macam manusia. Sayang jika ada mereka yang benar-benar berjalan dalam pilihan, akhirnya tak bisa memunculkan harapan dalam kenyataan hanya karena tidak merata kue-kue harta, atau tahta, juga citra. Apapun lah. Yang jelas, sampai sekarang aku masih tak ingin, meski disana banyak ruang dan juga kesempatan untuk aku berkembang.
Comments
Post a Comment