Sebagai Mahasiswa, berkerja sebagai relawan itu adalah suatu kebiasaan. Rela dipalakin temen, rela minjemin fotocopy diktat, rela kamarnya dipake buat ngumpul, rela harga kaos dipotong sepuluh persen, rela kerja rodi sama dosen. Intinya, Mahasiswa akrab dengan sesuatu yang harus membuat mereka rela mengerjakan apapun tanpa berharap imbalan dalam bentuk nyata.
Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan.
Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang sudah dikondisikan, sementara mendadak ada relawan yang cuma pasang badan.
Di awal, kehadiran relawan dadakan seperti itu mungkin akan memberikan kebahagiaan. Sadar bahwa tak sedikit orang peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Namun, saat mereka tak mau dikendalikan, sekedar duduk diam tanpa memberikan bantuan, wajar rasanya ketika kemudian setiap bantuan berwujud orang harus menerima penolakan.
Terlebih, kondisi di lapangan kemudian menjadi objek yang pantas untuk dipertontonkan sekedar untuk kesenangan. "Eh, aku udah di atas lho. Serem banget booo...tar deh fotonya aku upload di FB. Kamu tar liat yaaa..." Bikin males tahu. Sementara di lain sisi mereka menggunakan relawan dadakan sebagai alasan. "Aduh, sori, aku lagi di atas, sibuk banget. Tugasnya kamu kerjain dulu ya. Tar aku nyusul" Enak bener ya....
Perlu dicamkan sekali lagi, menjadi relawan tidak hanya perlu badan. Masih banyak hal lain yang harus dilakukan oleh relawan beneran tanpa terganggu oleh relawan dadakan. Masih banyak pengungsi yang harus diamankan tanpa harus terbebani sejumlah relawan dadakan. Relawan yang datang, dan menjadi umpan kepada malaikat maut yang nggak punya belas kasihan.
Kebiasaan hidup dengan dipaksa rela a.k.a relawan ini mau nggak mau turut tergugah ketika terjadi bencana alam. Muncullah relawan dadakan bencana alam dimana-mana. Melaporkan perkembangan setiap detiknya dari lapangan. Publish di FB, twitter juga di blog. Padahal, kerjanya cuma nongkrong di depan posko tanpa ada yang dilakukan.
Relawan dadakan seperti itu cukup banyak terlihat saat ada bencana alam. Mungkin kebiasaan ketika jadi relawan kampus. Relawan dengan badan. sekedar nongol kemudian muncul ke posko-posko. Bertanya, apa yang mereka bisa lakukan. Jelas saja relawan beneran bingung. Mereka harus tetap fokus pada situasi yang sudah dikondisikan, sementara mendadak ada relawan yang cuma pasang badan.
Di awal, kehadiran relawan dadakan seperti itu mungkin akan memberikan kebahagiaan. Sadar bahwa tak sedikit orang peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Namun, saat mereka tak mau dikendalikan, sekedar duduk diam tanpa memberikan bantuan, wajar rasanya ketika kemudian setiap bantuan berwujud orang harus menerima penolakan.
Terlebih, kondisi di lapangan kemudian menjadi objek yang pantas untuk dipertontonkan sekedar untuk kesenangan. "Eh, aku udah di atas lho. Serem banget booo...tar deh fotonya aku upload di FB. Kamu tar liat yaaa..." Bikin males tahu. Sementara di lain sisi mereka menggunakan relawan dadakan sebagai alasan. "Aduh, sori, aku lagi di atas, sibuk banget. Tugasnya kamu kerjain dulu ya. Tar aku nyusul" Enak bener ya....
Perlu dicamkan sekali lagi, menjadi relawan tidak hanya perlu badan. Masih banyak hal lain yang harus dilakukan oleh relawan beneran tanpa terganggu oleh relawan dadakan. Masih banyak pengungsi yang harus diamankan tanpa harus terbebani sejumlah relawan dadakan. Relawan yang datang, dan menjadi umpan kepada malaikat maut yang nggak punya belas kasihan.
suka banget tulisan ini ....some of them , jadi relawan mungkin skalian 'jalan2' ....upload foto apapun di fb is a must , even itu foto di daerah bencana ...so that anybody can see that they're there
ReplyDeleteHahaha...i knew what do you mean. Cuma gatel aja kalo liat yang suka teriak-teriak sok relawan hanya untuk terihat hebat, padahal nggak ngapa-ngapain.
ReplyDelete