Skip to main content

Bahkan Shakespeare pun bisa komersil dan idealis

"Shakespeare itu komersil"

Kalimat tersebut keluar begitu saja dari dosen Shakespeare saya, Pak Bakdi Soemanto. Saya yakin, nama beliau cukup terkenal di dunia akademis, khususnya anak-anak sastra. Sebuah jaminan akan analisis sastra yang bukan main-main. Dan ketika kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya kaget.

How can?

Selama ini nama seorang Shakespeare terkenal karena karya fenomenalnya. Othello, Macbeth, dan Romeo Juliet. Semuanya masih tetap dipelajari dan mempengaruhi karya-karya sastra generasi setelahnya. Artinya, nama seorang Shakespeare memiliki kekuatan aspek yang sangat penting. Kritik sosial, keindahan bahasa, dan juga kekayaan imajinasi.

Untuk membuat sebuah naskah drama, Shakespeare seringkali berpergian ke negara-negara yang berbeda hanya untuk mewujudkan sebuah naskah drama. Jadinya nggak heran kalau latar belakang negara dari naskah-naskahnya juga berbeda. Selain itu, ia juga mau belajar dan tidak melupakan kekuatan dari karya-karya sastra sebelumnya. Dalam drama Romeo dan Juliet misalnya, ada chorus di pembukaan babak pertama. Chorus dikenal sebagai salah satu aspek dalam Greek Tragedy. Tetapi ia juga tak sepenuhnya hanyut oleh kekuatan greek tragedy. Greek tragedy mempunyai kelemahan. Bahasanya terlalu serius dan juga diciptakan untuk konsumsi masyarakat kelas atas. Sementara Shakespeare, mempunyai sasaran kalangan kelas menengah ke atas.

Pemilihan bahasa dan plot cerita Shakespeare yang untuk kalangan "bukan" atas tentunya menimbulkan pertanyaan. Mengapa?

Ternyata, di masa beliau, Shakespeare dikenal sebagai seorang sutradara "Ludruk". Kasarannya kaya gitu. Cukup mengejutkan bukan? Sebagai seorang sutradara drama keliling, ia harus bisa membuat sebuah drama yang bisa diterima oleh orang banyak sehingga mampu menghasilkan uang. Orang-orang di zaman itu tak terlalu menganggap kehebatan seorang Shakespeare. Ia baru dianggap hebat beberapa era setelahnya.

Shakespeare hanyalah salah satu contoh dimana idealisme dan komersialisme bisa berjalan seiringan. Tanpa harus terbawa arus dan tetap mampu bertahan untuk menghasilkan uang. Dan ia juga masih dikenang beratus-ratus tahun setelah ia meninggal. Tidak menutup kemungkinan juga, kita bisa sepertinya

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...